Klinik Motivasi

Tampilkan postingan dengan label Seputar Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 25, 2010

Ramadhan : Bulan Kemenangan

Ramadhan memang bulan penuh berkah. Selain puasa yang kita kerjakan mendapatkan balasan khusus dari Alloh swt, amal2 sholeh lainnya pun akan dibalas dengan kebaikan berlipat ganda. Itu sebabnya umat Islam begitu antusias memanfaatkan bulan ini dengan berbagai kegiatan. Perut boleh keroncongan menahan lapar, tenggorokan boleh terasa kering tak dialiri air, tapi semangat untuk melakukan aktivitas mulia harus tetap menyala.


Sebagian program acara berubah, menyesuaikan dengan bulan Ramadhan. Termasuk di bulan ini, aku dapet program motivasi dan mutiara Ramadhan setiap jam 12.00-13.00 wita. Serangkaian materi sudah kusiapkan jauh-jauh hari. Inginku .. bukan hanya aku yang termotivasi namun juga yang mendengarkanku siaran mudah2an juga terinspirasi.

Malem tadi, aku kembali baca2 materi yang telah kusiapkan untuk siang ini. Bercerita tentang beberapa peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan. Sebagian peristiwa ini bahkan turut andil mengantarkan umat Islam menuju kemenangan.

Salah satunya Perang Badar Al-Kubra yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 H. Menurut Ibnu Hisyam, perang Badar ini merupakan kemenangan perdana yang menentukan posisi kekuatan kaum muslimin dalam menghadapi kekuatan kaum musyrikin. Bahkan Alloh swt telah memimpin langsung peperangan tersebut sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Anfal ayat 17. Alloh swt juga meruntuhkan mental orang2 kafir hingga timbul rasa takut yang amat sangat diantara mereka dan mengutus sepasukan malaikat untuk meneguhkan kaum muslimin dan menghancurkan pasukan kaum kafir. Hal ini tergambar dalam firman-Nya : QS Al-Anfal ayat 12.

Pada pertempuran di bulan Ramadhan ini, 313 tentara kaum muslimin berhasil meluluh-lantakan 1000 pasukan kaum kafir Quraisy. Bahkan Abu Jahal bin Hisyam al-Makhzumi dan Abu Lahab al-Hasyimi, dua dari tiga "AB three" zaman Rasul itu tewas mengenaskan. Sedangkan Abu Sofyan selamat dan masuk Islam saat peristiwa Futuhat Makkah enam tahun kemudian.

Al-Maqrizi dalam kitabnya Imta'al Asma menghitung bahwa jumlah petinggi kaum kafir Quraisy yang binasa dalam pertempuran itu sebanyak 27 orang dan yang tewas setelah perang sekitar 20 orang.

Selain perang Badar, banyak lagi peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan ini, antara lain Futuhat Makkah yang terjadi pada 21 Ramadhan 8 H. Penaklukan kota Mekkah ini dilakukan penuh damai. Berhala 'Uzza, Suwa' dan Manath dihancurkan oleh para sahabat, digantikan dengan kalimat tauhid yang berkumandang di angkasa Mekkah al-Mukarramah dan kota itupun masuk ke pangkuan Islam. Kemudian penaklukan Andalusia - Spanyol oleh panglima Thariq bin Ziyad bersama armada tempurnya yang berjumlah 7000 pasukan di bulan Ramadhan 92 H atau kemenangan yang didapatkan Shalahuddin al-Ayyubi atas pasukan kaum salib Eropa dan Palestina akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Ini terjadi pada bulan Ramadhan 584 H.

Subhanallah .. malu rasanya jika bercermin dengan apa yang dilakukan oleh Rosulullah bersama para sahabat. Dalam keadaan berpuasa, mereka tetap semangat dalam beraktivitas bahkan berperang dan berjihad fii sabilillah.

Termotivasi dengan cerita di atas, aku pun kembali bersemangat. Pagi2 tiba di kantor .. dapet tugas mendadak. Segeralah aku kirim sms nanya2 tentang tugas tersebut kepada yang lebih berkompeten. Tahun kemarin bukan aku yang ngurusin hal ini. Alhamdulillah .. beberapa pertanyaan dan jawaban sms plus nyari2 arsip tahun kemarin, akhirnya tugas ini selesai juga. Tinggal nunggu hasilnya .. mudah2an sukses THR tahun ini sumbernya bisa lebih banyak lagi .. hah ?!? Ngga nyambung yach @*&^%($# (Dini)

Sabtu, September 19, 2009

Tuntunan Sholat Ied

Ngga terasa sebentar lagi mo lebaran, udah seharusnya kita nyiapin diri untuk menyambut hari yang fitri tersebut dengan seoptimal mungkin. Kebanyakan orang Indonesia seringnya disibukkan dengan persiapan baju baru, makanan, mudik, THR dll, ya sebenernya engga salah banget sih cuma jangan sampai prioritas berubah, karena kewajiban kita di dunia ini adalah ibadah, so jangan sampe persiapan ibadah kamu gatot (gagal total) gara-gara mikirin hal-hal yang tidak perlu. Nah untuk menyegarkan lagi ingatan kita untuk mempersiapkan diri ber-lebaran, yuk simak tuntunan ringkas untuk sholat idul fitri.


Landasan Hukumnya

Sebelum mulai pembahasan yang panjang dan lebar (luas kaliiii) kita kudu tahu dulu landasan hukumnya sholat Ied, hari Raya ‘Idul Fithri disyariatkan pertama kali pada tahun awal Hijriyah. Dasarnya adalah seperti yang dilapor kan oleh Anas R.A: “Adalah mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari raya, hari dimana mereka bermain dan bergembira, sampai Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Rasulullah SAW bertanya: Apakah tujuan dan arti dua hari ini ? Mereka menjawab; pada zaman jahiliyah dulu kami bermain pada dua hari raya ini. Rasulullah SAW seraya berkata Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan hari Raya yang lebih baik, yakni hari raya “‘Idul Fithri” dan hari raya “‘Idul Adhha” (HR. Nasa’I – Ibnu Hibban).

Hukum shalat ‘idul fithri adalah sunnah muakadah, yaitu sunnah yang sangat dipelihara dan dianjurkan banget oleh Rasulullah SAW. Dasar yang menunjukkan atas disyariatkannya shalat ‘Idul Fithri, antara lain:
• Al-Qur’an surat al Kautsar ayat 2.
• Hadits mutawatir bahwa Rasulullah SAW shalat ‘Idul Fithri yang pertama pada tahun kedua hijriyah, sebagaimana dilaporkan oleh Ibnu Abbas (HR. Bu khori-Muslim).
• Ijma’ Ulama’, Para ulama dan kaum muslimin telah berijma’ tetap disyariatkannya shalat ‘Idul Fithri.

Waktu shalat ‘Idul Fitri

Para ulama sependapat bahwa waktu shalat ‘idul fithri dimulai sejak terbit matahari 1 Syawwal hingga sebelum zawal (dzuhur), seperti waktu shalat dhuha. (HR.Ahmad). Di sunnahkan agar menyegerakan shalat ‘Idul Adhha dan mengakhirkan sedikit shalat ‘Idul Fithri. (HR. Syafi’i). Hikmahnya untuk shalat ‘idul adhha agar waktu menyembelih hewan qurban lebih panjang. Sedang untuk ‘idul fithri agar waktu menyalurkan zakat lebih luas.
Kalo kita engga tahu hari Id tapi terima kabar yang menyakinkan bahwa sudah masuk 1 syawal cuma terima kabarnya ba’da Dzuhur maka shalat Id dikerjakan pada keesokan paginya. Pendapat ini dilandaskan pada riwayat Abu Daud 1157, An-Nasa’i 3/180 dan Ibnu Majah 1653 telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang termasuk sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal (bulan tanggal satu) kemarin, maka Nabi memerintahkan mereka untuk berbuka pada saat itu dan pergi ke mushalla (sholat Ied) keesokan paginya”

Shalat Idul Fitri tanpa Azan dan Iqamah

Sholat Ied engga pake Adzan atau Iqamah, hal ini dilandaskan pada riwayat Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata :
“Artinya : Aku pernah shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari sekali dua kali, tanpa dikumandangkan azan dan tanpa iqamah” [Riwayat Muslim 887, Abu Daud 1148 dan Tirmidzi 532]
Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu ‘anhum berkata :
“Artinya : Tidak pernah dikumandangkan azan (untuk shalat Id -pent) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha” [Riwayat Muslim 887, Abu Daud 1148 dan Tirmidzi 532]

Tempat Shalat ‘Idul Fithri

Para ulama sepakat bahwa tempat shalat ‘idul fithri untuk Makkah, yang afdlol dilaksana kan di masjid Al Haram. Dan untuk luar Makkah, ada dua pendapat:
• Jumhur ulama’ (kebanyakan ulama’) melihat bahwa yang afdlol dilaksanakan ditanah lapang (bukan masjid), kecuali dalam keadaan dorurot atau ada udzur syar’I seperti hujan, maka dilaksanakan di masjid, seperti yang dilaporkan Abu Hurairah (HR. Abu Daud dan Al Hakim).
• Asy-Syafi’iyah, melihat bahwa pelaksanaan shalat ‘Idul Fithri lebih afdlol di masjid, sebab masjid adalah tempat yang paling mulia. Kecuali apabila masjidnya sempit, maka yang afdlol di tanah lapang kalau ada, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (HR. Bukhori – Muslim).

