Klinik Motivasi

Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 26, 2012

Mereka Punya Jiwa Sendiri

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.


Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.


Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.


Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi.


Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu


Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.


Kaulah busur, dan anak-anakmulahAnak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.


Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

( Khalil Gibran)


note : catatan ini merupakan catatan milist yg di share dan dijadikan status oleh seorang seorang teman yang kemudian saya share lagi dan sengaja saya abadikan dalam note saya :)

Senin, April 11, 2011

Berdamai dengan Takdir

Kulihat wajahnya begitu lelah. Seolah dia memikul beban yang sangat berat. Ayam kremes dan nasi lalapan kesukaannya hanya diaduk-aduknya dengan sendok. Tanpa keinginan untuk melahapnya. Dengan bibir gemetar, dia berkata,”Kak .. kakak tau kan perasaanku seperti apa saat ini ? Sakit .. Kak ! Kali ini bahkan lebih sakit .. sangat sakit !” Sesaat dia menghela nafas dan melanjutkan perkataannya ”Seperti luka lama yang terbuka kembali. Perih ! Aku tidak tau kenapa Alloh mengujiku dua kali dengan kejadian yang sama .. Satu kali sudah cukup. Kenapa harus dua ? Alloh betul2 tidak adil !”


Aku tersentak mendengar perkataannya. Dengan cepat ku minta dia istigfar. ”Astagfirullah .. adek tidak boleh bicara seperti itu. Bukankah selama ini kita percaya apa yang diberikan Alloh yang terbaik buat kita ? Tetaplah percaya ! Karena keterbatasan kita, kita belum dapat mengetahui hikmah apa di balik ujian ini. Tapi yakinlah !” Aku tidak ingin dia menyalahkan takdir.

Aku menatap Aimee. Dia telah kuanggap bagai adikku sendiri. Meskipun kami telah berkenalan beberapa tahun yang lalu. Baru sekitar dua tahun terakhir ini kami lebih intens berkomunikasi. Mungkin karena baru dapat chemistrynya. Di dekatnya aku selalu mendapatkan energi positif. Begitupun sebaliknya, Aimee merasakan hal yang sama. Kami berbicara tentang rencana masa depan, impian-impian dan menertawakan kebodohan yang dilakukan. Tidak ada satupun penentangan ke luar dari mulut kami. Yang ada justru saling mendorong menggapai impian dan memberikan masukan untuk langkah yang terbaik. Bersamanya, aku merasa kembali menjadi normal :)

Namun, Aimee manusia biasa. Sama sepertiku. Ada saat semangat itu menjadi kendor. Ada saat optimisme hilang entah kemana. Ada saat rapuhnya jiwa menampakkan diri. Saat itulah yang sedang terjadi di sini ... Aimee baru saja mendengar kabar adik perempuannya memutuskan akan menikah. Padahal dia dan ”pacar”nya masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu sekolah tinggi swasta di Banjarmasin. Aimee sudah memintanya untuk menunda rencana itu. Namun adiknya tetap bersikeras. Status pengangguran calon suaminya tidak menghalangi rencana mereka. Toh, orang tua ”pacar”nya termasuk keluarga menengah ke atas. Untuk beberapa lama, mereka mampu membiayai kehidupan anak dan calon menantunya. Sementara si suami akan berusaha mendapatkan pekerjaan untuk menafkahi istrinya.

Aku kembali menatapnya,” Dek .. Bukankah kamu pernah mengalami hal ini ? Bukankah setahun yang lalu adik perempuan keduamu juga menikah ? Kalau saat itu kamu bisa kuat .. kenapa sekarang tidak ?” tanyaku.

Aku tidak ingin dia menyalahkan takdir. Aku juga tidak ingin dia menyalahkan Tuhan. Yang aku ingin Aimee benar-benar menjadi wanita tegar dan hebat ! Tegar menjalani kehidupan. Hebat ketika menghadapi ujian. Aku sadar ini tidaklah mudah ! Aku sendiri juga mengalaminya. Tiga tahun yang lalu, adik perempuanku juga memohon restu kepadaku untuk menikah. Aku sadar cepat atau lambat permintaan ini akan datang. Di saat usiaku sudah cukup dewasa, aku tetap memilih menjadi perempuan lajang. Bukan karena tidak laku. Beberapa laki-laki serius menyatakan keinginannya agar aku bersedia menjadi pendamping hidupnya. Namun beberapa kali juga kisah itu akhirnya kandas di tengah jalan. Mungkin itu yang dikatakan orang, belum jodohnya !

