Klinik Motivasi

Tampilkan postingan dengan label Klinik Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klinik Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 06, 2011

Hafal Qu'ran Hanya 100 Hari

YORDANIA (voa-islam.com) – Satu lagi bukti kemukjizatan Al-Qur'an. Allah mempermudah umat-Nya untuk menghafal kitab suci Al-Qur'an. Hanya dalam waktu 100 hari, gadis Arab ini mampu menghafal seluruh isi Al-Qur'an yang terdiri dari 114 surat (bab), dengan lebih 6.300 ayat (kalimat) atau mencakup lebih 77.000 kata.


Aminah Said selalu bermimpi bisa menorehkan prestasi seputar kajian Islam yang didalaminya. Demi mewujudkan mimpinya, mahasiswi studi Islam dan Syariah Sharjah College ini memberanikan diri ikut kompetisi internasional menghafal Al-Qur’an di Yordania.

Pernah menjadi juara dua dan tiga dalam kontes lokal, ia cukup percaya diri bertarung dalam kompetisi itu. Namun, ia tak pernah membayangkan, namanya akan mencuat sebagai juara pertama mengalahkan seluruh peserta dari 15 negara.

”Saya mendapat posisi teratas dalam kontes di Yordania dan saya bangga untuk membuat prestasi ini untuk negara saya,” kata gadis berusia 19 tahun asal Uni Emirat Arab itu, kepada harian Emarat Al-Youm.

Motivasi menghafal kitab suci itu tak lepas dari pengaruh keluarga. Ia tak ingin kalah melihat 25 saudara laki-laki dan perempuannya bisa menghafal sebagian besar isi Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, saya telah menghabiskan rata-rata 12 jam sehari untuk menghafal Al-Qur’an secara intensif, sampai aku hafal semua hanya dalam 100 hari,” ujarnya.

Tumbuh di lingkungan yang kuat dengan nilai-nilai agama, ia sudah terbiasa membaca Al-Qur’an sejak duduk di bangku sekolah. Beranjak usia 17 tahun, ia mulai merasa perlu menghafal isi kitab suci tersebut.

“Dan, aku berhasil melakukannya hanya dalam 100 hari,” ujarnya. 

Demi mempertahankan kemampuannya, ia selalu meluangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Itu penting demi mengendalikan setiap kata yang termuat dalam kitab suci yang berisi 114 surat (bab), dengan lebih 6.300 ayat (kalimat) atau mencakup lebih 77.000 kata. [taz/viva, emirates247]

Sabtu, November 12, 2011

KARENA MIMPI BERHAJI SEMUDA MUNGKIN

Bagi orang tua saya yang pas-pasan, pergi haji adalah sebuah mimpi. Sepertinya saat itu hanya sebuah keajaiban yang mampu melontarkan kami ke tanah suci. Tetapi ayah saya tidak pernah ragu, bahwa bila Allah telah memanggil (dan Dia telah memanggil seluruh manusia melalui Nabi Ibrahim ribuan tahun yang lalu!), tentu Dia juga yang akan memberikan jalan, kepada mereka yang memang bersungguh-sungguh untuk memenuhi panggilan itu.

Tetapi, kalau saya di SD ditanya cita-cita oleh ibu guru, lalu saya jawab, cita-cita saya adalah "naik haji sebelum berusia 30 tahun", tentu teman-teman saya bisa tertawa sampai terguling-guling. Umumnya teman-teman kami bercita-cita menjadi dokter, insinyur, polisi atau guru. Lha belum apa-apa koq sudah ingin naik haji. Beberapa orang terkaya di kampung kami juga belum naik haji tuh.

Oleh kakak saya, sejak saya pergi ke Taman Kanak-kanak, saya sering dipakei peci. Apalagi kalau ke masjid pakai sarung dan peci, lucu sekali. Dan dari kecil, saya yang bungsu ini sering dipanggil "pak haji" - mungkin karena saya rajin adzan. Bisa memukul bedhug pertama kali lalu adzan di masjid, itu obsesi saya setiap hari waktu itu.