Konklusinya, tanah lapang (kalau ada), masjid bahkan musholla (kalau tidak ada tanah lapang atau tidak ada masjid, atau ada tetapi menyulitkan), dapat ditempati untuk shalat ‘idul fithri. Dengan tetap menjaga prinsip ukhuwwah, dan menyadari bahwa kita berada dalam sua sana hari raya ‘idul fithri, masalah ini tidak perlu dibesarkan, yang menjadi masalah adalah kalau tidak shalat ‘idul fithri.

Tata Cara Shalat ‘ Idul Fithri

Shalat ‘Idul Fithri terdiri dari dua rakaat. Syarat dan rukun shalat ‘id mengikuti syarat dan rukun shalat wajib. Setelah takbiratul ikhram dan sebelum membaca al Fatihah pada ra kaat pertama, disunnahkan membaca takbir sebanyak tujuh kali takbir. Dan pada rekaat kedua lima kali takbir, tidak termasuk takbir ketika bangkit dari sujud (rakaat pertama) ke rakaat kedua (takbirotul qiyam), dengan mengangkat kedua tangan setiap takbir, sebagaimana dilaporkan Amar bin Syuaib (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud dan Daru quthni).

Apabila telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain membaca surat Al-Qamar, Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca surat Al-A’la dan surat Al-Ghasyiyah (Ibnul Qoyim – Zaadul Ma’ad)

Khutbah ‘Idul Fithri

Pelaksanaan khutbah ‘Idul Fithri yaitu setelah shalat ‘Id seperti dilaporkan oleh Ibnu Umar dan Abu Said (HR. Bukhori-Muslim). Hukum khutbah ‘Idul Fithri dan mendengarkannya adalah sunnat (tidak wajib), seperti yang dilaporkan oleh Abdullah bin As Said (HR. An Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Majah). Dan yang paling afdlol mengikuti seluruh rangkaian shalat/khutbah ‘Idul Fithri dari awal sampai akhir. Dan seperti pada shalat jum’at, khutbah ‘Idul Fithri terdiri dari dua khutbah.
Shalat Qobliyah dan Ba’diyah
Tidak ada satu riwayatpun yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW dan shahabatnya mengerjakan shalat sunnat qobliyah dan ba’diyah pada waktu shalat ‘Idul Fithri. (HR. Ja ma’ah dari Ibnu Abbas), kecuali kalau shalat ‘Idul Fithri dilaksanakan di masjid, maka tetap disunnatkan shalat tahiyyat al masjid.

Hal-hal yang disunnahkan pada Waktu Hari Raya

• Mengisi malam ‘Idul Fithri dengan ibadah dan taqorrub kepada Allah, seperti dzkir, shalat, qiroatul Qur’an, tasbih, istighfar dan sebagainya. Dan yang lebih afdlol, menghidupkan malam ‘Id semalam suntuk, seperti dilaporkan ubadah bin Shamit (HR. Ath Thobari dan Daru Quthni), tentunya kalau kuat,tanpa mengorbankan ibadah-ibadah wajib seperti, shalat isya’ dan shalat subuh, tepat pada waktunya dengan berjama’ah. Menghindari mengisi malam-malam ‘Idul Fithri dengan acara hura-hura, takbiran sambil menabuh beduk yang justru mengganggu (tidak khusyuk), memutar kaset takbiran sementara orangnya tidur dan lain-lain, yang bertentangan dengan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW .

• Menghidupkan sunnah takbiran semenjak terbenam matahari akhir Ramadhan hingga berangkat ke tempat shalat ‘id sampai kemudian shalat ‘id dilaksanakan dengan lafal, al: “Allaahu Akbar (3x), La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu”. Mandi (HR. Ibnu Majah), memakai wangi-wangian (parfum) (HR. Baihaqi), bersiwak (menggosok gigi),memakai sebaik-baik pakaian. Bersegera (berpagi-pagi) menuju tempat shalat ‘Idul fithri, dengan tenang, dan penuh ketulusan. Dan lebih afdlol kalau berjalan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, seperti dilaporkan oleh Ali bin Abi Tholib (HR. Tirmidzi).
• Makan (sarapan) sebelum berangkat shalat ‘Idul Fithri, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (HR. Bukhori)
• Membayar zakat fitrah sebelum berangkat shalat ‘Idul Fithri (batas akhir pembaya ran zakat fitrah). Sekalipun zakat fitrah boleh saja dibayar beberapa hari sebelum ‘Idul Fithri. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Daraquthni, al Hakim)
• Bergembira dan menggembirakan sesama muslim dan lebih mempererat tali ukhuwah diantara kaum muslimi. Disunnahkan juga agar jalan ketika pergi dan jalan ketika pulang tidak sama. Seperti yang dipraktekkan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang dilaporkan Jabir (HR. Bukhori).

‘Idul Fithri bagi kaum wanita dan anak-anak

Sebagaimana halnya kamu pria, kaum wanita dan anak-anak pun disunnatkan menghadiri shalat ‘Idul Fithri. Begitu pula halnya orang-orang tua, gadis-gadis perawan, wanita-wa nita haidh dan nifas. Seperti dilaporkan oleh Ummu Athiyah (HR. Bukhori – Muslim). Adalah Rasulullah SAW keluar bersama istri-istri dan putri-putrinya untuk melaksanakan shalat ‘Idul Fithri dan mendengarkan khuthbah (HR. Ibnu Majah & Baihaqi dan Ibnu Abbas). Adapun untuk wanita haidh dan nifas, cukup mendengarkan khuthbah, tidak perlu ikut shalat.

Bergembira pada Hari Raya ‘Idul Fithri

Umat Islam disunnatkan agar bergembira dan menggembirakan orang lain pada hari raya ‘Idul Fithri. Dengan memakai pakaian yang terbaik (bukan selalu berati yang terbaru!), sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmatNya, makan minum yang halal dan tidak isrof (berlebihan), saling ber jabat tangan (kecuali antara pria dan wanita yang bukan muhrim), saling menziarohi, sa ling memberi (mengirim) ucapan selamat (berma’af ma’afan), dan saling bertukar hadiah dalam batas-batas yang wajar. Hal ini menunjukkan hikmah ajaran Islam yang selalu menjaga keseimbangan (tawazun).
Namun demikian sifat berlebih-lebihan dalam berbagai hal tetap tidak dibenarkan oleh Islam, sekalipun pada hari raya ‘Idul Fithri. Hadits riwayat An Nasa’i di muka menunjukkan adanya alternatif yang diberikan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Allah telah menggan tikan dua hari raya jahiliyah. Hal ini mengisyaratkan bahwa ‘Idul Fithri harus jauh dari nilai-nilai jahiliyah dan harus berfungsi sebagai rasa syukur kepada Allah, dan penegasan kembalinya kita kepada fithrah.

Closing

Umat Islam hendaknya berupaya melestarikan nilai-nilai dan amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dibina selama sebulan penuh, diantaranya dengan melaksanakan puasa sunnah selama 6 hari pada bulan Syawwal. ok deh semoga bermanfaat. [disadur dari milis DT]

http://www.facebook.com/note.php?note_id=157556205866&ref=nf

Doa dan Munajat di Malam Idul Fitri

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

1) Ya Allah, wahai Dia yang tidak mengharapkan balasan

2) Wahai Dia yang tidak menyesali pemberian

3) Wahai Dia yang tidak membalas dengan setimpal


4) Anugerah-Mu permulaan, ampunan-Mu kebaikan, siksa-Mu keadilan dan
ketentuan-Mu sebaik-baiknya pilihan

5) Jika Engkau memberi Engkau tidak memcemari pemberian-Mu dengan tuntutan. Jika Engkau menahan Engkau tidak menahan pemberian-Mu dengan kezaliman

6) Kausyukuri orang yang bersyukur kepada-Mu, padahal Kauilhamkan padanya untuk mensyukuri-Mu

7) Kaubalas orang yang memuji-Mu, padahal Kau ajarkan padanya untuk memuji-Mu

8) Kau sembunyikan aib orang yang kalau Kau kehendaki, tentu Kau dapat mempermalukannya. Kau sangat pemurah kepada orang yang kalau Kau kehendaki, tentu Kau
dapat menahannya Keduanya layak Kaupermalukan atau Kautahan, namun Kautegakkan perbuatan-Mu di atas karunia, dan Kaualirkan kuasa-Mu di atas ampunan.

9) Kausambut orang yang menentang-Mu dengan santun Kaubiarkan orang yang berbuat zalim pada dirinya Kautunggu mereka dengan sabar sampai kembali kepada-Mu. Kautahan mereka untuk tidak segera bertaubat supaya yang binasa tidak binasa karena-Mu yang celaka tidak celaka karena nikmat-Mu tetapi hanya setelah Engkau lama membiarkan mereka dan setelah Kausempurnakan rangkaian bukti atas mereka sebagai kemurahan ampunan-Mu wahai Yang Maha Pemurah sebagai anugerah kelembutan-Mu wahai Yang Maha Santun.

10) Engkaulah yang membukakan kepada hamba-hamba-Mu pintu menuju maaf-Mu. Kaunamakan pintu itu taubat Kau berikan petunjuk dari wahyu-Mu ke arah pintu itu Supaya mereka tidak tersesat dari situ Engkau berfirman(Mahamulia nama-Mu): Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus mudah-mudahan Tuhan-Mu akan menghapus kesalahanmu dan masukkan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.

11) Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan disebelah kanan mereka seraya mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sempurnakan bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami Sungguh, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu." (At-Tahrim: 8)
Apa lagi alasan orang yang alpa memasuki rumah itu setelah pintu dibukakan dan petunjuk ditegakkan

12) Engkau yang menambah harga untuk hamba-hamba-Mu. Kau ingin mereka berlaba dalam berdagang dengan-Mu, dan beruntung berkunjung kepada-Mu, maka Engkau berfirman (mahamulia dan mahatinggi nama-Mu): "Barangsiapa yang membawa amal yang baik, maka
baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan kecuali seimbang dengan kejahatannya." (Al-An'am: 160)

13) Engkau berfirman: "Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap seratus biji, Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." (Al-Baqarah: 261). Engkau berfirman: "Barangsiapa yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Allah akan melipagandakan baginya berkali-kali lipat." (Al-Baqarah: 245). Dan ayat-ayat seperti itu dalam Al-Qur'an tentang kebaikan yang dilipatgandakan.

14) Engkaulah yang menunjuki mereka dengan firman-Mu dari kegaiban-Mu, dan dorongan-Mu yang di dalamnya keberuntungan pada apa yang sekiranya Kau tutupkan dari mereka, mata mereka tidak akan melihatnya, telinga mereka tidak akan mendengarnya, khayal mereka tidak akan menangkapnya. Maka Engkau berfirman: "Ingatlah Aku, niscaya Aku akan ingat kamu, bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kafir." (Al-Baqarah: 152)
Engkau juga berfirman: "Jika kamu bersyukur, sungguh Aku akan tambah kamu; jika kamu kufur, sungguh azab-Ku berat." (Ibrahim: 7)

15). Engkau berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku akan ijabah doamu, sungguh orang-orang yang sombong dari ibadah kepada-Ku, mereka akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina." (Al-Mu'min: 60)

16) Sehingga Mereka mengingat-Mu karena karunia-Mu. Mereka bersyukur kepada-Mu karena anugrah-Mu. Mereka menyeru-Mu karena perintah-Mu. Mereka bersedekah demi-Mu karena mengharapkan tambahan-Mu. Di situ keselamatan mereka dari murka-Mu dan kebahagiaan mereka dengan ridha-Mu

17) Sekiranya ada makhluk yang menunjukkan makhluk lain seperti Engkau tunjukkan kepada hamba-hamba-Mu pastilah dia akan disifati dengan kebaikan, akan digambarkan dengan kedermawanan, akan disanjung semua lisan. Bagi-Mu segala pujian, selama masih ada cara untuk memuji-Mu, selama masih ada kata sanjungan untuk menyanjung-Mu, selama masih ada makna yang dapat diungkapkan untuk memuja-Mu

18) Wahai Dia yang menampakkan kelayakan dipuji dengan kebaikan dan karunia dan mencurahkan kepada mereka nikmat dan anugrah. Betapa banyaknya nikmat yang Kau sebarkan kepada kami Betapa banyaknya nikmat yang Kau berikan kepada kami. Betapa istimewanya kebaikan yang Kau limpahkan kepada kami

19) Kau tunjukkan kami pada agama-Mu yang Kaupilih pada millah-Mu yang Kau ridhai
pada jalan-Mu yang Kau mudahkan. Kau tampakkan pada kami kedekatan pada-Mu dan kedatangan pada kemurahan-Mu

20) Ya Allah, di antara pilihan kewajiban kewajiban itu dan yang paling istimewa dari kewajiban itu. Engkau jadikan bulan Ramadhan yang Kauistimewakan ia dari semua bulan. Kau pilih ia dari semua zaman dan masa Kau utamakan ia dari semua waktu-waktu dalam setahun dengan Al-Qur'an dan cahaya yang Kau turunkan di dalamnya dengan malam Al-Qadar yang lebih baik dari seribu bulan yang Kau agungkan di dalamnya

21) Kemudian Kau istimewakan kami dari semua ummat dengan keuntungannya Kau pilih kami, tidak pengikut agama yang lain. Maka berpuasa di atas perintah-Mu pada waktu siangnya. Kami lakukan qiyamul layl dengan bantuan-Mu pada malam harinya. Mempersembahkan diri kami dengan puasa dan shalat malamnya kepada kasih-Mu yang telah Kau tampakkan pada kami. Melalui itu, kami dapat memperoleh pahala-Mu. Engkau Maha Memiliki dengan apa pun yang diinginkan dari-Mu. Engkau Maha Pemurah dengan apa yang diminta dari karunia-Mu. Engkau Maha Dekat dengan orang yang berusaha mendekati-Mu

22) Bulan ini telah hadir di tengah-tengah kami dengan kehadiran yang terpuji telah menemani kami dengan persahabatan yang sejati telah menguntungkan kami dengan keuntungan yang terbaik di seluruh alam.Tiba-tiba ia meninggalkan kami pada akhir waktunya pada ujung jangkanya, pada kesempurnaan bilangannya

23) Kami ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya selamat tinggal kepada dia yang menyedihkan perpisahannya yang merisaukan dan mendukakan kami kepergiannya untuknya kami punya janji yang dijaga, kesucian yang diperihara, hak yang dipenuhi. Kami sampaikan kepadanya: salam bagimu wahai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya

25) Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan. Wahai waktu termulia yang menyertai kami
wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat.

26) Salam bagimu, bulan yang di dalamnya harapan didekatkan, amal disebarkan

27) Salam bagimu, sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai dan paling menyedihkan ketika ditinggalkan kawan yang ditunggu yang menyedihkan perpisahannya

28) Salam bagimu, kesayangan yang datang membuat gembira dan bahagia yang meninggalkan kesepian dan dukacita.

29) Salam bagimu, Tetangga yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang

30) Salam bagimu, penolong yang membantu kami menghadapi setan dan memudahkan kami jalan-jalan kebaikan

31) Salam bagimu, betapa banyaknya orang yang terbebas di dalammu betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu karenamu

32) Salam bagimu, betapa banyak dosa yang kau hapuskan, betapa banyak aib yang kau tutupi

33) Salam bagimu, betapa panjang hari-harimu bagi pedosa, betapa agung kamu bagi orang beriman.

34) Salam bagimu, bulan yang tak tertandingi hari-hari mana pun

35) Salam bagimu, bulan yang sejahtera segalanya

36) Salam bagimu, duhai yang persahabatannya tidak dibenci, duhai yang pergaulannya tidak tercela

37) Salam bagimu, sebagaimana kau datang kepada kami membawa berkah dan kau bersihkan kami dari noda kesalahan

38) Salam bagimu, duhai yang dicari sebelum waktunya, duhai yang ditangisi sebelum kepergiannya

39) Salam bagimu, betapa banyaknya kejelekan dipalingkan karenamu, betapa banyaknya kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu

40) Salam bagimu dan bagi malam Al-Qadar yang lebih baik dari seribu bulan

41) Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin, betapa rindunya kami kepadamu esok

42) Salam bagimu dan bagi keutamaanmu yang sekarang ditepiskan dari kami dan bagi keberkahan yang sekarang dilepaskan dari kami

43). Ya Allah, kami pecinta bulan ini, Dengannya Kau muliakan kami, Telah Kau untungkan kami, ketika orang durhaka tidak mengetahui waktunya, ketika orang celaka dijauhkan dari keutamaannya

44) Engkaulah kekasih kami, Kau istimewakan kami untuk mengenalnya, Kau tunjuki kami pada sunnahnya, Dengan taufik-Mu, kami berusaha untuk berpuasa dan shalat malam
dengan segala kekurangan telah kami lakukan yang sedikit dari yang banyak

45) Ya Allah, bagi-Mu segala pujian dengan pengakuan akan keburukan, dan kesadaran akan kelalaianbagi-Mu, dari lubuk hati kami penyesalan yang paling dalam, dari lidah kami permohonan maaf yang paling tulus, Berilah kami pahala dengan segala kekurangan yang menimpa kami dibulan ini pahala yang menyampaikan pada kemuliaan yang diharapkan

Catatan: Doa ini adalah doa Ali Zainal Abidin (ra), salah seorang cucu Rasulullah saw yaitu putra Al-Husein bin Fatimah binti Rasulullah saw. Doa ini dari ayahnya dan dari Rasulullah...

Penulis : Randi Ramadani

Jumat, September 18, 2009

Hari Raya Idul Fitri 1430 H : Pilih Minggu Atau Senin ??

Dalam hitungan hari bulan Ramadhan akan segera berakhir dan digantikan dengan kehadiran bulan Syawal. Banyak pihak berharap agar umat Islam di negeri ini bisa mengakhiri bulan Ramadhan pada hari yang sama, sebagaimana kebersaman ketika mengawali puasa di Ramadhan tahun ini.


Kalender 2009 menunjukkan bahwa 1 Syawal jatuh pada hari minggu tanggal 20 September 2009, hal yang sama juga dinyatakan secara resmi oleh PP Muhammadiyah berdasarkan Metode Hisab (perhitungan berdasarkan ilmu astronomi/ilmu falak) dalam penentuan 1 Syawal.

Sementara NU belum menyatakan secara resmi kapan 1 Syawal, karena masih menunggu hasil pengamatan bulan (Ru’yatul Hilal) yang dilakukan pada saat matahari terbenam hari sabtu ini (19 September 2009), sementara pemerintah akan menyampaikan secara resmi 1 Syawal berdasarkan sidang istbat yang dilakukan pada sabtu malam.

