Klinik Motivasi

Tampilkan postingan dengan label Tips Siaran Radio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Siaran Radio. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 22, 2011

Etika Siaran

Layaknya hidup bermasyarakat, dalam menjalankan tugasnya seorang penyiar juga mengikuti kaidah-kaidah hukum yang berlaku di dunia penyiaran. Jangan sampai apa yang kita sampaikan menimbulkan ketidaknyaman dan keresahan di masyarakat.


Seorang penyiar harus membaca dan menjalankan UU penyiaran yang mengatur kinerja seorang penyiar. Perlu memahami tentang pasal-pasal yang berhubungan dengan kerja seorang penyiar demi keamanan diri dari hukum yang berlaku.

Misalnya, seperti yang tertulisa dalam UU tentang Penyiaran No. 32/2002 pasal 32 mulai butir ke-6 :

1. Materi siaran hendaknya mengandung unsur yang bersifat membangun moral dan watak bangsa, persatuan dan kesatuan, pemberdayaan nilai-nilai luhur bangsa, disiplin, serta cinta ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Isi siaran yang mengandung unsur kekerasan dan sadisme, pronografi, takhayul, perjudian, pola hidup permisif, konsumtif, hedonistis, dan feodalistis, dilarang.

3. Isi siaran yang bertentangan dengan Pancasila, seperti halnya yang bertolak dari paham komunis, Marxisme-Leninisme, dilarang.

4. Isi siaran dilarang memnuat hal-hal yang bersifat menghasut, mempertentangkan, dan/atau bertentangan dengan ajaran agama atau merendahkan martabat manusia dan budaya bangsa atau memuat hal-hal yang patut dapat diduga mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Atau seperti dalam pasal 52 UU Penyiaran :
1. Penyelenggara penyiaran wajib senantiasa berusaha agar pelaksanaan kegiatan penyiaran tidak menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Siaran wajib dilaksanakan dengan menggunakan bahasa, tutur kata, dan sopan santun sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Untuk kaidah hukum yang berlaku di masyarakat pendengar, kita dapat melihat keseharian, habit dan kebiasaan mereka. Hindari berbicara tentang hal yang berbau SARA. Seorang penyiar dapat mengekspresikan dirinya di udara secara luwes dan menawan dengan tetap memerhatikan sopan santun dalam bersiaran.

Rabu, Desember 07, 2011

Bagian-Bagian Naskah Siaran

To the point aja .. pada dasarnya, naskah siaran terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, tengah dan akhir. Ketiga bagian tersebut memiliki fungsi tersendiri.

Bagian Awal
Merupakan pembuka dari tulisan dan menjadi pokok pikiran dari informasi dalam tulisan tersebut. Kalimat yang ditulisa berfungsi untuk menarik perhatian pendengar.


Misalnya :
Tahukah Anda ? kanker payudara ternyata tidak hanya menyerang kaum wanita / tetapi juga menyerang kaum pria // Demikian menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat //

Bagian Tengah
Merupakan penjelasan atau detail dari isi tulisan sehingga pendengar paham dengan informasi yang disampaikan dalam tulisan tersebut.

Misalnya :
Para ahli dari Amerika serikat melakukan penelitian terhadap seribu pasien laki-laki di sebuah rumah sakit di Kota New York // Para ahli memantau kesehatan seribu pasien laki-laki tersebut selam lima tahun / dengan mencatat semua keluhan atau penyakit yang pernah diderita //

Bagian Akhir
Sebaiknya ditulis dengan meninggalkan kesan yang kuat. Bisa berupa kesimpulan, sebuah pertanyaan tanpa jawaban atau imbauan kepada pendengar untuk melakukan sesuatu.

Misalnya :
Jika anda mengalami keluhan-keluhan seperti itu / sebaiknya memeriksakan diri ke dokter // Ada baiknya / mulai sekarang / kaum laki-laki tidak menyepelekan penyakit kanker payudara //

Sumber : Sukses menjadi penyiar, scriptwriter dan reporter, Fatmasari Ningrum, Penebar Swadaya, 2007

Sabtu, Oktober 08, 2011

Contoh Script Siaran : Kesehatan

Ini salah satu contoh script atau naskah siaran yang sesuai dengan gaya siaran atau "image" stasiun radio yang ada : Kesehatan (Gaya siaran : "dewasa", bahasa semi formal)


Bagi wanita / rambut adalah mahkota yang bisa mempercantik penampilan // Tapi bagi seorang ilmuwan / rambut berfungsi untuk mendeteksi kelainan pola makan yang dialami seseorang // Baru-baru ini / seorang ilmuwan dari Utah Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap seribu lebih wanita berusia 12 hingga 25 tahun // Para ahli meneliti kandungan zat pada rambut dihubungkan dengan pola makan dan kesehatan // Hasilnya / rambut yang mengandung karbon dan nitrogen menunjukkan sang pemiliknya mengalami anorexia nervosa atau bulimia // Penelitian juga menunjukkan / wanita yang pola makannya tidak sehat dapat dilihat dari kondisi rambut yang tidak sehat pula // Nah / jika anda ingin tahu apakah pola makan anda selama ni sudah sehat atau belum / coba perhatikan kondisi rambut anda sekarang juga //

Catatan :
garis miring satu (/) untuk mengganti fungsi koma, berarti penyiar dapat bernafas sebentar

garis miring dua (//) untuk mengganti fungsi titik sehingga penyiar dapat menghentikan bacaan sebentar saja.

garis miring tiga (///) untuk menentukan akhir naskah.

Semoga bermanfaat :) (Dini)

Kamis, September 22, 2011

Mengapa Radio ?

Radio telah melampaui gaya hidup saat ini .. Saat ini orang banyak uang dan sedikit waktu. 85% dari semua orang Amerika mengeluh bahwa mereka tidak punya waktu untuk membaca koran. Radio dapat dibawa pergi ke mana saja kapan saja.


99% dari seluruh rumah tangga memiliki radio

95% dari semua kendaraan bermotor memiliki radio

61% dari semua orang dewasa memiliki radio di tempat kerja

Radio mencapai orang di mana pun .. di mobil, di rumah, di tempat kerja, dalam perjalanan ke dan dari mana saja

Radio menarik bagi imajinasi setiap individu .. teater pikiran!

Radio menarik bagi emosi manusia

Radio meyakinkan pendengar untuk mengambil tindakan

Radio adalah media yang langsung ... Anda dapat berada diproduksi dan di udara dengan pesan Anda hanya dalam beberapa jam

Pesan radio ini mudah berubah .. biaya produksi rendah

*Sumber : The Radio Station, Broadcast, Satellite & Internet
Michael C. Keith, Seventh Editions, Focal Press, 2007

Jumat, September 16, 2011

Radio Vs Koran & TV

Langkah pertama menjadi seorang jurnalis radio adalah memahami kelebihan radio dan alasan mengapa radio itu begitu potensial. Sehingga kita dapat menggunakan kelebihan itu untuk menghasilkan kekuatan dan menjadikan radio kita tetap diingat oleh pendengar.


Sebagian besar orang berpikir bahwa radio paling cepat gerakannya, paling up-to-date, media paling portabel tersedia di lokasi dari mobil sampai dapur. Berita surat kabar dianggap tertinggal dibandingkan dengan radio dan televisi. Tabloid dilihat hanya sebagai menghibur dan merangsang lembaran skandal, fokus lebih pada bintang tv dan film daripada acara berita nyata/live event. Surat kabar dianggap lebih peduli dengan analisis rinci dan komentar.

Meskipun sekarang bermunculan saluran berita 24 jam seperti CNN, Sky News dan BBC News 24, televisi juga dianggap sebagai media yang kompleks membutuhkan banyak orang untuk membuatnya bekerja, dengan kemampuan untuk bereaksi cepat untuk breaking news kadang-kadang terhambat oleh teknis. Tidak mengherankan bahwa ketika breaking news, tv kembali ke 'modus radio' dan menyiarkan wawancara dengan saksi mata/nara sumber dan reporternya melalui telepon sementara peralatan satelit yang diperlukan membutuhkan waktu cukup lama untuk menyiarkan gambar hidup dan kualitas suara yang baik.