Tahun 1978, ketika saya duduk di kelas 3 SD, kakak ipar saya mencoba usaha pembibitan cengkeh. Pada waktu harga cengkeh masih sangat tinggi. Bibit cengkeh dibeli Rp. 30 / batang, nanti setelah umurnya sekitar 1 tahun dan tingginya sudah semeter lebih, bisa laku Rp. 1000. Bisnis yang menggiurkan, meski kemudian dari 1000 batang bibit cengkeh lebih dari 200 yang diserang rayap. Beberapa batang kami tanam sendiri, dan ibu saya sangat berharap pohon cengkeh ini kelak mampu membawa kami berhaji. Namun apa dikata, beberapa tahun kemudian, ketika pohon-pohon cengkeh telah besar, Soeharto membuat BPPC yang diketuai Mas Tommy, yang membuat harga cengkeh hancur ...

Tahun 1986 saya lulus SMA. Adalah sebuah musibah bahwa nama saya tidak disebut dalam daftar siswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Padahal saya memilih jurusan fisika FMIPA yang kapasitas PMDK-nya besar. Beberapa teman yang rankingnya di sekolah di bawah saya malah diterima di jurusan-jurusan favorit. Aneh juga, tapi itulah matematika PMDK yang tidak selalu dapat dilacak.

Sehabis test Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru), ada peluang test Overseas Fellowship Program (OFP) dari Kementrian Ristek untuk lulusan SMA yang ingin dapat beasiswa sekolah di Luar Negeri. Mungkin karena saya masih fresh sipenmaru, saya bisa lulus test akademik OFP. Sayang jadwal psikotestnya bersamaan dengan registrasi ulang di ITB. Okey, saya lupakan OFP. Ibu saya kecewa, karena tadinya, beliau berharap saya dapat beasiswa itu. Selain bisa sekolah tanpa pusing mikirin biaya, barangkali itu juga jalan untuk bisa ... naik haji ... kembali kepada mimpi.

Tiba-tiba, hampir satu semester di ITB, ada panggilan dari OFP untuk psikotest susulan. Okeylah, tanpa beban, psikotest ini saya ikuti. Dan singkat cerita akhirnya saya lulus seluruh rangkaian test OFP. Kesimpulan: ITB ditinggal. ITB sih menganjurkan, saya tetap registrasi ulang tiap semester dengan SKS 0. Iya benar juga. Di depan saya saat itu masih ada kursus bahasa 6 bulan. Lalu test bahasa. Lalu berangkat ke negara tujuan. Di sana test masuk Universitas. Semua belum tentu lulus. Nanti kalau sudah kuliah juga belum tentu selesai ... Tapi akhirnya, saya tidak pernah registrasi ulang di ITB lagi. Ini ibarat strategi membakar kapal Thariq bin Ziyad. Hanya ada satu jalan: maju terus.

Oktober 1987 saya mulai kuliah di Austria. Alhamdulillah, test bahasa dan test masuk Universitas sudah lewat. Saya mencoba hidup hemat. Kenapa? Biar bisa nabung ... biar bisa naik haji dan memberangkatkan ibu saya naik haji. Ayah saya sudah wafat ketika saya SMP, dan beliau belum sempat naik haji.

Kalau tidak hemat, beasiswa yang 7000 Schilling (sekitar US$500) per bulan bisa tekor. Untuk bayar kamar di asrama sudah 2500 Schilling. Ongkos tiket bulanan naik bus 500 Schilling. Asuransi kesehatan wajib 120 Schilling. Anggaran beli buku, alat tulis, pakaian dsb rata-rata sebulan 300 Schilling. Sedang makan di kantin kampus sekitar 50 Schilling sekali makan. Jadi harus hemat. Untuk itu harus belajar masak. Tiap pagi masak. Sebagian buat sarapan, sebagian buat bekal makan siang di kampus, sebagian disimpan untuk makan malam. Ternyata seperti ini kemudian berjalan bertahun-tahun. Ketika masak sendiri, ternyata cukup anggaran 1000 Schilling sebulan. Jadi bisalah nabung hingga 2000-3000 Schilling / bulan.

Waktu itu ongkos naik haji sekitar US$ 3200. Ketika kemudian mata uang Dollar terhadap Schilling melemah, dan kursnya menjadi 10 Schilling per US$, maka ONH menjadi sekitar 32.000 Schilling. Jadi kalau nabung 2000 Schilling / bulan, perlu sekitar 2 tahun. Tetapi kalau ONH dari Austria jauh lebih kecil. Cuma 20.000 Schilling cukup lah. Jadi tabungan setahun insya Allah akan memadai.