Bila 1 Syawal 1430 jatuh pada hari minggu berarti di Ramadhan kali ini kita berpuasa selama 29 hari, bila 1 Syawal hari senin berarti kita berpuasa selama 30 hari. Walaupun pihak NU dan Pemerintah belum menyatakan secara resmi namun beberapa tokoh dari kalangan NU dan Pemerintah memprediksi 1 Syawal jatuh pada hari Minggu, karena saat itu tinggi hilal diperkirakan 5-8 derajat sehingga dapat dikategorikan sebagai Imkanur Rukyat.

Tak bisa dipungkiri bahwa selama beberapa tahun terakhir ini penentuan awal dan akhir Ramadhan sering terjadi perbedan, baik antara NU, Muhammadiyah, termasuk ormas lain seperti Persis, HTI, dll. Perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan menggunakan metode dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan. Muhammadiyah menggunakan metode Hisab (Perhitungan) sebagaimana dalam menentukan waktu shalat, sementara NU menggunakan metode ru’yatul hilal (lokal) dan Hizbut Tahrir menggunakan metode ru’yatul internasional (bila ada salah satu wilayah islami telah melihat Bulan (Hilal) dengan kesaksian seorang yang adil maka seluruh umat Islam di Dunia wajib mengawali atau mengakhiri Ramadhan). Mereka yang menggunakan metode Ru’yatul Hilal dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan bersandar pada beberapa hadits Rasululullah, diantaranya : “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang di antara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (Hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari (HR. Abu Dawud no. 1982, al-Nasa’i 1/302, al-Tirmidzi 1/133, al-Hakim 1/425, dari Ibnu Abbas dan di shahih kan sanadnya oleh al-Hakim dan disetujui oleh al-Dzahabi.).

Penentuan awal dan akhir Ramadhan berdasarkan metode Ru’yatul Hilal dibenarkan oleh ulama 4 madzab (Syafi’I, Hanafi, Ahmad, Maliki dan Ulama lainnya). Hanya saja dalam penentuan Mathla (tempat lahirnya bulan) 3 Imam Madzhab (Abu Hanifah, Maliki, Ahmad) sepakat bahwa bila salah satu negeri muslim telah melihat hilal maka negeri islam lainnya wajib berpuasa/berhari raya, sementara madzhab syafi’I menyatakan bila hilal telah terlihat maka penduduk yang dekat dengan daerah itu wajib berpuasa/berhari raya. Ukuran kedekatan daerah dihitung berdasarkan kesaman Mathla, yakni 24 Farsakh, sementara penduduk yang jauh tidak diwajibkan mengikuti ru’yat ini (al-Jaziri, al-Fiqh ‘alâ al-Madzhâhib al-Arba’ah, 1/550).

Sementara bagi pengikut metode Hisab seperti Muhammadiyah, dll berargumentasi dengan penggunaan metode hisab melalui ilmu falak/astronomi dalam menentukan 1 Syawal. Perbedaan metode tersebut memang tidak bisa dihindari, hal ini berkaitan dengan perbedaan dalam memahami nash fikih yang melatarbelakangi petunjuk penentuan awal dan akhir Ramadhan, disisi lain perkembangan ilmpu pengetahuan (ilmu astronomi) semakin mempermudah manusia untuk menentukan secara meyakinkan terkait posisi bulan, namun di satu sisi sebagian ulama berpendapat bahwa penentuan awal Ramadhan berdasarkan hadits Rasulullah diatas dilakukan dengan melihat hilal secara langsung (mata telanjang) sementara alat bantu seperti teropong dan penghitungan (hisab) hanyalah cara untuk memperkuat pembuktian saja. Sedangkan untuk perkara Shalat memang tidak perlu harus melihat bulan karena dengan kemajuan ilmu astronomi /ilmu falak dapat diketahui kapan masuk dan berakhirnya waktu shalat sesuai waktunya.

Semoga perbedaan ini tidak memperuncing keadaan dan berujung pada perpecahan. Hendaknya para ulama yang menjadi simpul umat mampu menjadi pemersatu umat dalam memberikan pemahaman agama yang benar sesuai Hukum Syara’ kepada umat terkait penentuan awal dan akhir Ramadhan, dan hendaknya ulama yang berbeda pandangan tetap bersandar pada prinsif ulama terdahulu dalam berpendapat : “pendapat saya benar bisa jadi mengandung kesalahan, pendapat anda salah bisa jadi mengandung kebenaran”.

Tak bisa dipungkiri bahwa perbedaan penentuan awal dan akhir Ramadhan merupakan dampak dari terpecahbelahnya kaum muslimin dalam banyak Negara (nation state), Jaman Rasulullah dan para Khalifah setelahnya mereka memiliki kesamaan dalam menentukan hal tersebut karena mereka memahami bahwa tugas pemimpin Islam adalah pemutus segala perbedaan dan bertindak sesuai perintah Allah SWT dan Rasul_Nya. Kita berharap semoga kepemimpinan Islami demikian segera terwujud. Dan semoga anda bijaksana dalam menentukan sikap untuk berhari raya, ikutilah pendapat yang benar sesuai Hukum Syara’. Silahkan memilih apakah ikut hari Minggu atau Senin (bila langit mendung dan bulan tidak nampak nantinya) ! dan semoga kita bisa menghormati bila nantinya perbedaan kembali terjadi!

Penulis : Wahyudin Noor

Senin, September 14, 2009

Doa-Doa Lailatul Qadr

Keutamaan Berdoa pada Lailatul Qadr

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Ber­doa pada Lailatul Qadr lebih aku sukai daripada shalat." la berkata pula, "Apabila seseorang membaca Al-Quran, berdoa, serta meningkat­kan doanya kepada Allah, mudah­ mudahan dia memperoleh waktu mustajab."


Yang dimaksudkan oleh Sufyan dengan "berdoa lebih aku su­kai daripada shalat" adalah, shalat yang banyak mengandung doa di dalamnya lebih baik daripada shalat yang kurang doa di dalamnya. Dan jika seseorang melakukan shalat dan berdoa, itu dipandang lebih baik.

Rasulullah SAW bertahajjud di malam-malam bulan Ramadhan dan membaca Al-Quran dengan tertib. Beliau tidak melalui ayat rahmat, melainkan memohon kepada Allah. Tidak melalui ayat azab, melainkan mohon perlindungan kepada-Nya. Beliau mengumpulkan shalat, qira­'at, doa, dan tafakur. Inilah amalan­ amalan istimewa dalam puluhan yang akhir di bulan Ramadhan, di samping amalan-amalan yang lain.

Doa-doa yang Dibaca pada Lailatul Qadr

Telah jelas bahwa sangat disukai kita memperbanyak doa pada Lai­latul Qadr. Meskipun tidak ada ke­terangan tunggal dan pasti menge­nai kapan terjadinya Lailatul Qadr artinya pada tanggal berapa di an­tara malam-malam Ramadhan ia muncul - penjelasan-penjelasan da­lam hadits dan pendapat ulama mem­berikan banyak informasi tentang saat-saat yang diduga kuat terjadi­nya Lailatul Qadr. Maka pada ma­lam-malam yang kita duga merupa­kan Lailatul Qadr, kita dianjurkan untuk banyak memohon ampunan dan berdoa. Banyak doa yang dapat kita baca di malam itu, di antaranya doa-doa yang di bawah ini.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Aisyah, Rasulullah mengajar­kan kepadanya doa yang diucapkan pada Lailatul Qadr:

Allahumma innaka 'afuwwun tuhib­bul `afwa fa `fu `anni.

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan. Maka maafkanlah aku:'

Atau jika menginginkan yang lebih lengkap lagi, dapat membaca doa ini:

Allahumma innaka 'afuwwun kari-mun tuhibbul-'afwa fafu anni. Allahum­ma inni as'alukal-`afwa wal-`afiyata wal-­mu`afatad-da'imata fid-ini wad-dunya wal-akhirah.

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Mahamulia, Engkau suka memaafkan. Maka maafkanlah aku. Ya Allah, aku mohon kemaafan dan afiat, serta perlindungan yang te­tap dalam urusan agama, dunia, dan akhirat."

Ini adalah doa yang jami’(yang lengkap) yang amat indah, yang harus dipelihara baik-baik karena doa ini melengkapi kebaikan dunia dan akhirat. Dalam Hasyiyah al-Jalalain, Ash-Shawi berkata, "Doa yang paling baik pada malam itu ialah memohonkan kemaafan dan kearifan sebagaimana yang telah diterima dari Nabi SAW." Berkata pula Ibnu Rajab, "Afuww (Maha Pe­maaf - dalam doa di atas) adalah satu nama dari nama-nama Allah."

Dia menyukai kemaafan. Dia me­nyukai para hamba yang bermaaf-­maafan, supaya Allah memaafkan mereka. Allah lebih suka memaafkan dari pada menyiksa. Karena itu, baik di malam Lailatul Qadr maupun di waktu kapan saja, kita dianjurkan untuk membaca doa ini:

A`udzu biridhaka min sukhthika wa 'afwika min `uqubatik.

"Aku berlindung dengan keridhaan­Mu, dari kebencian-Mu (dari kemarah­an Engkau), dan dengan kemaafan­Mu dari siksaan-Mu."

Yahya bin Mu'adz berkata, "Andai kata bukan maaf yang paling disukai Allah, tentulah tidak ditimpakan co­baan atas orang-orang yang mulia di sisi-Nya. Allah banyak melimpakan cobaan kepada wali-wali-Nya untuk kelak dimaafkan-Nya."