Orang mendengarkan berita radio ketika mereka membutuhkan informasi untuk mengetahui dengan cepat apa yang sedang terjadi. Mereka menyadari bahwa karena berita radio sangat sederhana dan pendek, up to date dan lebih fokus pada pelaporan fakta.

Kalau boleh, mengutip sebuah slogan stasiun yang pintar mempromosikan kelebihan berita radio di Dublin, Jerman : 'Anda dapat menonton suatu acara malam ini, Anda dapat membacanya besok, tapi Anda dapat mendengarnya sekarang di Newstalk 106'.

Cepat dan Sederhana

Radio memiliki peluang terbaik ketika dia 'hidup' dan bereaksi terhadap suatu peristiwa yang terjadi 'sekarang'. Hanya dengan teknis yang sederhana, sebuah berita dapat mengudara dalam hitungan detik dan diperbarui sesuai dengan perkembangan peristiwanya. Terbaik dengan berita yang membutuhkan reaksi cepat. Sifatnya fleksibilitas. Hal ini yang tidak ada di media lain karena relatif sedikit orang yang terlibat dalam prosesnya.

Berita radio dapat disiarkan hanya dengan satu orang dan telepon. Tidak ada kamera, lampu atau asisten produksi. Biasanya, itu hanya salah satu penyiar dan mikrofon atau telepon memisahkan dia dari pendengar. Anda harus selalu berusaha untuk memanfaatkan aset radio terbesar - kecepatan dan kesederhanaan.

Membuat 'gambar'

Radio adalah media terbaik untuk merangsang imajinasi. Dengan melakukan apa yang radio terbaik lakukan - menyiarkan di udara dari tempat kejadian dengan cepat dan menggambarkan acara sehingga pendengar dapat membayangkan apa yang terjadi - Anda menggunakan alat-alat canggih yang paling Anda miliki: kedekatan dan imej.

Pendengar selalu berusaha membayangkan apa yang dia dengar dan apa yang sedang dijelaskan. Terdapat 'gambar' yang menyentuh emosional - seperti suara menangis seorang ibu di sebuah informasi tentang anak remajanya yang hilang. 'Gambar' di radio tidak terbatas oleh ukuran layar, 'gambar' itu ukurannya tergantung pada yang Anda inginkan.

Personal

Radio adalah media yang sangat pribadi. Penyiar biasanya berbicara secara langsung kepada pendengar. Inilah alasannya mengapa sangat penting untuk berpikir tentang pendengar sebagai seseorang yang tunggal. Ketika Anda berbicara di radio, Anda tidak siaran ke banyak orang (meskipun didengar banyak orang) melalui sistem alamat publik raksasa. Anda berbicara kepada satu orang dalam cara Anda akan berbicara jika Anda memegang percakapan sambil minum kopi atau dalam keadaan santai.

Radio juga memungkinkan memunculkan emosi dari suara manusia yang minta didengarkan, dari tertawa sampai kemarahan dan rasa sakit untuk minta belas kasihan. Suara dapat menyampaikan lebih banyak daripada pidato yang dilaporkan. Karena ini adalah cara untuk menyampaikan sesuatu sama pentingnya dengan apa yang disampaikan.

Bersifat lokal

Kelebihan terbesar penyiaran berita di radio lokal adalah bahwa memberikan sebuah stasiun memiliki arti menjadi benar-benar lokal. Stasiun radio lokal bertujuan agar khalayak luas mengabaikan berita ke bahaya mereka. Dalam pasar yang semakin kompetitif, berita adalah salah satu dari beberapa hal yang membuat khas stasiun lokal dan 'dekat dengan Anda'.

Berita 'di sekitar pelosok' sering kali sama penting untuk pendengar sebagai berita dari seluruh dunia - jika tidak lebih ada banyak kasus. Namun, terdapat bahaya juga jika berita terlalu lokal. Kebijakan penilaian harus dibuat tentang apa yang lokal dan apa yang terlalu sempit atau pompa paroki. Buletin berita radio lokal bukan versi audio dari koran lokal, karena alasan ruang jika tidak ada yang lain. Penilaian tentang bagaimana lokal adalah lokal dan satu hal yang penting. Misalnya, cerita tentang seekor kucing sampai pohon terlalu sempit untuk semua stasiun radio. Cerita yang sama tentang petugas pemadam kebakaran yang tewas saat mencoba menyelamatkan kucing tidak hanya cerita lokal yang baik, itu adalah hampir pasti menjadi berita nasional.

Minggu, September 11, 2011

Advice to Programmers

Saran untuk para programer ini, aku kutip dari Buku "The Radio Station : Broadcast, Satellite and Internet" karya Michael C. Keith, Edisi ke 7 Tahun 2007, Focal Press. So .. selamat memahami :)


Aturan 1: ikuti pendengar, bukan format. Begitu banyak orang di radio terjebak dalam istilah-istilah seperti CHR, AC baru, alternatif, dan AAA bahwa mereka kehilangan jejak tujuan mereka: mencari pendengar.

Konsumen radio berpikir dalam istilah "apa yang saya suka" dan "apa yang saya tidak suka". Dengan meneliti selera pendengar anda dan memberi apa yang mereka inginkan (sebagai lawan untuk menyesuaikan definisi industri dari apa yang seharusnya mereka miliki), Anda akan memaksimalkan kesempatan Anda untuk sukses.

Aturan 2: Berpikir keluar-dalam (outside in), tidak dari dalam keluar (inside out). Fakta bahwa satu perusahaan sekarang dapat memiliki beberapa stasiun di dunia penyiaran dan mempunyai kemampuan, misalnya, Skewing One FM memilih segmentasi pendengarnya perempuan yang lebih muda dan yang lainnya memilih pendengarnya dari kalangan perempuan yang lebih tua, namun tidak secara otomatis "mendominasi perempuan".

Satu-satunya fakta yang penting adalah dari pendengar. Jika pendengar merasa stasiun melayani kebutuhan mereka, mereka dengan senang hati akan memberikan suara mereka untuk mendukung Anda. Tapi jika mereka percaya Anda hanya bisa menduplikasi apa yang sudah tersedia di radio yang lain, Anda tidak akan diperhitungkan.

Aturan 3: iklankan, iklankan, iklankan. Cara terbaik untuk mendapatkan hal tersebut adalah dengan mengiklankan nama Anda dan manfaat stasiun anda di radio Anda sendiri dan pada setiap media lainnya yang Anda mampu.

Just for fun, dibawah ini ada sebuah diagram, saya kadang-kadang menggunakan untuk menunjukkan pertama kali ke Direktur Program, berbagai faktor yang mempengaruhi peringkat stasiun mereka:

X - Y
----- x B = rating anda
A

X adalah apa yang stasiun anda lakukan

Y adalah apa yang pesaing anda lakukan

A mewakili "lingkungan" faktor-faktor di pasar, seperti apa yang ada di tv selama survei, kerusuhan, banjir, gempa, dan (dalam beberapa kasus) sidang OJ.

B adalah apa yang dilakukan layanan rating. Dalam kasus Arbitron, ini akan mencakup tingkat respon, prosedur mengedit, dan distribusi harian oleh ras, usia, dan jenis kelamin.

Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa sebagai direktur program, satu-satunya bagian dari persamaan di atas yang Anda dapat mengontrol adalah X. Lakukan yang terbaik yang bisa anda lakukan untuk menjaga stasiun terdengar menarik, menghibur, dan terfokus pada target audiens, dan jangan jadikan aib sebagai salah satu elemen yang Anda tidak dapat kendalikan. (Dini)

Catatan :
* Arbitron adalah salah satu perusahaan pengguna research di Amerika Serikat yang menggumpulkan data pendengar radio

Selasa, Juli 12, 2011

Siaran Malam

Tahukah kamu katanya seorang penyiar (terutama laki-laki) belum dikatakan benar2 seorang penyiar kalo belum merasakan siaran di malam hari (tengah malam) ? Penasarankan pengen tahu sebabnya ? Aku juga .. meskipun sering siaran malam tapi ngga pernah sampai tengah malam. Maksimal jam 9 malam. Selain alasan cape karena udah seharian beraktivitas (Itupun aku ngambil acara dialog, untuk program request di malam hari, biasanya kuserahkan sama penyiar yang lain), radio kami juga punya kebijakan untuk penyiar perempuan maksimal siaran jam 9 malam kecuali siaran duet. Alasan keamanan tentunya :)


Back to topic .. Banyak alasan kenapa penyiar memilih siaran di malam hari. Bisa jadi karena memang waktu kosongnya cuman malam hari, siangnya kerja. Namun lebih dari itu, ternyata siaran di malam hari itu adalah jualan image. Kedekatan penyiar dan pendengar di malam hari akan membuat image tertanam di hati pendengarnya. Pendengar di malam hari (jam 10 malam ke atas) lebih konsentrasi dibanding dengan jam-jam lainnya. Mereka lebih kritis dan kebanyakan sedang "sakit". Bukan dalam arti sebenarnya, tapi sakit karena kesepian, patah hati, perlu teman curhat, lembur, belajar, terserang insomnia dll.

Kalo penyiar mampu memasuki theatre of mind dan memasuki lingkup emosi pendengar, bukan hal yang tidak mungkin dia akan menjadi bintang di mata pendengarnya. Pendengar akan berusaha menghubungi, ngobrol, curhat, akhirnya minta nomor telepon pribadi, ngasih hadiah, ngajak makan, main keluar dll.

Nah .. kalo sudah dalam kondisi seperti ini, kontrol diri sangat penting bagi seorang penyiar. Jangan sampai jadi racun bagi diri kita. Banyak kasus2 affair yang akhirnya membuat image bahwa semua penyiar (terutama laki-laki) adalah buaya. Sering mempermainkan perempuan dan masih banyak lagi image jelek lainnya.

Kalo ada pendengar yang memuji dan mengagumi suara penyiar, jangan terlena. Anggap angin lalu meskipun penyiar tetap menanggapinya dengan sopan dan bijaksana plus ucapkan terima kasih.

Trus hindari kedekatan secara nyata dengan pendengar karena akan menjerumuskan diri penyiar itu sendiri. Tempatkan diri kita sebagai penyiar yang profesional dalam memperlakukan pendengar :) (Dini)

*sambil senyum2 sendiri mengingat kejadian pernah closing 15 menit sebelum waktunya supaya bisa kabur dari pendengar laki2 yang pengen ketemu abis on air (bener2 kapok siaran malam palagi pas sendirian, makanya sekarang cuman ambil satu kali dalam seminggu, itupun acaranya dialog)

Kamis, Juli 07, 2011

Operating Skill

Beberapa hari yang lalu, aku ngobrol dengan salah satu mahasiswi yang melakukan riset di tempat kerjaku. Sekalian nanya2 gimana perkembangan radio komunitas kampus yang mereka kelola. Sempat prihatin dengan kabar yang kudengar. Akhir2 ini radio itu tidak mengudara lagi. Salah satu penyebabnya adalah minimnya kemampuan seorang penyiar dalam mengoperasikan perangkat siar (Operating skill).


Yups .. seorang penyiar tidak hanya pintar berbicara. Dia juga harus bisa mengoperasikan perangkat siar. Memang sih, ada beberapa radio yang menggunakan tenaga operator untuk mengoperasikan perangkat siar. Penyiar tinggal konsentrasi pada kualitas komentar dalam siarannya. Namun, seperti di tempat kerjaku dan mayoritas radio sekarang mengharuskan penyiarnya untuk dapat mengoperasikan perangkat siar tanpa bantuan operator. Kebayangkan .. gimana repotnya ? Konsentrasi penyiar akan terbagi antara mengoperasikan perangkat siar dan kualitas komentarnya. Semua itu ada kelebihan dan kekurangan masing2.

So .. di sini kita fokus kepada penyiar yang langsung mengoperasikan perangkat siar. Yang harus dikenali adalah perangkat siar yang terdiri dari mixer, komputer untuk memutar lagu dan iklan, dan cue program. Biasanya di radio minimal ada 3 potensio mixer yang harus dimainkan oleh seorang penyiar. 1 untuk mic dan 2 untuk player (lagu dan iklan). Kalo di tempat kerjaku, mixernya menggunakan 16 potensio. Tapi yang terpakai ada 8 potensio yaitu 4 mic (untuk penyiar dan guest), 2 line telepon, 1 player (lagu dan iklan) dan 1 (untuk rellay tv, radio, acara live di studio 2).

Dalam mengoperasikan perangkat siar ini diperlukan feeling yang tajam untuk mengombinasikan antara waktu bicara dengan kemampuan tangan memutar lagu, iklan atau aksesoris lainnya (cue programs, bumper, sound effect dan lain-lain) dengan halus dan pas demi kenyamanan pendengar. Awal-awal sih memang ngga mudah. Kadang2 bingung, mana potensio yang harus diaktifkan dan mana yang ngga. Pernah kejadian, suara penyiar saat break terdengar di radio gara2 dia lupa mematikan potensio mic pas saat lagu diputar. Trus pendengar kesal gara2 penyiar ngga ngangkat telepon. Memang diperlukan kejelian untuk melihat tanda telepon di mixer. Bunyinya dimatikan supaya tidak mengganggu saat on air. Digantikan dengan tanda lampu kecil berwarna merah yang nyala pabila ada telepon yang masuk.

Apapun itu .. yang pasti seorang penyiar tetap harus belajar dan berusaha untuk dapat mengoperasikan perangkat siar dan konsentrasi pada kualitas komentarnya .. semangaaaaaaaaaat :) (Dini)

Minggu, Oktober 24, 2010

Jenjang Karir Penyiar

Menjadi seorang penyiar ngga hanya terpaku pada tugas siaran aja. Dengan skill yang bagus, kemampuan berkomunikasi yang baik dan ditambah attitude yang menunjang, banyak peluang karir yang dapat kamu masuki. Entah pekerjaan itu masih berhubungan dengan dunia siaran atau tidak. Jadi kamu ngga perlu bingung apalagi ketika menghadapi masa "pensiun" siaran he3

Pekerjaan yang dapat dilakukan terbagi menjadi tiga yaitu pekerjaan yang masih berhubungan dengan penyiaran, pekerjaan di luar penyiaran tapi masih dalam lingkup bisnis radio dan pekerjaan yang sama sekali ngga ada hubungannya dengan keduanya. Nah .. lo !! Penasarankan ? Yuuk baca selengkapnya .....


Pekerjaan yang berhubungan dengan penyiaran

1. Station Manager (SM)

Adalah orang yang bertanggung jawab terhadap "hidup-mati"nya stasiun radio secara menyeluruh. Mulai dari penyiaran, marketing, teknik sampai kesejahteraan karyawan.

2. Program Director (PD)

PD bertugas dan bertanggung jawab pada perencanaan acara, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan program di radio. Dia juga bertanggung jawab pada mobilitas kerja bawahannya. Selain itu dia juga mikirin rating radio, penjualan dan mampu untuk mencari keuntungan.

3. Project Officer (PO)

Itu istilah keren dari produser acara. Bertanggung jawab terhadap kelancaran dan kelangsungan sebuah acara baik live atau recording. Dia juga menyiapkan komponen-komponennya yaitu SDM dan peralatan. Penuh kreatifitas dan mampu membuat program acara lebih menarik.

4. Music Director (MD)

Tugasnya menyetok, memilih dan mengontrol perputaran lagu di radio. Biasanya MD mempunyai special taste dalam melihat sebuah lagu. Dia punya feeling yang kuat apakah lagu tersebut akan hits atau tidak. Dia juga menyusun chart atau tangga lagu. Selain itu, MD akan berurusan dengan banyak label company baik dalam maupun luar negeri.