Mendekati hari pernikahan adikku, hatiku kian berkecamuk. Antara bahagia dan kecewa. Antara senang dan sedih. Sangat sulit manata hati saat itu. Apalagi ketika malam hari pas ijab qabul. Kebahagiaan memancar dari wajahku, keluarga dan para undangan. Namun saat itu juga ada perih luka kecil menyusup di relung hatiku. Perlu usaha ekstra keras untuk membuat diriku merasa nyaman dalam kondisi tersebut. Apalagi dengan orang-orang sekitar yang tidak mau mengerti. Bertanya itu dan ini. Malah ada yang menyalahkan. Dibilang terlalu milih-milih dan banyak maunya. Masya Alloh ! Aku hanya bisa tersenyum menghadapi semua itu. Aku mengerti apa yang mereka lakukan adalah salah satu bentuk kepedulian terhadapku. Kasih sayang memang tidak selalu ditunjukkan dengan cara yang manis. Aku yakin jalan yang kupilih ini adalah yang terbaik bagiku dan keluargaku. Dan yang lebih penting lagi orang tuaku mengerti dan memahami keputusanku.

Energi ini juga yang kubagi bersama Aimee. Saat pertama kali dia mengalami hal yang serupa denganku. Dilangkahi adik perempuan keduanya. Seperti itu juga sekarang, aku berusaha melipatgandakan energi positif ini kepadanya. Namun ternyata masih belum cukup. Aimee masih belum bisa menerima kenyataan ini. Ayam kremes dan nasi lalapan kesukaannyapun hanya sedikit dimakannya sebelum akhirnya kamipun meninggalkan rumah makan favorit kami. Kembali ke kos kami masing2.

-------------- 0000000 -------------

Hampir seminggu kami tidak saling berkomunikasi. Tidak menelpon dan sms seperti hari-hari biasanya. Aku sengaja melakukannya. Untuk memberikan ruang dan waktu agar dia dapat berpikir lebih dalam lagi. Merenungi kejadian ini. Mencari hikmah apa yang tersembunyi di baliknya. Meskipun kekhawatiran akan dirinya juga membayangi benakku. Namun aku percayakan semuanya kepada Alloh. Memohon kepada-Nya agar menjaga Aimee. Karena memang Dia sebaik-baiknya penjaga.

Sore itu, hpku berbunyi. Rupanya ada sms yang masuk. ”Kak, malam ini ada di kos ngga ? aku mau kesana.” Segera kubalas sms Aimee. ”Ya, kakak tunggu”.

Aimee menepati janjinya. Setelah magrib diapun tiba di kosku. Kami terlibat pembicaraan yang hangat. Aimee bercerita tentang beberapa perumahan yang dia tangani. Iya, dia marketing sebuah perusahaan property di Liang Anggang. Dua puluh kilometer dari Banjarmasin. Jarak itu harus dia tempuh setiap hari dengan sepeda motornya. Sungguh sangat melelahkan ! Namun bagi Aimee, hal itu bukanlah suatu hambatan. Dia lakukan ini demi keluarganya. Bapaknya meninggal ketika Aimee masih duduk di bangku SMA kelas I. Ibunya seorang guru tidak mampu memenuhi kebutuhan ke empat anak perempuannya. Keputusan beratpun diambil. Aimee harus berpisah dengan ibu dan ketiga adiknya. Hidup bersama nenek yang menanggung biaya makan dan bayar sekolah. Sedangkan untuk kebutuhan sekunder lainnya, Aimee penuhi dengan bekerja sebagai guru ngaji dan guru privat bahasa Inggris. Begitupun ketika dia menginjak perguruan tinggi. Dia kuliah sambil bekerja. Bakat bisnisnya semakin terasah di sini. Jualan kue, makan ringan yang dibuatnya sendiri, dan sebagainya. Dia lakukan pekerjaan apa saja. Yang penting halal.

Setelah Aimee lulus kuliah. Diapun ikut tes CPNS di Departemen Luar Negeri. Dan berhasil menjadi salah satu kandidat dari dua orang yang dipanggil ke Jakarta. Peluangnya 50 : 50. Namun sayang, nasib baik belum berpihak kepadanya. Teman kuliahnya yang akhirnya mendapatkan pekerjaan itu. Aimee sempat down. Akupun dapat mengerti perasaannya. Kembali momen indah itu hadir. Saat kami berbagi energi positif dan saling menguatkan satu sama lain.

Akhirnya dia menemukan pekerjaannya yang sekarang. Aimee bertekad membiayai adik-adiknya sampai mereka lulus menjadi sarjana. Itulah salah satu sebabnya dia sangat kecewa dengan keputusan adik perempuannya yang ketiga untuk menikah. Aimee khawatir adiknya tidak bisa membagi waktu antara kuliah dan keluarga.

Namun aku menyimpan sebuah tanda tanya besar. Aku merasakan ada sesuatu yang Aimee sembunyikan. Dan sepertinya Aimee membaca pikiranku.