Dalam sebuah hadits dari Ibnu Ab­bas disebutkan, Nabi bersabda, "Se­sungguhnya Allah melihat pada
Lai­latul Qadr kepada orang-orang muk­min dari umat Muhammad, lalu mere­ka dimaafkan dan dirahmati-Nya, ke­cuali empat orang, yaitu:
Peminum arak,pendurhaka kepada ibu-bapak, orang yang selalu bertengkar, dan orang yang memutuskan silaturahim."


Doa lain yang dapat kita baca di ma­lam mulia ini adalah sebagai berikut:

Bismillahir-rahmanir-rahim. Allahum­ma innaka 'afuwwun tuhibbul-`afwa fa `fu `anni Afwaka ya 'afuwwu fil-mahya wa fil­mamati `afwaka, wa fil-quburi afwaka, wa `indan-nusyuri 'afwaka, wa 'inda ta­thayurish-shuhufi `afwaka, wa fil-qiyamati `afwaka, wa fi munaqasyatil-hisabi `afwaka, wa `indal-mamarri `alash-shirathi `afwaka, wa `indal-mizani `afwaka, wa fi jami`il-ahwali afwaka, ya `afuwwu, `afwaka.

"Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampun­an, maka ampunilah aku. Aku memohon ampunan-Mu, wahai Yang Maha Peng­ampun, dalam kehidupan, dalam ke­matian, aku juga memohon ampunan­Mu, dalam kubur aku juga memohon ampunan-Mu, ketika dibangkitkan aku juga memohon ampunan-Mu, ketika di­ berikan lembaran amal aku juga me­mohon ampunan-Mu, di hari kiamat aku juga memohon ampunan-Mu, ketika si­dang perhitungan amal aku juga me­mohon ampunan-Mu, dalam semua ke­adaanh aku juga memohon ampunan­Mu, wahai Yang Maha Pengampun, aku memohon ampunan-Mu."

Sebagian dari ulama mutaqaddi­min (ulama-ulama masa lalu) dalam doanya mengucapkan:

Allahumma inna dzunubi qad `azhu­mat fajallat `anish-shifati wa innaha shagiratun fi janbi `afwika, fa `fu `anni

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya dosaku sungguh sangat besar, tidak dapat disifatkan lagi. Dan sesungguh­nya dosaku itu kecil di sisi kemaafan­Mu. Maka maafkanlah aku."
Yang lain lagi dalam doanya me­ngatakan:
Jurmi `azhimun wa 'afwuka katsirun fajma `bayna Jurmi wa `afwika ya karim.

"Dosaku sangat besar dan kemaaf­an-Mu sangat banyak. Maka kumpul­kanlah dosaku dengan kemaafan-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah!" Yang dimaksud "kumpulkanlah" ialah agar dosanya dihapuskan.
Rasulullah SAW menyuruh kita meminta kemaafan pada Lailatul Qadr selain meningkatkan amal ibadah kepada-Nya. Di malam-ma­lam puluhan yang akhir, para arif, walaupun meningkatkan amal iba­dahnya, tidak memandang bahwa ibadahnya telah banyak, dan selalu memohon kemaafan.

Yahya bin Mu'adz berkata, "Bukan orang yang arif orang yang tujuan amalannya bukan untuk memperoleh kemaafan dari Allah." Mutharrif me­ngatakan, "Wahai Tuhanku, ridhailah kami. Jika Engkau tidak meridhai kami, maafkanlah kami."

Sekurang-kurang Qiyam Lailatul Qadr

Telah diterangkan oleh An-Na­wawi pendapat As-Shan'ani tentang apa yang harus kita lakukan sekurang-kurangnya supaya kita dipan­dang telah mengerjakan qiyam Ra­madhan. Setidak-tidaknya pada Lai­latul Qadr kita mengerjakan shalat Subuh dan Isya dengan berjamaah. Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Barang siapa melakukan shalat Maghrib dan Isya dengan ber­jamaah, ia telah mengambil bagian­nya yang sempurna dari Lailatul Qadr."

Diriwayatkan pula, Nabi SAW bersabda, "Barang siapa shalat Isya dengan berjamaah, seolah-olah ia te­lah berdiri pada sebagian malam. Dan apabila ia shalat Subuh dengan berjamaah pula, seakan-akan ia te­lah berdiri separuh malam lagi."

Dan seyogianyalah diperbanyak membaca dzikir di bawah ini, meng­ingat hadits "Barang siapa yang membaca:
Subhanallahi rabbis-samawatis­-sab `i wa rabbil- `arsyil- `azhim.

'Tiada Tuhan melainkan Allah, yang sangat besar kemurahan-Nya lagi sangat pemurah. Mahasuci Allah, Yang memiliki tujuh lapis langit dan Yang memiliki 'Arsy, yang amat besar.'
sebanyak tiga kali, seolah-olah ia te­lah mendapatkan Lailatul Qadr."

Karenanya, hendaklah kita memba­ca dzikir itu setiap malam, yang diha­rapkan merupakan Lailatul Qadr, de­ngan hati yang seikhlas-ikhlasnya, dari lubuk jiwa yang suci, penuh dengan rasa ketauhidan, suci dari kecemaran syirik dan dari segala maksiat.

Lalu, apakah pahala ibadah di ma­lam hari itu hanya bagi mereka yang beribadah dan melihat tanda-tanda itu? Kebanyakan ulama menetapkan bah­wa pahala ibadah tetap diperolehnya walaupun tanda-tanda tidak dapat di­lihatnya. Jadi, barang siapa beribadah malam di seluruh Ramadhan atau di puluhan yang akhir karena iman dan ikhlasnya, dengan maksud memper­oleh Lailatul Qadr, ia memperoleh pa­hala Lailatul Qadr, walaupun tidak melihat tanda apa pun.

Pengarang kitab Al-Hawi menga­takan, "Disukai, bagi mereka yang meli­hat tanda-tanda Lailatul Qadr, supaya menyembunyikannya. Dan di kala me­lihat itu, hendaklah terus berdoa de­ngan sungguh-sungguh, ikhlas, dan khusyu', dengan doa apa saja yang di­gemarinya, baik urusan dunia maupun akhiratnya, dan hendaklah ia berdoa untuk akhiratnya lebih banyak dan lebih kuat daripada untuk dunianya."

Juwaibir mengatakan kepada Adh­-Dhahhak, "Bagaimana pendapatmu tentang perempuan yang sedang nifas, perempuan yang sedang haid, orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang yang sedang tidur nyenyak, apa­kah mereka mendapat bagiannya pada Lailatul Qadr itu?"

Adh-Dhahhak menjawab, "Semua mereka mendapatkannya, diberikan bagiannya dari Lailatul Qadr oleh Allah, Yang Rahman dan Rahim."

Istighfar-istigfhar Imam Ahmad Ar-Rifa’i

Karena pada lailatul Qadr kita di anjurkan banyak berdoa dan memohon ampun, berikut ini kami kutipkan pula dua istigfhar yang disusun oleh Imam Ahmad rR-Rifa’I, seorang sufi besar dari Mesir dan pendiri Tarekat Rifa’iyah,


Astaghfirullahal-`azhimal-ladzi la ilaha illa huwal-hayyal-qayyuma wa atubu ilaihi min kulli dzanbin adznabtuhu 'amdan aw khatha-an sirran aw `alaniyatan minadz­dzanbil-ladzi a `lamu aw la a `lamu innahu huwa ya `lamu wa ana la a `lamu wa huwa `allamul-ghuyubi wa ghaffarudz-dzunubi wa sattarul-`uyubi wa kasysyaful-kurubi wa la hawla wala quwwata illa billahil-`aliyyil­`azhim.


"Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, yang Ma­hahidup lagi senantiasa mengurus hamba­Nya; dan aku bertaubat kepada-Nya dari se­gala dosa yang aku perbuat, sengaja mau­pun tidak sengaja, rahasia (tidak diketahui orang) atau terang-terangan, yang aku ke­tahui atau yang aku tidak ketahui. Sesung­guhnya Dia mengetahui dan aku tidak me­ngetahui, dan dia Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib, Maha Menghapuskan dosa­ dosa, Maha Menutupi aib, dan Maha Meng­hilangkan kesusahan. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahaagung."

Ia juga menyusun istighfar-istighfar lain, di antaranya sebagai berikut:

Allahumma inni astaghfiruka min kulli dzanbin tubtu ilaika minhu tsumma ’udtu fihi wa astaghfiruka min kulli ma wa `adtuka bihi min-nafsi tsumma lam ufi laka bihi, wa as­taghfiruka min kulli `amalin 'amiltuhu aradtu bihi wajhaka wa khalathahu ghairuka, wa as­taghfiruka ya `alimal-ghaibi wasy syahadati min kulli dzanbin ataituhu fi dhiya'in-nahari wa sawadil-laili fi mala-in wa khala-in wa sirrin wa `alaniyatin, ya halimu ya karim. Allahum­ma ashlih ummata muhammadin. Allahum­marham ummata muhammadin. Allahum­ma sallim ummata muhammadin. Allahum­maghfir li ummati muhammadin. Allahum­maghfirli wa liman amana bika (rabbanaghfir lana wa li ikhwaninal-ladzina sabaquna bil­-imani wall taj`al fi qulubina ghillan lilladzina amanu rabbana innaka ra'ufur-rahim).


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosa yang aku telah taubat darinya tetapi aku mengu­langinya lagi, aku memohon ampun kepada­ Mu dari setiap yang aku janjikan kepada­Mu dari diriku tetapi aku tidak memenuhinya kepada-Mu, aku memohon ampun kepadaMu dari setiap perbuatan yang aku lakukan dengan mengharapkan keridhaan-Mu tetapi kemudian tercampur dengan selain keridha­an-Mu, aku memohon ampun kepada-Mu, wahai Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, dari setiap dosa yang aku lakukan dalam terangnya slang dan gelap­nya malam, di tengah orang banyak maupun tak ada orang, secara rahasia maupun te­rang-terangan, wahai Yang Maha Penyantun lagi Mahamulia.