5. Bagian Produksi

Pekerjaannya lebih fokus pada ruang rekaman. Tugasnya berhubungan dengan kreatif suara seperti pembuatan spot iklan, acara-acara rekaman yang akan diputar dan memerlukan proses recording, sound creative dan lain-lain.

6. Bagian Kreatif Radio

Biasa disebut Tim Kreatif. Tugasnya memikirkan dan mencari ide-ide kreatif. Misalnya membuat acara-acara baru, muatan acara (content program), ide besar sebuah iklan, script iklan, dan hal lain yang berhubungan dengan perencanaan. Ide-ide ini nanti dieksekusi oleh Program Director.

7. Script Writer

Menyiapkan naskah radio untuk dibaca oleh penyiar yang siaran baik untuk acara live maupun recording.


Pekerjaan di Luar Penyiaran

1. Marketing

Tugasnya memasarkan produk radio (program acara) kepada pengiklan. Dia dituntut untuk mengerti program acara. Misalnya segmentasi, content program, jangkauan siaran, prime time dan lain sebagainya. Nah .. untuk menjalankan tugas ini dengan baik, kemampuan sebagai penyiar akan lebih mendukung.

2. Off Air

Ini adalah event organizer-nya radio. Tugasnya menggelar acara-acara off air seperti peringatan HUT radio atau yang terkait dengan program acara. Divisi off air ini dapat berdiri sendiri atau bekerjasama dengan EO lain untuk kesuksesan acara baik in door maupun out door.

3. Administrasi

Di radio, juga perlu administrasi. Berkaitan dengan pembuatan proposal program acara, absen siaran, lock book, surat kerjasama, surat untuk nara sumber dan lain-lain.

Pekerjaan Di Luar Bisnis Radio

1. Master of Ceremony (MC)

Dengan bekal kemampuan komunikasi, kepiawaian mengolah kata-kata dan berbicara dengan durasi panjang tanpa putus merupakan modal seorang penyiar untuk merambah dunia MC.

2. Presenter TV

Sudah banyak contoh presenter handal baik dalam negeri maupun luar negeri yang lahir dan memulai karirnya sebagai penyiar.

3. Dubber

Udah biasa baca skrip siaran kan ? Cara bacanya juga terdengar seperti orang yang sedang berbicara alias tidak terkesan "membaca" kan ? Nah ini juga merupakan modal untuk memasuki dunia dubber. Katanya pekerjaan ini menyenangkan, jam kerja bisa diatur dan bayarannya lumayan. Hem .. patut dicoba nih :)

9. Pemain Sinetron

Abis kena marah Station Manager, langsung siaran,"Assalamu'alaikum .. insan persada. Senang sekali saya bisa kembali hadir menemani anda dalam program ...." Padahal hati lagi bete :p

10. Tukang Foto

Nara sumber : "Mbak .. tolong foto kan saya ya ! untuk dokumentasi !" sambil menyerahkan kamera hp. Jepret !!

11. Operator Telepon

"Halo .. dari siapa dan dimana ? Mau request lagu apa ? Kirim salamnya buat siapa ?"

Oya .. ada yang mau nambahin ?? (Dini)

Sabtu, Agustus 28, 2010

Naskah Siaran : Write The Way You Talk

"Tulis seperti apa yang mau kamu katakan" atau "Tulis seperti apa kamu mau didengar" .. Kurang lebih seperti itulah terjemahan kalimat di atas. "Write the way you talk" adalah rumus populer dalam penulisan naskah radio. Jadi, apa yang hendak kamu katakan itulah yang muncul berupa tulisan di naskah. Tentu saja, tidak sama persis seperti cara dan gaya bicara kamu sehari-hari, tapi sudah dipoles dengan bahasa Indonesia yang "baik" dan "benar".

Hal ini harus dipahami karena karakteristik radio dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan bermuara pada produk auditif. So .. penulisan naskah radio pun diarahkan untuk konsumsi telinga, bukan untuk mata seperti konsep penulisan di media cetak.


Untuk memudahkan penulisan gaya auditif, kamu bisa ikuti langkah2 berikut ini :

1. Pikiran

Dalam tahap ini, kamu harus membaca dan memahami apa yang hendak kamu tulis. Entah itu materi yang hendak ditulis ulang (rewrite) misalnya informasi atau berita yang didapat dari koran, majalah atau internet, atau materi yang didapat ketika meliput di lapangan.

Kemudian pilih topik apa yang akan menjadi inti informasinya. Tentukan pula dampak apa yang hendak dicapai tulisan tersebut terhadap pendengar. Hal ini penting karena keduanya merupakan kerangka utama alur penulisan. Makin tajam topik yang dipilih, makin mudah juga pendengar memahami kehendak kamu. Jika topik makin lebar, justru pendengar akan sulit memahami maksud tulisan yang kamu siarkan.

2. Perkataan

Setelah tahap pertama selesai, kamu dengan bersuara dapat menceritakan hal yang hendak ditulis. Kalau perlu bayangkan seolah-olah kamu berhadapan dengan seseorang. Agar tulisan yang kamu buat mencapai kondisi "bertutur" (Ingat !! naskah radio untuk konsumsi telinga). Jika kamu tidak melakukan hal ini, maka dapat dipastikan (katanya para ahli sih ... he3) tulisan kamu akan berbelok menjadi naskah untuk kebutuhan mata, bukan telinga.

3. Tulisan

Sekarang tulis apa yang kamu katakan tadi. Apa yang kamu ceritakan dengan suara keras tadi, ditulis menjadi tulisan tanpa perubahan apapun. Jadi, kalau kamu membaca ulang hasil tulisan tersebut maka kesan dan isinya sama dengan apa yang dikatakan tadi, termasuk bunyi tulisan itu sama seperti orang yang sedang berbicara.

4. Perbaikan

Terakhir, perbaiki naskah yang kamu tulis tadi. Terutama di bagian bahasanya. Karena naskah tersebut bunyinya sama dengan percakapan sehari-hari, bisa saja memuat kata-kata yang tidak lazim, misalnya istilah, ungkapan atau bahasa gaul yang hanya dipahami orang2 tertentu saja. Kamu bisa perbaiki kata2 tersebut, sekaligus tampilkan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Nah .. jika ke empat langkah ini sudah dilakukan, maka naskah yang kamu buat untuk siaran radio telah mencapai konsep auditif. Insya Alloh. Jadi pas dibacakan oleh penyiar atau reporter, muncul kesan akrab dan personal yang dirasakan oleh pendengar. Yang lebih penting lagi, pendengar tidak merasa seperti dibacakan naskah, tapi lebih terkesan seperti sedang diceritakan sesuatu secara spontan. Padahal apa yang disiarkan itu semua tertulis dalam naskah.

Ok .. sekian dulu sharingnya .. mga bermanfaat (Dini)

Jumat, Juli 02, 2010

4 M + 1 G

Jadi penyiar itu gampang-gampang susah. Ngga cuman asal ngomong aja tapi juga dituntut untuk serba tau (well-informed). Bukan untuk menggurui tapi untuk menjaga kualitas dan daya tarik dirinya. Apalagi untuk hal-hal yang sedang hangat dibicarakan orang (hot issue)mulai dari infotainment (isu seleb, musik, film dll), olahraga (ni kan musim piala dunia), ekonomi (TDL naik euy) sampai hal-hal yang terjadi di sekitar kita (isu lokal).

So .. pengetahuan dan wawasan yang luas harus dimiliki oleh seorang penyiar. Caranya gampang banget. Rumusnya 4 M + 1 G. Apa itu ?? yaitu Mendengar, Membaca, Melihat, Mengamati dan Gaul.


Mendengar
Mendengar apa saja di sekeliling kita. Dengan mendengar, kita mempunyai data lebih banyak ketimbang orang lain. Bahkan tidak menutup kemungkinan mendengarkan dari radio lain.