Tahun 1988, ada paman saya yang bekerja di Depag, mengajak kalau bisa pas liburan datang ke Jeddah, untuk bantu-bantu tim haji Indonesia. Bisa dalam administrasi (entri data di komputer) atau di transportasi (nyopir). Maka saya belajar dengan sungguh-sungguh keahlian menggunakan komputer dan belajar nyetir. Untung lab-lab komputer di kampus bebas dipakai asal tidak sedang dipakai praktikum. Ikut saja suatu mata kuliah yang pakai komputer -- jadi mahasiswa gelap ... lalu cari buku dan belajar mandiri. Sayang kalau belajar nyetir tidak bisa seperti itu. Di Austria, semua orang yang mau mendapatkan SIM harus kursus dan praktek minimal 15 jam. Padahal 1 jam belajar nyetir ongkosnya hampir 300 Schilling. Dan saya pernah ketiduran, sehingga 300 Schilling menguap percuma! Singkat cerita, saya akhirnya dapat juga SIM Austria, sekalipun telah habis hampir 14.000 Schilling, gara-gara tidak lulus ujian praktek 2 kali padahal setiap mengulangi ujian, bayar lagi 3000 Schilling ! Hikmahnya: saya jadi pengemudi yang hati-hati.

Pada pertengahan 1988 itu saya ke KBRI di Wina, minta pengantar untuk mencari visa haji. Ternyata ditolak mentah-mentah! Alasannya: saya belum 2 tahun belajar di Austria, jadi belum boleh pulang. Lho padahal ini kan tidak pulang, tetapi naik haji. Tetap saja dianggap sama. Anehnya, kalau saya jalan-jalan keliling Eropa, boleh. Ya udah, akhirnya, dana naik haji ini dikirim saja ke Indonesia, buat ibu saya. Bersama dana dari kakak saya, jadilah ibu saya mendaftar buat naik haji, dan akan berangkat tahun 1990.

Saya mulai nabung untuk haji dari nol lagi. Tahun 1989, di campus ada iklan pekerjaan untuk mahasiswa. Pekerjaan programming! Tadinya saya ragu, bisa gak ya? Akhirnya nekad. Eh sampai di kantor biro engineering itu, pertama-tama saya ditanya, mau dibayar berapa? Bagaimana kalau 150 Schilling? Kupikir sehari, ternyata ini per jam. Soalnya, ada teman saya kerja nyuci piring di restoran hanya dapat 4000 Schilling sebulan, artinya sehari tak sampai 150 Schilling.


Mungkin karena saya sudah belajar komputer (khususnya programming) untuk persiapan bekerja di Jeddah tahun 1988 itu, saya bisa dapat pekerjaan itu. Singkat cerita, dari bekerja 2 bulan itu saya mendapat hampir 40.000 Schilling! Wah bisa berangkat haji lagi deh ...

Tahun 1990 saya mengurus segala sesuatu untuk haji. Ini kesempatan yang luar biasa, karena ibu saya juga berangkat tahun itu. Dan sejak tahun 1987, artinya sejak saya berangkat ke Luar Negeri, saya belum berjumpa dengan beliau. Alangkah rindunya. Akhirnya saya sudah di ruang tunggu pesawat Austrian Airlines yang akan membawa kami ke Jeddah. Penumpang satu persatu mulai masuk. Ketika giliran saya, tiba-tiba pramugari setelah memeriksa visa saya berkata, "Maaf, Anda tidak boleh ikut, karena untuk haji kemarin sudah Closing Date". Saya bingung. Ternyata, 1 Zulhijjah di Mekkah maju sehari (konon karena hilal dapat dirukyat). Sehingga hari closing date ikut maju. Saya yang berangkat di hari terakhir - karena menyesuaikan dengan jadwal ujian - terpaksa ditolak berangkat. Kalau airlines maksa, mereka akan didenda oleh pemerintah Saudi US$ 25.000. Wah, loyo lah ... jadi yang sempat terangkut ke Jeddah cuma bagasi saya, yang esoknya sudah diantar pulang. Ongkos tiket sih dikembalikan, tetapi semangat seperti terbang.

Tahun 1990 itulah terjadi tragedi terowongan al-Muashim, di mana 400 jama'ah Indonesia tewas. Mungkin itu hikmahnya. Barangkali Allah ingin mencegah saya ada dalam rombongan yang tewas itu. Saya masih punya tugas lain.