Ya Allah, perbaikilah umat Nabi Muham­mad; ya Allah, kasihilah umat Nabi Muham­mad; ya Allah, selamatkanlah umat Nabi Mu­hammad; ya Allah, ampunilah umat Nabi Muhammad. Ya Allah, ampunilah aku dan orang yang beriman kepada-Mu.Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami terdapat rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Pe­nyayang."

Penulis : Randi Ramadani

Rabu, September 09, 2009

Hukum I'tikaf Bagi Wanita

Ngga terasa bulan Ramadhan yang penuh berkah ini akan berakhir. Biasanya di penghujung bulan itu, sebagian umat Islam mulai ’kendur’ dalam beribadah. Sehingga barisan sholat berjama’ah di mesjid-mesjid mulai maju. Sebagian dari mereka sibuk menyiapkan diri untuk mudik dan lebaran.


Namun, tidak sedikit juga kaum muslimin yang semakin mengencangkan ibadahnya di minggu-minggu terakhir di bulan ini. Misalnya dengan mengadakan i’tikaf bersama. Seperti yang dianjurkan agama agar kaum muslimin melakukan i’tikaf dalam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini.
Makna I’tikaf

I’tikaf menurut bahasa adalah terikatnya seseorang pada sesuatu dan menahan dirinya tetap pada sesuatu itu, baik sesuatu itu merupakan perbuatan baik atau jelek. Sedangkan I’tikaf menurut istilah syara’ adalah tinggal di rumah Allah dengan niat ibadah atau menetap di dalam mesjid dengan niat untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt. Sebagaimana firmanNya : “….. Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Hukum I’tikaf

Hukum I’tikaf adalah sunah, sebagaimana firman Allah swt : “Bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yang tawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan sujud.” (QS. Al-Baqarah : 125)

Dari ‘Aisyah r.a berkata, “Bahwasanya Nabi saw beri’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang terakhir pada akhir bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

Keutamaan I’tikaf

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang I’tikaf satu hari semata-mata mengharap keridhoan Allah, niscaya Allah jadikan (jarak) diantaranya api neraka sejauh tiga parit dan tiap-tiap parit jaraknya adalah lebih jauh daripada jarak antara dua mata angin.”

Subhanallah .. siapa yang tidak menginginkan keutamaan ini ? Tentunya kita semua termasuk para muslimah menginginkan pahala yang besar dan keridhoan Allah swt. Salah satunya dengan melaksanakan i’tikaf.

I’tikaf bagi Wanita

Seorang wanita diperbolehkan untuk mengunjungi suaminya yang sedang beri’tikaf di mesjid. Bahkan syariat memerintahkan bahwa hendaknya sang suami mengantarkan istrinya sampai keluar dari pintu mesjid. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Shafiyyah r.a, ”Ketika itu Nabi saw beri’tikaf di mesjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku datang menengoknya di malam hari dan di sisinya istri-istrinya yang sednag bergembira, lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali, maka beliau saw berkata, ’Jangan kau terburu-buru sehingga aku antarkan,’ maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarku ... (HR. Bukhari)

Sedangkan hukum bagi seorang wanita yang beri’tikaf adalah boleh baik bersama suaminya atau sendirian. Hal ini berdasarkan pada ucapan ’Aisyah r.a, ”Telah i’tikaf bersama Nabi saw seorang wanita yang isthihadhah, diantara istri-istrinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan, kekuningan bahkan kadang-kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap sholat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan ’Aisyah r.a juga mengatakan, ”Dahulu Rosul saw beri’tikaf pada bulan ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya.” (HR. Bukhari)

Namun seorang wanita yang ingin beri’tikaf juga harus memperhatikan terhadap hukum-hukum lain yang berkaitan dengan keluar rumahnya seorang wanita. Misalnya keluar rumah harus mendapatkan izin dari suaminya, menjaga agar keadaannya aman dari fitnah dan tidak berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis, tidak melalaikan kewajiban-kewajiban sebagai ibu dan istri. Jangan sampai mengejar amalan sunah tapi mengabaikan amalan yang wajib.

Waktu I’tikaf

I’tikaf sunah seperti i’tikaf pada sepertiga bagian akhir Ramadhan tidak ada batas waktunya. Seseorang yang telah melakukan i’tikaf di dalam mesjid sama saja apakah waktunya panjang atau pendek. Waktu minimal i’tikaf dalam mesjid adalah sekedar tuma’ninah di dalam ruku’ atau sujud.

Tempat I’tikaf

Tempat melakukan i’tikaf adalah di mesjid yang di dalamnya terdapat aktivitas sholat berjama’ah. Lebih utama jika mesjid itu menjadi tempat sholat Jum’at. Menurut jumhur ulama, tidak sah i’tikaf kamu wanita jika dilakukan di dalam ’mesjid rumah’ yaitu bilik tertentu di dalam rumah yang dijadikan tempat khas untuk sholat berjama’ah bersama keluarga. Hal ini karena ’mesjid rumah’ tidak memenuhi makna mesjid menurut agama. Hal ini diperkuat lagi dengan riwayat shohih yang menyatakan bahwa para istri Rasul saw beri’tikaf di dalam mesjid Nabawi.

Rukun I’tikaf

1. Berniat i’tikaf pada permulaannya atau ketika memperbaharui i’tikaf dengan lafadz : ”Sengaja saya i’tikaf di dalam mesjid selama saya berada di dalamnya karena Allah” atau yang serupa dengan itu.
2. Berdiam diri di dalam mesjid, sekurang-kurangnya tuma’ninah dalam ruku’ dan sujud yaitu berhenti sebentar. Tidak diperbolehkan pula bagi orang-orang yang beri’tikaf keluar mesjid selama i’tikaf kecuali ada sebab-sebab yang diperbolehkan syari’at seperti membuang hajat.
3. Tempat i’tikaf harus di mesjid yang menjadi tempat sholat berjama’ah lima waktu dalam sehari. Jika di mesjid itu diadakan sholat Jum’at, maka lebih utama.

Syarat-Syarat I’tikaf

Orang yang beri’tikaf baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya muslim, berakal, mumayyiz, bersih dari haid, nifas atau junub.

Bagi kaum wanita, wajib mendapat izin dari suami atau walinya. Selain itu kehadiran kaum wanita di dalam mesjid untuk i’tikaf tidak menimbulkan fitnah.

Hal yang membatalkan I’tikaf

1. Keluar mesjid dengan sengaja tanpa sebab syar’i walaupun sebentar.
2. Murtad
3. Gila, mabuk, haid dan nifas
4. Jima’

Amalan sunnah ketika I’tikaf

1. Memperbanyak sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahlil, takbir, istigfar, sholawat kepada Nabi saw dan berdoa.
2. Mempelajari ilmu seperti membaca buku-buku Tafsir Al-Qur’an, Hadits Nabi, kisah-kisah Nabi, para sahabat dan orang-orang sholeh. Selain itu juga mempelajari hukum-hukum Islam, ilmu fiqih dan yang lainnya.

Sahabat .. Ramadhan adalah bulan mulia. Bulan dimana Allah melipatgandakan pahala kebaikan. Amalan sunah seperti i’tikaf dinilai sebagai amalan wajib. Sedangkan amalan wajib dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh puluh kali lipat. Pada bulan ini juga terdapat satu malam kemuliaan yaitu Lailatul Qadar.

Semoga kita bisa menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum peningkatan kualitas diri di hadapan Allah swt. Tidak hanya rutinitas melakukan amalan-amalan yang diwajibkan. Tapi betul-betul melakukannya dengan penuh kesadaran untuk meraih keridhoanNya.

*disarikan dari berbagai sumber

Menggapai Lailatul Qadar

Hari ini kita hampir memasuki sepuluh hari terakhir (‘asyrul awakhir) bulan Ramadhan 1430 H. Kalo boleh dikatakan, kita akan memasuki babak ‘bonus’ dari perlombaan amal shaleh di bulan mulia ini. Terlebih lagi jika bertepatan dengan Lailatul Qadar (malam kemuliaan) yang keutamaannya sangat luar biasa. Pada malam itu, Allah menjanjikan ‘mega bonus pahala’ yang lebih utama dari seribu bulan. Kalo dikonversi setara dengan 83 tahun 4 bulan. Subhanallah .. mungkin umur kita aja tidak sampai segitu.


Hanya aja seringnya kita terkecoh dengan hiruk pikuk persiapan lebaran. Akibatnya ibadah di sepuluh hari terakhir ini justru tidak dilakukan dengan sempurna. Bahkan tidak jarang jadi berantakan. Na’udzubillah mindzalik !

Agar kita tetap berkonsentrasi dalam ibadah dan semangat mencari keutamaan Lailatul Qadar, tulisan berikut ini berusaha menyingkap beberapa hal yang berkaitan dengan malam kemuliaan yang penuh berkah itu. Selamat menyimak …

Lailatul Qadar dan Kemuliaannya

Sesungguhnya Lailatul Qadar adalah malam yang agung, penuh rahmat, berkah dan magfirah. Merupakan salah satu malam yang disebutkan dalam dua surat Al-Qur’an.