Membaca
Setiap ada waktu gunakan untuk membaca. Bisa membaca koran, majalah, tabloid, buku2, internet. Pas di lampu merah pun, mata kita gunakan untuk membaca. Dari spanduk yang terpampang, umbul2 yang terpasang, coretan liar sampai tulisan di jaket pengendara motor di depan kita.

Melihat
Melihat kejadian secara langsung di tempat kejadian atau melalui televisi.

Mengamati
Lebih dalam daripada melihat. Mengamati artinya melihat secara detail suatu kejadian untuk mengetahui sesuatu lebih banyak lagi.

Gaul
Dengan bergaul langsung dengan masyarakat sesuai segmentasi dan kelas sosialnya, kita akan mengetahui hal apa saja yang sedang trend.(Dini)

Senin, Maret 29, 2010

Nikmatnya Jadi Penyiar

Judulnya provokatif banget ya ? Sebenernya aku ngga bermaksud seperti itu. Apalagi mungkin sebagian orang masih ada yang berpandangan profesi seorang penyiar bukanlah sesuatu yang menjanjikan. Kalaupun ada yang 'kecebur' ke dalam dunia penyiaran ini, itupun dianggap sebagai batu loncatan. Siapa tau ketemu pendengar maupun kolega yang nawarin pekerjaan yang lebih mapan atau bisnis yang mencerahkan. Kalau sreg di hati, kenapa ngga ?? bungkuuuuuus !!


Ada juga yang mengatakan menjadi seorang penyiar hanyalah sekedar hobi. Untuk seseorang yang suka musik, bekerja di radio tentulah sangat mengasyikkan. Selain memberikan informasi dan hiburan kepada pendengar, juga mendengarkan dan menikmati musik. Lebih2 untuk musik new release atau single terbaru, sebelum albumnya beredar di pasaran, kita udah tahu duluan. Jadinya lebih gaul gitu ?? *ya haruslah .. masa penyiar kuper ^^"

Apapun alasannya .. kalau aku secara pribadi sangat menikmati dunia ini. Banyak manfaat positif yang kudapat.

Pertama, kesalur hobinya.

Kedua, terdorong terus untuk menambah ilmu.
Tuntutan profesi, seorang penyiar harus memiliki pengetahuan yang luas dalam segala bidang. Maksudnya supaya nyambung terus dan juga bisa ngedukung kualitas komen pas siaran sehingga bisa punya nilai lebih di mata pendengar.

Ketiga, terdorong untuk memperbaiki sikapnya.
Yups .. seorang penyiar akan banyak punya temen, ga hanya temen sekerja atau seprofesi, tapi juga dari pendengar, pengiklan, nara sumber, artis dan masih banyak lagi. Nah .. tentunya dia akan bertemu berbagai macam karakter orang dan belajar bagaimana cara menghadapinya.

Ketiga, pahalanya akan terus mengalir sampai hari kiamat.
Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa ”ketika anak Adam meninggal putus seluruh amalnya kecuali tiga hal, salah satunya adalah ilmu yang diamalkan dan diajarkan”.

Keempat, teman dan saudara dengan berbagai vairiasi lebih cepat bertambah.
Seperti pada point tiga, seorang penyiar akan bertemu dengan orang baru yang memiliki pandangan dan pendapat baru. Khasanah kehidupannya akan semakin kaya.

Kelima, Ada kepuasan batin bila yang mendapat inspirasi atau pencerahan dari kita (atas izin dan pertolongan Allah) berubah kehidupannya menjadi lebih baik.
Misalnya pas ngisi acara curhat, dengerin masalah pendengar dan belajar menyelesaikannya. Seneng rasanya jika ada pendengar yang berhasil dalam kehidupannya, mendapat banyak SMS dan email yang mengucapkan terima kasih karena kehidupan mereka telah berubah menjadi jauh lebih baik.

Keenam, terdorong untuk menulis buku dan membuat audio agar orang semakin banyak orang yang tahu tentang pikiran dan pandangan kita. Dalam jangka panjang hal ini bisa menjadi pasive income bagi kita.

Ketujuh, tertantang untuk menggali dan mencari ide-ide baru yang orisinil dan mencerahkan bagi kehidupan orang banyak.

Kedelapan, bisa dijadikan sumber mata pencaharian yang menjanjikan dan menggairahkan.
Seorang penyiar bisa ngembangin bakat berkomunikasinya dengan menjadi MC, dubber atau presenter di sela2 pekerjaannya.

Kesembilan, dekat dengan keluarga karena kita memiliki kebebasan waktu.

Rabu, Februari 17, 2010

Pilih Fulltime Atau Parttime ??

Mungkin sebagian besar orang mengira pekerjaan penyiar itu adalah sambilan. Istilah kerennya parttime. Ngga ada yang salah sih dengan persepsi semacam itu. Namun ketika kita memasuki dunia penyiaran, ada hal yang lebih luas lagi yang kita temukan. Tidak selalu penyiar itu identik dengan kerja paruh waktu.


Untuk masalah ini memang masing2 radio mempunyai kebijakan sendiri. Tapi pada umumnya, pekerjaan penyiar ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu :

1) Penyiar Parttime

Biasanya selain sebagai penyiar, mereka juga mempunyai pekerjaan tetap misalnya PNS, pegawai bank, guru dan sebagainya atau mereka masih berstatus mahasiswa atau pelajar. Income yang didapatpun umumnya dihitung berdasarkan jam kerja. Ada yang Rp. 5.000,- sampai Rp. 15.000,- per jamnya. Bahkan seorang penyiar benar-benar profesional bisa mencapai Rp. 30.000,- sampai Rp. 75.000,- per jamnya.

Untuk pelajar atau mahasiswa, sistem parttime ini sangat menggiurkan. Misalnya dia siaran 3 jam sehari dengan gaji Rp. 10.000,- per jamnya. Kalau dia efektif siaran rutin selama 25 hari per bulannya, dia bisa mengantongi Rp. 30.000,- x 25 = Rp. 750.000,- per bulan ditambah bonus lain, misalnya voice iklan dan lain-lain.

Selain dapat tambahan uang saku, dia juga akan terkenal paling tidak diantara temen-teman sekolah atau kampusnya.

2) Penyiar Fulltime

Untuk penyiar fulltime, biasanya mereka diangkat sebagai karyawan tetap di radio itu. Gajinya pun dibayar bulanan. Kisarannya sekitar Rp. 900.000,- sampai Rp. 2.000.000,-. Bonus diberikan sesuai dengan kebijakan perusahaan, seperti membuat narasi iklan, produksi iklan, reportase di lapangan dan lain-lain.

So .. seorang penyiar dihargai tergantung dari kualitas yang dimilikinya. Mudah2an hal ini bisa memacu seorang penyiar untuk terus mengasah kemampuan dan mengembangkan kualitas diri agar dapat dihargai dengan baik dari sisi finansial.

Jadi .. pilih fulltime atau parttime ??

(Dini)

Minggu, Februari 14, 2010

Prepare Before On air

Apapun yang kita kerjakan, pasti memerlukan persiapan. Sepakatkan ? Nah begitu juga sebelum kita siaran, prepare merupakan kunci kesuksesan penyiar. Karena apapun yang dikerjakan secara maksimal akan mendatangkan satu kenikmatan dam kepuasan yang luar biasa. Juga akan mendorong diri kita selalu melakukan yang lebih baik dan lebih baik lagi.


Tanpa persiapan yang matang, seorang penyiar akan tampil 'seadanya', ngga berbobot, kurang berkualitas dan terkesan just working.

So .. Prepare our self before on air

1. Usahain stand by di studio minimal 30 menit sebelum siaran. Maksudnya supaya kita memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan lingkungan studio. Trus kita juga punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan siaran.