Lirih dia berkata,”Kak .. benar kata kakak. Sakit ini bukan berasal dari keputusan menikah adikku. Perih ini juga bukan karena aku dilangkahi untuk kedua kalinya. Kalau cuman seperti itu kejadiannya. Aku yakin aku bisa menghadapinya. Seperti keyakinan kakak padaku selama ini. Namun kali ini memang berbeda. Aku sangat kecewa dengan keputusan adikku karena ........” Aimee diam sesaat. Sepertinya dia sangat berat mengatakannya. Akupun diam. Tak ingin juga mendesaknya. Biarlah dia yang memutuskannya apakah melanjutkan perkataannya atau tidak. Dan pilihannya adalah ..........

”Aku sangat kecewa ... adikku harus menikah karena telah hamil ! Dua bulan .. kak ! Aku sangat marah mendengar hal ini. Teganya dia mengkhianati kepercayaanku. Aku bersusah payah membantu dia agar dapat menimba ilmu di perguruan tinggi. Namun dia malah bergaul bebas dengan pacarnya. Harga diriku tercoreng. Aku merasa gagal sebagai seorang kakak. Harusnya aku melindungi adik-adikku. Harusnya aku menjaga nama baik keluarga. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ibuku sekarang. Mungkin lebih sakit dariku. Namun dalam kasus ini, aku merasa paling bersalah!”

Airmata kesedihan itu tidak mampu juga dibendungnya. Meskipun dia sudah berusaha menahannya. Aku tersentak kaget. Terjawab sudah kegelisahan hatiku. Terungkap sudah alasan apa dibalik kekecewaan Aimee selama ini. Sesuatu yang berat. Akupun mungkin melakukan hal yang sama jika mendapatkan ujian seperti itu. Itulah sebabnya kenapa aku mengizinkan adikku melangkahiku untuk mencegah terjadinya fitnah seperti ini !

Hp Aimee berdering. Dia mengangkat kemudian mengobrol dengan orang di sana. Setelah beberapa menit pembicaraan berakhir. Tanpa kuminta Aimee menjelaskan bahwa yang menelpon tadi adalah tantenya. Beliau khawatir karena Aimee belum pulang ke kosnya. Dengan masalah seperti ini, tentu Aimee yang paling banyak mendapatkan perhatian. Hem .. ternyata semua sayang kamu kan ????

---------------- 00000 -------------------

Sebulan telah berlalu. Hari itu, Aimee berkunjung lagi ke kosku. Dengan wajah ceria dia bercerita tentang impian yang ditulisnya di buku harian. Rinci dan mendetil. Satu pelajaran yang kami dapatkan ketika mengikuti training sebulan yang lalu. Tampaknya Aimee sudah berdamai dengan takdir. Dan seperti biasa kami terlibat pembicaraan yang seru tentang rencana masa depan, impian-impian dan menertawakan kebodohan yang telah kami lakukan.

Beberapa jam kemudian, Aimee pamit. Dia beranjak dari tempat duduknya. Aku juga. Kami bersalaman. Aimee melangkah ke luar dengan mantap. Semantap dia menapaki masa depannya, meraih harapan yang terpatri di hatinya dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Life must go on .. Semoga Alloh swt memudahkan langkah kita .. Amin ya Rabb :)

*baru belajar bikin cerita mini (cermin) (Dini)

Senin, November 16, 2009

Arti Kehadiran

Hujan deras mengguyur Banjarmasin saat aku menulis artikel ini. Seharusnya sekarang jadwalku siaran. Namun guntur dan petir menggelegar silih bergantian, membuat kami untuk mematikan pemancar. Khawatir kena sambar petir .. bisa bahaya tuh !! Sambil mengisi waktu luang, kuambil laptopku dan segera menekan tuts yang terdapat di keyboard.


Diawali dengan sebuah cerita tentang seorang laki-laki yang pergi ke luar negeri. Dia bekerja disana dan terpaksa meninggalkan gadis tunangannya yang menangis tersedu-sedu.

"Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari", katanya.

Selama bertahun-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya. Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk pulang dalam waktu dekat.

Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan segera menikah. Ayo tebak .. kira-kira dengan siapa ya ? Ternyata jawabannya adalah dengan tukang pos yang tiap hari mengantar surat yang dia tulis. Rupanya jarak pemisah telah membuat hati kekasihnya tadi berubah.

Lelaki malang itu merenung.
"Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat², coklat, dan bahkan bunga²".

Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang² yang telah diberikan atau hal² yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba² muncul untuk dipermasalahkan. Kita akan berkata: "Saya telah memberimu ini dan itu ... Saya telah melakukan semuanya demi kamu".

Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian hadiah² dan perbuatan baik. Namun, walaupun hadiah² itu penting juga, cinta memerlukan hal yang mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai.

Rabu, Oktober 21, 2009

Aku Menangis Untuk Adikku 6 Kali

Cerita ini aku share untuk mengingatkan kita akan arti cinta dan kasih sayang, dan aku pun menangis berulang kali ketika membaca cerita ini


***************************************************************************

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?"

Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...

Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.

Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?

Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu,
adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.

"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.

Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.

Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.
Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.

Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"

*sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=172386801784