Tahun-tahun berikutnya, musim haji terjadi di tengah-tengah musim ujian kuliah. Jadi saya tidak bisa mencobanya lagi. Tahun 1993 saya lulus meraih gelar "Diplom-Ingenieur", jadi tuntaslah sudah beban beasiswa saya. Alhamdulillah, karena saya termasuk "the speedy" (lulusan no-2 tercepat), saya ditawari beasiswa dari Austrian National Science Foundation untuk langsung menempuh jenjang Doktor. Jadi masih ada kesempatan mencoba berhaji lagi ...

Tahun 1993 setelah lulus saya pulang dulu, nikah dulu, kemudian balik lagi ke Austria sudah membawa istri. Dengan istri saya sudah berkomitmen, bahwa goal yang pertama bukan punya anak, bukan punya rumah, tetapi pergi haji. Banyak saudara yang menasehati kami, agar menabung dulu, karena nanti harga rumah makin mahal. Sekolah anak juga mahal. Padahal gaji saya sebagai pegawai negeri sangat keciiiiil. Bikin nggak pede saja ...

Tahun 1994 rencana haji itu kami godhog lebih matang. Pengalaman dua kali kegagalan pergi haji membuat saya belajar. Ternyata banyak pernik-pernik yang kami baru tahu. Maka buku-buku haji dikumpulkan. Pengalaman teman-teman yang pergi haji dari Eropa juga.

Dan alhamdulillah, tahun 1994 itu saya berhasil pergi haji, bahkan langsung bersama istri tercinta.

Allah memang memberikan sesuatu sangat indah, pada saatnya.

Tahun 1994, kami berhasil pergi haji pada usia 26 tahun.

Tahun 1997, saya pulang setelah meraih gelar Doktor pada usia 29 tahun.

Dan tahun itu pula, alhamdulillah saya juga bisa beli rumah, cash, gak pakai kredit (apalagi kredit pakai riba janganlah ya) :-) ... karena tiba-tiba ada krisis moneter, sehingga tabungan saya dalam mata uang asing jadi terasa lebih banyak ketika ditukar dalam Rupiah ...

By Fahmi Amhar

Jumat, September 09, 2011

Hebat! Umur 19 Tahun Raih Sudah Jadi Sarjana Kedokteran

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Farah Ekawati Mulyadi berhasil meraih gelar sarjana kedokteran (SKed) dalam usia 19 tahun. Farah menjadi alumni kedokteran termuda yang meraih gelar sarjana kedokterannya.


"Alhamdulillah sudah selesai sarjana kedokterannya," ujar Farah tadi malam. Farah menjadi wisudawan termuda pada acara wisuda sarjana Unhas yang digelar di Baruga AP Pettarani, Unhas, Tamalarea, Makassar, Kamis (8/9/2011).

Farah mulai masuk sekolah tingkat sekolah sejak umur lima tahun dengan menyelesaikan sekolah selama enam tahun. "Waktu SMP saya ikut kelas akselari di SMP 6 Makassar jadi di SMP cuma dua tahun," tambahnya. Selanjutnya lanjut SMA di SMA 17 Makassar.

Farah kemudian lulus di Fakultas Kedokteran Unhas dan mampu menyelesaikan kuliah selama tiga tahun untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran.

Menjadi mahasiswa fakultas kedokteran bukan berarti selalu belajar terus. Ia mengaku tidak ada hal yang istimewa yang dia lakukan dalam jadwal belajarnya. Ia juga melakukan aktivitas keseharianya sama dengan mahasiswa lainya. "Aktivitas belajarnya biasa-biasa-ji. Paling kalau ada waktu jalan-jalan ke Mall. Cara belajarnya juga santai," ujarnya.

Selain mendapat predikat lulusan termuda, Farah juga berhasil lulus dengan IPK yang cukup tinggi yakni 3,72 dengan lama studi tiga tahun. Setelah menyelesaikan gelar sarjana kedokterannya, ia kemudian akan melanjutkan coast selama dua tahun.

Ke depan Farah berharap bisa lanjut ke pendidikan dokter spesialis. "Ke depan harapannya bisa lanjut ambil spesialis penyakit dalam atau spesialis anak," katanya.