2. Siapin materi siaran. Misalnya materi info, referensi lagu dan sebagainya. Kalo handle program dialog (wawancara), biasanya disiapin oleh project officernya, tapi lebih baik lagi kalo kita siapin sendiri .. untuk jaga2lah (kali aja ngga dibuatin atau pertanyaannya kurang mendalam he3)

3. Pelajari rundown siaran. Order apa aja yang harus kita kerjakan selama on air. Kalo ada yang kurang jelas, sebaiknya tanyain ama program directornya atau pihak yang berwenang. Ngga usah segan, daripada kita bingung pas on air .. Konsentrasi siaran jadi buyar .. kan bisa bahaya jadinya!

4. Relaksasi tubuh dan mulut. Usahain kita dalam keadaan bener2 santai, rileks, ngga tertekan dan tanpa ketegangan. Kalo perlu lakukan senam mulut untuk mengendorkan urat2 mulut dan kerongkongan. Biar lebih bebas aja dalam pengucapan kata2 alias jadi ga kaku. Trus sediain air putih di deket kita, biar sewaktu2 kita perlu, kita gampang ngambilnya ^^

5.Cari posisi duduk yang paling nyaman. Kalo misalnya berdiri lebih baik, kenapa ngga kita lakukan selama kita siaran, toh pendengar juga cuman bisa dengerin suara kita, ga tau posisi kita kayak gimana, yang penting kita selalu fokus pada mic (aku sering lho .. ngelakuin hal ini .. seru lagi)

6. Pastikan kondisi headphone sempurna. Agar kita bisa mengontrol suara kita. Cari kualitas suara di headphone yang paling nyaman buat telinga kita. Suaranya ngga terlalu keras atau juga ngga terlalu kecil.

Ok .. segitu dulu ya sharingnya .. moga bermanfaat. Sampai jumpa ^^

(Dini)

Sabtu, Desember 26, 2009

Berdua Lebih Baik ... !!

Udah lama banget pengen nulis artikel ini. Tapi baru kali ini bisa terwujud. Secara pribadi, aku jarang banget ngerasain hari libur. Tetep aja dapet jadwal siaran. Pas Hari Raya Idul Adha yang lalu, siarannya agak beda. Berdua .. dengan penyiar pemula yang masih dalam masa training. Jadi satu penyiar senior mendampingi satu penyiar pemula. Biar siaran lebih hidup, komunikatif dan meminimalisir kesalahan. Karena tanggung jawab siaran ditanggung berdua.


Aku jadi ingat dua tahun yang lalu, ketika aku baru bergabung dengan kru di tempat kerjaku sekarang. Awal-awal siaran .. aku juga didampingi dulu sama penyiar yang lebih senior. Biar bisa belajar bagaimana menghandle program acara tersebut. Sehingga siarannya dapat berjalan dengan lancar.

Tapi kadang-kadang yang terjadi sebaliknya. Siaran berdua ini justru hancur dan ngga bisa dinikmati oleh pendengar. Kesannya amburadul plus kacau. Penyiar baru merasa ngga PD dengan seniornya. Sehingga kesannya seperti baru belajar bicara atau bintang tamu yang ngga akan berbicara kalo ngga ditanya. Sedangkan penyiar senior kadang2 berlaku sebagai bintang dan merendahkan partner siarannya. Lebih parah lagi, kalo akhirnya ngerjain penyiar pemula ^^" Atau mungkin masing-masing ngga mau kalah dan berusaha mendominasi siaran .. kalo siarannya seperti ini, bisa dipastikan sangat jauh dari unsur keindahan dan ngga ada artistik siaran yang bisa dinikmati pendengar .. :(

Memang siaran berdua .. gampang-gampang susah ! Intinya bagaimana menggabungkan dua kepribadian yang berbeda untuk mendapatkan satu warna siaran yang bagus. Saling mengisi kekosongan masing2. Jeli melihat dan memanfaatkan celah untuk mengembangkan suatu komen, nyambung dan ngga garing.

Hal tersebut bisa diatasi dengan komunikasi (bukan karena aku kuliah di komunikasi ya hehehe). Menyamakan persepsi, rambu-rambu dan warna siaran seperti apa yang ingin dibentuk sebelum on air. Biasanya hubungan penyiar di luar jam siaran akan sangat berpengaruh. Jadi usahakan untuk selalu berinteraksi untuk bisa saling memahami cara berbicara, arah pembicaraan dan mengetahui celah untuk mengembangkan pembicaraan. Dengan mengetahui karakter masing-masing pribadi secara ngga langsung dapat membantu kelancaran siaran berdua.

Oia .. Masing2 juga harus membuang sikap2 negatif seperti ngga PD nya seorang penyiar pemula, perasaan "lebih pintar"nya penyiar senior atau keegoisan dari kedua penyiar tersebut. Percayalah .. jika keduanya berhasil menghadapi rintangan2 tadi maka kesolidan siaran duet akan bisa tercapai. Siarannya akan sangat hidup, bisa dinikmati pendengar dan bersiaplah menjadi "BINTANG" !!

Selamat Mencoba (Dini)

Selasa, Desember 08, 2009

Tips Ikuti Audisi Penyiar

Tulisan ini muncul abis aku chat ama seseorang. Dia cerita udah lulus tahap I Audisi di sebuah radio swasta di Magelang. Sekarang bingung ngadepin tes tahap II yaitu tes vokal dan bikin skrip siaran. Dengan bekal pengalamanku yang masih sedikit, mudah2an postingan kali ini bisa membantu ya ..


Sebelum masuk tes atau ujian, pastikan kita udah nyiapin segala sesuatunya. Jangan hanya berspekulasi tanpa persiapan sama sekali dan membiarkan otak kita blank dari informasi dan pengetahuan seputar radio di mana kita mendaftar. Jangan biarkan hal2 kecil menjadi penghambat langkah kita untuk menggapai impian menjadi penyiar profesional.

Yang perlu diperhatikan adalah :

1. Dengarkan dan pelajari radio bersangkutan

Catat gelombang radio atau frekuensinya, no telpon, no SMS, kata-kata kunci penyebutan pendengar (listener, insan persada, boys and girls, akhi wa ukhti dll), penyebutan lagu (tembang, kidung, hits dll), penyebutan untuk telpon (dial, telfon, call dll) atau kata-kata lainnya yang jadi ciri khas radio tersebut.

2. Gaya Siaran

Perhatikan gaya siaran dari radio tersebut, mulai dari style, pemilihan bahasa, dll. Untuk radio anak muda, kuasai gaya siaran pilihan pendengar (acara request). Untuk radio dewasa, pelajari acara semacam talkshow, lagu kenangan, bincang bisnis, opini pendengar dll. Tirukan bagaimana mereka siaran. Kalo perlu tulis comment mereka sebagai latihan.

3. Buat skrip siaran

Mulailah berlatih nulis skrip siaran untuk bahan tes adlibbing. Informasi lebih lanjut bisa baca tulisan ku sebelumnya ya (Note : Membuat naskah siaran)

4. Datang ke radio dimana kita daftar, mintalah copy tangga lagu (chart)di radio itu. Lagu Indonesia atau mancanegara sebagai referensi kita untuk mengetahui lagu-lagu yang sedang menjadi Top Request. Lafalkan judul lagu berbahasa Inggris secara benar dan luwes seperti seorang penyiar profesional.

5. Asah kemampuan berbahasa Inggris, karena hal ini penting untuk profesi sebagai penyiar.

6. Latihan tes logika, hal ini penting untuk mengukur kemampuan berfikir kreatif seorang penyiar.

7. Selalu ikut informasi terbaru yang sedang in dari majalah, koran, TV, radio, internet dll. Dari masalah politik, sosial, ekonomi, budaya sampai infotainment.

8. Baca koran pagi dan perhatikan benar headline news-nya sampai hal2 yang menjadi hot issue hari itu sebelum berangkat tes.