Pertama, dalam QS. Ad-Dukhan ayat 3-6, Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) di malam yang penuh keberkahan. Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang memberi peringatan. Didalamnya diselesaikan segala urusan yang penuh hikmah. Sebagai suatu perintah bagi Kami. Sesungguhnya Kami mengirimkan utusan-utusan sebagai suatu rahmat dari TuhanMu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam surat di atas, Allah mensifatkan Lailatul Qadar dengan malam yang mendatangkan keberkahan (Lailatul Mubarakah) yang didalamnya diselesaikan segala urusan.

Kedua, dalam QS. Al-Qadar ayat 1-5, Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada Malam Kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu ? Malam Kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya utnuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Sedangkan di dalam QS. Al-Qadar tersebut, Allah mensifatkan Lailatul Qadar dengan suatu sifat yang mulia. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat turun didalamnya. Malam itu merupakan salam (kesejahteraan) bagi manusia.

Jadi Lailatul Qadar dapat dinamakan sebagai Lailatus Salam (malam keselamatan). Para malaikat turun mengucapkan salam kepada penduduk bumi. Juga dapat dinamakan Lailatus Syaraf (malam kemuliaan) bagi umat Islam. Dapat juga dinamakan dengan Lailatut Tajalli, malam dimana Allah swt melimpahkan cahaya dan hidayahNya kepada para ‘abid, shaim, dan orang-orang yang beribadah malam.

Sehingga kemuliaan malam itu tidak saja karena diturunkannya Al-Qur’an. Atau karena orang yang taat pada malam itu menjadi orang-orang yang mulia. Juga karena ibadah yang dikerjakan pada malam itu mendapat penghargaan yang luar biasa.

Abu Bakar Al-Warraq, sebagaimana telah dikutip Hasbi As-Shiddiqqie berkata : ”Dinamakan malam ini Lailatul Qadar, karena pada malam itu turun Al-Qur’an yang mempunyai kedudukan yang tinggi, dibawa oleh malaikat yang mempunyai derajat yang tinggi kepada Rasul yang mempunyai derajat yang tinggi, untuk disampaikan kepada umat yang tinggi pula.”

Dalam buku Pedoman Puasa halaman 243 karya Hasbi As-Shiddiqqie, ada riwayat yang mengatakan, bahwa bilangan malaikat yang berada di bumi pada malam itu lebih banyak dari pasir. Allah swt juga menerima taubat semua orang yang bertaubat pada malam itu. Kemudian dibukanya segala pintu langit sejak dari terbenam matahari sampai terbitnya. Jibril turun bersama serombongan malaikat. Lalu mereka menancapkan panji-panjinya di empat tempat yaitu di sisi Ka’bah, di sisi kubur Rasulullah saw, di sisi masjid Baitul Maqdis dan di sisi Masjid Tursina. Kemudian mereka bertebaran ke seluruh pelosok bumi, memasuki rumah orang-orang mukmin sambil bertasbih, bertaqdis, dan memohon ampunan bagi umat Nabi Muhammad saw.

Waktu Lailatul Qadar

Ibnu Hazm berkata, ”Lailatul Qadar sekali saja dalam setahun, tertentu di bulan Ramadhan di puluhan yang akhir dan tertentu di suatu malam yang ganjil. Jika bulan itu 29 hari, maka permulaan puluhan yang akhir yaitu malam ke 20. Dan malam qadar itu ialah malam 20, adakalanya di malam 22, 24, 26 atau di malam 28. Jika bulan itu penuh 30 hari, permulaan puluhan yang akhir ialah malam 21. Maka malam qadar itu adalah malam 21, 23, 25, 27 atau di malam 29.”

Iman Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, ”Adalah Rasulullah saw beri’tikaf pada puluhan yang kedua di bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari i’tikaf pada paginya, beliau berkata : ’Barang siapa turun beri’tikaf bersamaku, hendaklah beri’tikaf pada puluhan yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku malam Al-Qadar itu. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karen tiu carilah dia di puluhan yang akhir. Carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil.’ Berkata Abu Sa’id : ’Maka turunlah hujan malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah kembali ke mesjid. Sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Aisyah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda,”carilah dengan segala upaya malam Al-Qadar di malam-malam ganjil yang akhir dari bulan Ramadhan.”

Dalam suatu hadits riwayat Muslim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi saw bersabda,”Carilah Lailatul Qadar pada puluhan yang akhir, jika seseorang lemah mencarinya, maka janganlah kamu kalah dalam mencari pada tujuh yang terakhir.”

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tersembunyi pada sepuluh malam terakhir (’asyrul akhawir). Menurut para ulama salaf, hikmah penyembunyian waktu Lailatul Qadar ini adalah agar kita menghidupkan semua malam. Hal ini seperti hikmah Allah menyembunyikan saat ijabah di hari Jum’at supaya kita berdoa sepanjang hari. Atau seperti Allah menyembunyikan sholat wustha’ dalam sholat lima waktu agar kita memelihara kesemuanya. Atau Allah menyembunyikan isim A’dzam diantara nama-namaNya agar kita menyeru dengan nama-nama itu. Allah menyembunyikan mana taat yang mendapat penuh keridhaanNya agar kita mengerjakan semua ketaatan dengan sepenuh hati. Atau Allah menyembunyikan mana maksiat yang sangat dimurkaiNya agar kita menghentikan semua kemaksiatan itu. Atau menyembunyikan semua yang menjadi wali diantara para mukmin agar kita berbaik sangka terhadap sesama mukmin. Atau Allah menyembunyikan kedatangan hari kiamat agar kita selalu siap siaga. Dan Allah juga menyembunyikan ajal manusia supa kita selalu dalam persiapan.

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Para ulama berselisih pendapat tentang datangnya Lailatul Qadar. Beberapa tanda yang dapat dilihat oleh mereka yang mendapatkannya, antara lain :
1. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit bersujud ke hadirat Allah.
2. Alam terang benderang walapun di tempat-tempat yang gelap sekalipun.
3. Dapat mendengar salam para malaikat dann tutur katanya.
4. Diperkenankan segala doanya.

Adapun pahala ibadah tetap diperoleh meskipun tanda-tanda tersebut tidak dapat dilihatnya. Sedangkan bagi mereka yang melihat tanda-tanda Lailatul Qadar, hendaklah menyembunyikan dan terus berdoa dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan khusyu’ dengan doa apa saja yang digemarinya. Hendaklah dia berdoa untuk akhiratnya lebih banyak dan lebih kuat daripada untuk dunianya.

Bertanya Juwaibir kepada Adh-Dhahhak : ”Bagaimana pendapat anda tentang perempuan yang sedang nifas, haid, orang sedang dalam perjalanan, dan orang yang sedang tidur nyenyak, apakah mereka mendapat bagiannya di malam Al-Qadar itu ? Adh-Dhahhak menjawab : ”Mereka semua mendapatkannya, diberikan bagiannya dari malam Al-Qadar itu oleh Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim.”

Keutamaan Ibadah di Malam Al-Qadar

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda : ”Siapa saja yang mengerjakan ibadah di malam Al-Qadar karena imannya kepada Allah dan karena mengharapkan keridhaanNya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik berkata : Pada saat bulan Ramadhan masuk, maka Rasulullah saw bersabda : ”Sesungguhnya bulan ini hadir di hadapanmu. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa tiada diberikan kebaikan malam itu kepadanya, maka ia sungguh diharamkan atas seluruh kebaikan. Dan tidak diharamkan kebaikan, melainkan kepada orang yang tidak diberikan apa-apa.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Ubadah bin Shamit : ”Rasulullah mengabarkan kepada kami tentang Lailatul Qadar. Beliau berkata : ’Dia di dalam bulan Ramadhan, di puluhan yang akhir malam 21, atau malam 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam bulan Ramadhan. Barang siapa yang mengerjakan qiyam pada malam itu karena imannya kepada Allah dan karena mengharap keridhaanNya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu dan dosa yang akan datang.”

Menghidupkan Malam Al-Qadar

Menghidupkan malam Al-Qadar ialah dengan mengerjakan ketaatan, sholat malam, istigfar, berdzikir, membaca Al-Qur’an, I’tikaf dan menambahkan amalan ihsan dan memperbanyak shadaqah.

Amalan-amalan Rasul dan pesan-pesannya merupakan dorongan bagi kita untuk beribadah dan berlomba-lomba memenuhi keperluan orang-orang yang memerlukan bantuan. Hal itu dilakukan sebagai suatu usaha memenuhi seruan agama dan meneladani Rasul saw. Mereka menyembunyikan shadaqah mereka sehingga tidak diketahui tangan kiri apa yang telah diberikan tangan kanan.

Sebagian hartawan dahulu menanti-nanti Lailatul Qadar. Pada malam itu Allah melipatgandakan pahalaNya. Mereka menyembunyikan dirinya dan mencari keluarga yang miskin di malam buta. Mereka memberikan segala yang dibawanya kepada keluarga miskin tanpa dikenal oleh penerima pemberiannya. Mereka kembali tanpa diketahui siapa dirinya.

Keutamaan Berdoa di Malam Lailatul Qadar

’Aisyah r.a diperintahkan berdoa di malam Al-Qadar. Sufyan Ats-Tsauri berkata,”Berdoa pada malam Al-Qadar lebih aku sukai daripada sholat.” Sufyan berkata pula,”Apabila seseorang membaca Al-Qur’an, berdoa serta meningkatkan doanya kepada Allah, mudah-mudahan dia memperoleh waktu mustajab.”

Rasul saw bertahajud di malam-malam bulan Ramadhan dan membaca Al-Qur’an dengan tertib. Beliau tidak melalui ayat rahmat, kecuali beliau memohonnya kepada Allah. Beliau tidak melalui ayat azab, kecuali beliau berlindung kepadaNya. Beliau mengumpulkan antara shalat, qira’at, doa dan tafakkur.

Dari ‘Aisyah r.a bahwa Rasul mengajarkan kepadanya doa yang diucapkan pada malam Al-Qadar yaitu : “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku)” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam Hasyiyah Al-Jalalain, As-sawi berkata, “Doa yang paling baik didoakan pada malam itu (Al-Qadar) ialah memohonkan kemaafan dan ke’afiatan sebagaimana yang telah diterima dari Nabi saw.”

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya allah melihat pada malam Al-Qadar kepada orang-orang mukmin dari umat Muhammad, lalu dimaafi mereka dan dirahmatiNya, kecuali empat orang yaitu peminum arak, durhaka kepada orang tua, orang yang selalu bertengkar dan orang yang memutuskan tali silaturahim.”(HR. Ibnu Abbas)

Inilah amalan-amalan istimewa dalam puluhan akhir bulan Ramadhan, di samping amalan-amalan yang lain. Oleh karena itu, mari kita isi detik-detik terakhir bulan Ramadhan ini dengan melaksanakan ketaatan dan amal sholeh seperti berdoa, berdzikir, istigfar, sholat malam, membaca Al-Qur’an, memberi shadaqah kepada fakir miskin dan aktivitas ibadah lainnya. Semoga kita dapat meraih ‘mega bonus pahala’ Lailatul Qadar tahun ini. Amin ya Rabb 

*disarikan dari berbagai sumber

Minggu, Agustus 23, 2009

Sekali Ramadhan, Dua (Pahala) Ramadhan Tercapai

Pengen dapat pahala dua puasa dalam satu kali puasa Ramadhan yang kamu jalani ? Kalo iya, gimana caranya ya ? Jawabannya ada di dalam hadits Zaid bin Khalid Al-Junahi r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda :


”Barangsiapa yang memberikan buka puasa kepada orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang didapat orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun pahala puasanya.”

(HR. Ahmad (IV/114-116); At-Tirmidzi (807). Ia menilai sebagai hadits hasan shohih; Ibnu Majah (1746), Ibnu Hibban (895), dan dishahihkan oleh Al-Albani (Shohih Al-Jami’ 6415)

Sahabat, banyak cara yang dapat kamu gunakan agar bisa menggapai bonus pahala agung – sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Diantaranya adalah memberi buka puasa kepada orang-orang di luar rumah yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Sahabat, percaya ngga ? Hanya dengan uang sebesar Rp. 10.000,- kamu sudah bisa membukakan orang yang berpuasa dalam satu hari. Trus berapa rupiahkah yang harus kamu perlukan untuk membuatnya berbuka dalam satu bulan, sehingga pahala dua Ramadhan pada satu musim Ramadhan yang kamu jalani bisa kamu dapatkan ?

Tinggal dikalikan saja, hasilnya kamu perlu menyediakan uang sebesar Rp. 300.000,-. Subhanallah .. hanya dengan uang segitu kamu akan mendapatkan pahala tafthir shaim (pemberian buka puasa kepada orang yang berpuasa) selama satu bulan penuh. Insya Allah !

Nah .. ini baru dapat dua (pahala) Ramadhan dalam satu kali puasa Ramadhan yang kamu jalani ? Mau lebih banyak lagi ? Kalo iya .. tinggal kamu tambahin aja jumlah orang yang akan kamu bukakan puasanya. Dijamin kamu akan merasakan kenikmatan yang tiada taranya dari kebaikan yang kamu lakukan dan yang pasti hubungan persaudaraan juga akan semakin erat.

So .. manfaatin kesempatan ini sebaik-baiknya !

Catatan : kamu tetap juga harus puasa, jangan mentang-mentang udah membukakan orang yang berpuasa dan insya Allah dapat pahala, kemudian kamu pikir ngga usah cape2 puasa. Itu pemikiran yang salah !

Jumat, Agustus 07, 2009

Persiapan Menyongsong Ramadhan

Assalamu'alaikum wr wb

Sahabat .. tentu udah ngga sabaran lagi ketemu ama bulan Ramadhan. Bulan yang mulia, penuh berkah, rahmat yang banyak dan ampunan yang berlimpah dari Allah swt.Tinggal hitungan minggu aja lagi. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri dalam menyongsong Ramadhan. Diantaranya :


1. Melakukan muhasabah (intropeksi diri). Mencek sejauh mana amal baik dan dosa yang telah kita lakukan. Setidaknya selama setahun berjalan.

2. Mensucikan diri (tazkiyatun nafs). Caranya, memperbanyak memohon ampunan dan bertaubat serta saling memaafkan.

3. Membiasakan banyak shoum di bulan Sya'ban. Bagi mereka yang tidak terbiasa shoum di bulan Sya'ban, hendaknya tidak shoum pada paruh kedua bulan tersebut. Sedangkan orang biasa shoum dapat shoum hingga akhir bulan Sya'ban.

Rosulullah saw bersabda :
Dari 'Aisyah r.a, dia berkata : "Tidaklah Nabi saw shoum bulanan (di luar Ramadhan pent.) lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Sungguh beliau shoum pada bulan Sya'ban seluruhnya." (HR. Bukhari)

Dari Anas r.a, dia berkata : Nabi saw bertanya, shoum mana yang lebih utama setelah Ramadhan ? Beliau menjawab : "Sya'ban untuk mengagungkan Ramadhan." Dikatakan juga, sadaqah mana yang paling utama ?" Beliau menjawab : "Sadaqoh pada bulan Ramadhan." (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw, beliau bersabda : "Janganlah seseorang diantara kalian mendahului Ramadhan dengan shoum satu atau dua hari kecuali bagi orang yang membiasakan berpuasa maka berpuasalah pada hari itu." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Apabila sudah sampai pada pertengahan bulan Sya'ban maka janganlah kalian berpuasa." (HR. At-Turmudzi)

4. Mempersiapkan amal-amal dan program apa yang akan dilakukan pada saat bulan Ramadhan. Lengkap dengan target yang hendak dicapai. Program ini dapat dikategorikan dua, yaitu program individual dan program bersama. Program individual disusun sendiri oleh orang per orang dan untuk perorangan. Sementara itu, program bersama dibuat untuk aktivitas bersama di mesjid, kampus, atau kantor. Cakupannya, mulai dari penyambutan hingga pasca Ramadhan.

5. Mengintai awal Ramadhan dan berdoa saat melihat bulan sabit (hilal).

Doa Nabi saw terdapat dalam hadits :
Dari Abu Thalhah bin Ubaidillah bahwa Nabi saw apabila melihat hilal berkata :"Allahumma ahlilhu 'alaina bil yumni wal imani was salamati wal islami .. robbiy wa rabbuka Allah"
"Ya Allah, terbitkanlah bulan itu kepada kami dengan sentosa, iman, selamat dan Islam. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah." (HR. At-Turmudzi)

So .. setelah itu .. Tinggal menunggu Ramadhan tiba dan mengisinya dengan penuh kesungguhan dan sarat dengan amal kebaikan. Insya Allah berhasil !

Saatnya menjadi pemenang !

Wallahu'alam bi showab

Salam

Dini

Ini materi yang kuposting di grup facebookku "To Be Winner On Ramadhan" pada tanggal 7 agustus 2009

*Referensi : Buku Meraih Kemenangan Ramadhan karya MR Kurnia

Jumat, Juli 17, 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Rasulullah saw menaiki mimbar (untuk berkhutbah). Ketika menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan “amin”. Begitu pula pada anak tangga yang kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya,”Ya .. Rasulullah, mengapa engkau mengucapkan amin?”.


Beliaupun menjawab, Malaikat Jibril datang dan berkata : kecewa dan merugi seseorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucapkan sholawat atasmu, lalu aku berucap “amin”. Kemudian Jibril berkata lagi : kecewa dan merugi seseorang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bias masuk surga, lali aku berucap “amin”. Kemudian katanya lagi : kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tetapi tidak sampai terampuni dosa-dosanya, lalu aku mengucapkan “amin”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Sahabat .. pasti udah pada ‘ngeh’ kan dengan Ramadhan ? Hafal banget kalo Ramadhan itu bulan mulia. Penuh berkah, rahmat yang banyak dan ampunan yang berlimpah dari Allah swt.

Itu sebabnya, Rasulullah saw dan para sahabatnya sudah menyambut dengan penuh suka cita bahkan sebelum Ramdhan datang. Sejak bulan Sya’ban, Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan ’tamu mulia’ ini. Salah satunya dengan memperbanyak ibadah terutama puasa (shoum). Jadi yang belum terbiasa puasa sunat Senin dan Kamis, diharapkan pada bulan Sya’ban sudah mulai menjalankannya. Jika belum mampu, cukup dengan tiga hari di tengah bulan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan mental sekaligus fisik dalam menghadapi bulan yang disucikan tersebut. Insya Allah bagi teman-teman yang sudah biasa melakukan puasa, ngga bakalan deh kayak orang kelaparan ketika puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Merupakan tradisi di masa Rosulullah saw, pada akhir bulan Sya’ban, para sahabat berkumpul di mesjid untuk mendengarkan khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki Ramadhan tanpa beban dosa. Mereka ingin memasuki Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Moga Allah swt mengizinkan kita bertemu dengan bulan Ramadhan yang mulia ini. Bentar lagi euy ... Semangat !!