Tips di atas hanya garis besarnya aja ya .. tapi mudah2an bisa memberikan gambaran dan persiapan yang cukup untuk menghadapi tesnya. Yang pasti percaya diri yang tinggi dan pengetahuan yang luas akan sangat mendukung performa kita. Keseriusan dalam menghadapi seleksi penerimaan penyiar baru menjadi nilai lebih yang akan sangat diperhitungkan oleh tim penyeleksi. Sukses ya !!(Dini)

Rabu, November 11, 2009

Naskah Siaran

Mungkin ada yang bingung dengan judul di atas. "Siaran pakai naskah ? yang bener aja," pikir mereka. "Kalo siaran .. ya siaran, bicara sesuai dengan apa yang dipikirkan, ga perlu pake naskah, emang mau bikin sandiwara radio, ribet banget sih". Hem .. mungkin bagi penyiar yang udah pinter banget berkata-kata, emang ga perlu kali ya tiap siaran bikin naskahnya. Namun bagi para pemula, keberadaan naskah siaran sangatlah penting.


Karena kualitas seorang penyiar itu bisa dilihat salah satunya dari kemampuan dirinya secara spontan dalam mengekspresikan kata-kata yang terucap dari bibirnya saat mengudara. Sehingga kemampuan announcing dan adlibbing mutlak diperlukan untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Suara dan kata-katanya terdengar lentur, mengalir, luwes, ekspresif dan menyenangkan bagi pendengarnya. Jadi seorang penyiar tidak hanya duduk di depan mic dan kemudian bicara "hai" atau "hallo" saja. Tetapi dia juga harus mampu memberikan suatu emosi pada kata-kata yang diucapkannya dan menciptakan "teater of mind" pendengarnya.

Nah .. salah satu cara untuk melatih kemampuan adlibbing atau bicara spontan adalah dengan menulis naskah siaran. Dengan membiasakan diri berlatih menulis sistematis, kita juga nanti akan terbiasa untuk bicara fokus tanpa berbelit-belit. Selain itu akan meningkatkan daya tarik penampilan kita jika kita menulis komen-komen berbobot.

Naskah siaran berisi nama penyiar, nama stasiun radio, nama program acara, nomor telepon, nomor sms, isi komen, judul lagu dan penyanyinya. Kemudian naskah terdiri dari tiga bagian yaitu untuk opening greeting (salam pembuka), comment (komentar), closing greeting (salam penutup).

Contoh Naskah Siaran

Program Intips

Durasi : 60 menit
Konten : Informasi dan Tips tentang karir, kesehatan, tanaman dan makanan
Lagu : Malaysia

Opening Greeting

Assalamu’alaikum wr wb

Apa kabar insan persada ? Mungkin Anda masih merasakan atmosfer liburan / Belum bersemangat bekerja /// Namun / hal ini bukan menjadi “pembenaran diri” bahwa Anda bisa berleha-leha, kan? // Kembalikan produktivitas kerja Anda dengan tips yang akan saya bagikan / selama 60 menit ke depan / dalam Intips / Informasi dan Tips // Tetap setia di Abdi Persada FM / jendela informasi dan media hiburan terdepan /// Ada Ami Search dengan Isabella ///

---- lagu -----

comment 1

Menurut female.kompas.com / Jika anda ingin hari-hari anda lebih produktif / cobalah rencanakan aktivitas kerja sehari anda dengan model kurva melengkung /// Mulai dengan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan di awal hari /// Begitu mulai “panas”/ selesaikan pekerjaan yang mulai sulit / atau yang biasa Anda hindari // Lakukan pekerjaan yang paling sulit usai makan siang // upayakan makan siang secukupnya saja / jangan terlalu kenyang karena mengakibatkan kantuk // lalu akhiri hari dengan mengerjakan tugas yang tak terlalu memusingkan //

---- lagu -----

Closing Greeting

Baik .. insan persada // Sedikit tips yang saya bagikan / semoga bisa membantu agar hari-hari anda lebih produktif // Nantikan informasi dan tips menarik lainnya / hanya di Abdi Persada FM // Saya .. pamit undur diri // Wassalam ///

Ok .. Sebenarnya ini merupakan salah satu naskah yang digunakan untuk tes adlibbing calon-calon penyiar yang melamar di radioku. Kamu bisa mengembangkan sesuai dengan versimu. Semoga bisa bermanfaat dan bisa digunakan untuk media latihan ..

Sampai Jumpa di Tips Siaran berikutnya (Dini)

Rabu, November 04, 2009

Peduli Kualitas Audio

Seorang penyiar harus mempunyai kepekaan dan kepedulian yang besar pada kualitas audio dan daya pancar radio. Pelajaran penting ini kudapat dari pengalamanku sendiri. Waktu itu, aku lagi asyik siaran program acara "Intips". Sebuah program acara reguler yang menghadirkan informasi dan tips-tips menarik diselingi dengan lagu-lagu dari negeri jiran Malaysia.


Aku begitu menikmati siaranku. Karena emang berawal hobi cuap-cuap sendiri. Jadinya kesalur deh .. Dengan antusias aku berbagi informasi kepada pendengar. Lagi asyiknya siaran, temanku masuk ke ruang studio sambil tersenyum cengengesan. Hatiku merasa ngga enak. Kayaknya ada sesuatu yang terjadi. Bener juga ternyata ! Aku tidak sadar kalo siaranku tidak terpancar dengan sempurna. Cuman terdengar di studio aja.

Gara-garanya tegangan listriknya turun. Jadi cuman bisa supply sebagian peralatan di studio, tapi pemancarnya mati. Dan temen-temenku sengaja membiarkan aku terus siaran. Biasalah kru emang pada usil.

Mulai saat itu, aku perhatian banget ama kualitas audio dan daya pancarnya. Tape yang sengaja diletakkan di samping meja siaran, sering banget kudengerin pas break. Emang fungsinya untuk monitor kualitas siaran yang didengar pendengar. Karena biasanya pas siaran, si penyiar memantau kualitas audionya dari earphone yang tersambung di mixer. Makanya pas kasus di atas, aku ga sadar kalo siarannya ga tersiar ke pendengar hehehe

So .. intinya seorang penyiar harus checking output radio setiap waktu :)

Moga share pengalaman yang sedikit ini bermanfaat ya .. (Dini)

Kamis, Agustus 06, 2009

Rundown Acara

Kangen banget ! Itu yang aku rasakan. Setelah hampir seminggu aku ngga posting satu tulisanpun. Seminggu sakit namun tetap kupaksakan untuk kerja membuat aku tepar juga. Bedrest total ngga bisa kuhindari. Malam minggu, siangnya plus malam seninnya, kulalui dengan nonton tv sambil berbaring, makan, kadang-kadang fesbukan lewat hpku. Membosankan. Tapi membuahkan hasil. Senin aku kembali bisa bekerja meskipun masih kurang fit dan siaran dengan suara yang serak. Banyakin minum air putih dan campuran madu, zaitun dan habatussaudah menjadi resep utamaku.


Padahal minggu-minggu ini juga termasuk minggu yang sibuk. Persiapan Konferensi Remaja Indonesia yang akan diadakan hari Minggu tanggal 9 Agustus 2009 ini. Mulanya aku diminta menjadi MC untuk acara itu. Tapi kondisi kesehatanku ngga mengizinkan. Akhirnya diambil keputusan untuk nge-briefing dua remaja muslimah yang akan menggantikanku. Jadwalnya mulai kemarin sore abis aku pulang kerja. Malam ini, aku bikinkan rundown acara untuk mereka secara detil. Insya Allah besok mereka latihan sendiri dan rencananya malam minggu pas gladi bersih, baru aku lihat hasil latihan mereka.

Membuat rundown acara udah jadi kerjaanku sehari-hari. Sejak menjadi penyiar, aku akrab dengan istilah seperti ini. Karena seorang penyiar ngga boleh mengabaikan waktu yang berjalan dan ngobrol seenaknya sendiri. Dia harus bisa memajemen waktu. Bukan hanya tepat waktu di saat siaran, ngga pernah datang telat dan selalu on time. Tapi seorang penyiar juga harus bisa mengatur, membagi dan memperhitungkan waktu yang terus berjalan di setiap siarannya dengan tepat. Kapan waktu memutar lagu, memutar iklan / jingle radio / insert / time signal, waktu antara durasi calling (koment), kapan live report / breaking news kalaupun ada.

So .. sebelum siaran, seorang penyiar harus membuat rundown siaran atau rencana siaran. Kemudian dia harus menjalankan setiap order yang tertulis dengan tepat per jam dan tanpa kesalahan. Ngga boleh kedodoran waktunya yang mengakibatkan iklan ngga diputar tepat pada waktunya dan acara menjadi kacau. Lebih-lebih untuk pemutaran time signal, seorang penyiar harus benar-benar tepat memperkirakan waktunya. Ngga boleh kurang atau lebih barang 1 menitpun. Kalo di radioku, ada program-program tertentu yang diputar pada jam tertentu. Misalnya setiap pergantian jam, ada Tanda Waktu yang harus diputar tepat pada jam yang bersangkutan. Setelah itu memutar Info Banua, lamanya maksimal 4 menit. Baru diputar jingle pindah acara. Pada menit ke 30' harus diputar program Indonesia 90 detik.

Dalam pembuatan rundown acara juga harus memperhitungkan kenyamanan pendengar. Misalnya, lagu baru terputar 1 menit kemudian meng-cut lagu tersebut untuk memutar Indonesia 90 detik. Seandainya hal itu terjadi, tentu akan mengganggu kenyamanan pendengar. Membuat mereka kecewa, marah, dan lebih parah lagi pindah ke channel radio yang lain .. Gawatkan !

Belum lagi kalo seorang penyiar mengasuh program dialog. Pada saat dia minta izin kepada narasumber untuk memutar iklan, dia harus melakukannya dengan cara halus dan memikat. Bisa membuat narasumber merasa nyaman dan pendengar juga merasa penasaran sehingga tetap menunggu sesi berikutnya. Hal ini juga didukung dengan kemampuan adlibbingnya.

Biasanya rundown acara itu dibuat untuk 30 menit, 60 menit dan 120 menit. Penyiar tinggal mengikuti saha sesuai dengan menit yang tertulis. Kapan memutar lagu, di menit keberapa memutar iklan, insert program, jinggle radio dan lain sebagainya. Penataan elemen siaran yang dimasukkan dalam rundown acara tersebut diatur oleh Program Director.

Contoh Rundown acara berdurasi 60 menit :

00.00 - 00.02 Opening Tune Program
00.02 - 00.05 Opening Greeting (Calling)
00.05 - 00.08 Lagu 1
00.08 - 00.10 Iklan 1
00.10 - 00.12 Insert 1
00.12 - 00.15 Comment & Info
00.15 - 00.18 Lagu 2
00.18 - 00.20 Iklan 2
00.20 - 00.23 Lagu 3
00.23 - 00.25 Comment & Info
00.25 - 00.30 Lagu 4
00.30 - 00.33 Iklan 3
00.33 - 00.35 Insert 2
00.35 - 00.40 Lagu 5
00.40 - 00.45 Comment & Adlibs Sponsor
00.45 - 00.48 Lagu 6
00.48 - 00.50 Iklan 4
00.50 - 00.53 Lagu 7
00.53 - 00.55 Open Ended
00.55 - 00.58 Lagu 8
00.58 - 00.60 Closing Program

Sebenarnya rundown ini bisa dikemas dalam Hot Clock Siaran. Tapi aku belum sempat bikin. Lagian aku harus cepat-cepat menyelesaikan rundown acara off airku. Ok .. moga sharingku yang sedikit ini bisa bermanfaat. Amin :)

Salam

Dini

Jumat, Juli 31, 2009

Melatih Good Habit

Pada tulisan yang terdahulu, aku telah berbagi cara bagaimana mengatasi Bad Habit. Karena jika terus kita pelihara maka akan berakibat buruk yaitu dapat menghambat keluarnya ‘suara yang menyenangkan’. Sehingga seorang penyiar ngga akan optimal menjalankan profesinya.

Nah .. pada tulisan kali ini, kita akan ngebahas soal Good Habit. Apa sih Good Habit itu? Yang pasti lawannya Bad Habit hehehe .. Artinya kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dengan melatih Good Habit, hal ini akan dapat menambah kemampuan announcing kita. Sehingga suara yang kita keluarkan itu benar-benar lepas dan membuat kata-kata yang kita ucapkan lebih beremosi .. ciee kata-katanya (lebay ah ...)


Dari hasil investigasiku ke teman-teman penyiar di lapangan ataupun sumber-sumber yang ngga mau disebutin namanya karena emang mereka cuman punya judul hehehe (halah bilang aja buku .. ) Ada beberapa Good Habit yang layak kita lakukan, yaitu :

* Menirukan suara-suara yang kita dengar seperti aslinya.

Misalnya pas kita nonton televisi, tirukan suara pembawa beritanya, tokoh-tokoh film kartun atau pengisi suara iklan. Hal ini dapat membantu meningkatkan perbendaharaan warna suara kita. Bisa niru suara anak-anak, suara marah-marah, suara sedih, asal jangan suara sumbang aja ya .. hehehe Trus latihan ini juga bisa membantu kemampuan kita dalam memproduksi suara. Juga dapat membantu melatih pita suara kita untuk memproduksi nada dan suara yang lebih bervariasi.

* Biasakan kalo baca novel atau komik dan menyuarakan kalimat-kalimatnya seperti tokoh-tokoh yang ada.

Jadi jangan cuman dibaca dalam hati .. ingat suarakan (kata Hijau Daun) ! Kalo sendirian emang kayak orang aneh .. (tapi udah biasa dibilang kayak gitu kan ? pas siaran juga ngomong sendiri .. jadi nyantai aja lagi). Ada juga cara yang lain .. kumpulin aja tuh anak-anak kecil, bacain komik atau apalah ke mereka dengan gaya mendongeng.

* Kalo ketemu teman, biasakan tersenyum dan menyapa duluan dengan nada lepas.

Ucapkan salam,”Assalamu’alaikum, hallo, atau hai .. girl” atau kata lain dan usahakan membuat suasana yang menyenangkan dan menjadi pribadi yang menarik dan disukai. Kalo kita melatih good habit yang satu ini .. percayalah ini akan dapat membantu meningkatkan kemampuan kita dalam menghidupkan suasana. Membuat kita menjadi pusat perhatian dibandingkan dengan orang lain sebelum kita berhadapan dengan pendengar yang heterogen.

* Rekamlah latihan-latihan yang kita lakukan.

Dengan merekamnya, kita akan dapat mengukur kemampuan kita apakah meningkat atau jalan di tempat. Jadi bandingkan antara rekaman pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Buat evaluasi dan tolak ukur dari hasil rekaman yang kita lakukan. Koreksi kelebihan dan kelemahan kita dengan jujur ya .. ingat JUJUR ! Hal ini akan membuat kita lebih terpacu untuk terus berkembang.

Contoh tolak ukur adalah :
a. Apakah setiap suku kata terdengar jelas dan bersih
b. Apakah huruf mati (konsonan) yang hampir sama terdengar jelas bedanya (misalnya : malam dengan malang)
c. Apakah hurf S ngga terlalu basah (shshsh) atau terlalu kering/tajam (pisau kalee)
d. Apakah ngga ada popping pada huruf ’b’ dan ’p’
e. Apakah pengucapan huruf ngga tertukar (misalnya : Profesor jadi Fropesor)
f. Apakah dalam satu kalimat yang panjang, satu kata pada akhir kalimat masih terdengar cukup jelas
g. Apakah bicaranya terlalu cepat atau terlalu lambat
h. Apakah bicaranya terlalu datar
i. Apakah udah berada pada nada dasar yang tepat
j. Terserah kamu lah .. sesuaikan aja ama keperluan masing-masing ya ...

* Tidak pernah puas dengan hasil yang kita peroleh .. Latihan terus .. Pantang Mundur !!

Semoga beberapa tips sederhana ini bisa memberi inspirasi dan menggerakkan kamu untuk segera berlatih ! Selamat mencoba ... Good Luck !

Salam,

Dini