Kamis, September 08, 2011

Dengan Becak, Sekolahkan Anak Hingga Jadi Dokter

Liputan6.com, Sleman: Seperti biasa, setiap pagi, Suyatno selalu mengayuh becaknya di antara keramaian jalan di Kota Yogyakarta. Profesi ini sudah ditekuni warga Terban, Yogyakarta, itu sejak 1975 silam untuk menyambung hidup sehari-hari. Sementara istri Suyatno, Saniyem, membantu menambah penghasilan keluarga dengan menjadi pemulung barang-barang bekas di rumah sakit.


Namun, Selasa (8/9) pagi, Suyatno tak mangkal di depan sebuah hotel untuk mencari penumpang seperti biasanya. Sebab, bapak empat anak ini mendapat undangan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan orangtua mahasiswa di kampus tersebut.

Dengan mengayuhkan becaknya, Suyatno datang ke kampus UGM. Kehadirannya langsung disambut pihak penyelenggara dengan memintanya duduk di kursi barisan depan. Dirinya diminta maju dan menceritakan pengalaman mengkuliahkan anaknya di UGM yang kini sudah menjadi dokter.

Saat ini, Suyatno mengaku sudah bisa tersenyum lega dan menjalani hari tuanya dengan tenang karena anak-anaknya sudah bisa mandiri. Si bungsu, Agung Bhaktiar, kini tengah menjalani program magang di Rumah Sakit Umum Daerah Kulonprogo setelah menyandang gelar dokter dari UGM.(BOG)

Senin, Mei 09, 2011

Klinik Motivasi 7 Mei 2011 : Hukum Menabur dan Menuai

Diambil dari kisah nyata. Ada anak kecil berumur 12 tahun. Namanya Howard Kelly. Dia berasal dari keluarga miskin. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari2, dia berjualan kue. Suatu ketika, sampai sore hari dia belum berhasil menjual sepotongpun. Padahal perutnya sangat lapar sekali karena dari pagi dia belum makan sedikitpun.


Howard Kelly berpikir, "Bagaimana jika aku makan sepotong kue ini?"
Namun sejenak dia ragu, "Inikan bukan kueku? Mana boleh aku memakannya?"
Howard Kelly berpikir dengan keras. Akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan kepada salah satu pelanggannya.

Howard Kelly mengetuk pintu sebuah rumah. Kemudian keluarlah seorang gadis yang umurnya lebih tua dari dirinya. Melihat hal itu, Howard Kelly kehilangan keberaniannya. Diapun mengurungkan niatnya untuk minta dibelikan kue. Sebagai gantinya ia minta segelas air.

Gadis itu melihat bahwa si anak kecil tampak kelaparan, ia lalu membawakannya segelas susu hangat. Howard Kelly pun meminumnya perlahan-lahan.

“Berapa harus kubayar segelas susu ini?” kata anak itu.

“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si gadis. “Ibu melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”

“Bila demikian, ku ucapkan terima kasih banyak dari lubuk hatiku.”

Howard Kelly lalu meninggalkan rumah itu. Ia tidak saja lebih kuat badannya, tapi keyakinannya kepada Alloh dan kepercayaannya kepada sesama manusia menjadi semakin mantap. Sebelumnya ia telah merasa putus asa dan hendak menyerah pada nasib.

Beberapa tahun kemudian ...

Gadis itu menderita sakit parah. Para dokter setempat kebingungan sewaktu mendiagnosa penyakitnya. Mereka lalu mengirimnya ke kota besar dan mengundang beberapa dokter ahli untuk mempelajari penyakit langka si pasien. Dokter Howard Kelly akhirnya dipanggil ke ruang konsultasi untuk dimintai pendapat.

Ketika mendengar nama kota asal si pasien, terlihat pancaran aneh di mata Dokter Kelly. Ia segera bangkit lalu berjalan di lorong rumah sakit dengan berpakaian dokter untuk menemui si pasien. Dokter Kelly segera mengenali wanita sakit itu. Ia lalu kembali ke ruang konsultasi dengan tekad untuk menyelamatkan nyawanya.

Sejak hari itu Dokter Kelly memberikan perhatian khusus pada kasus si pasien. Setelah dirawat cukup lama, akhirnya si pasien bisa disembuhkan. Dokter Kelly meminta kepada bagian keuangan agar tagihan rumah sakit diajukan kepadanya dahulu untuk disetujui sebelum diserahkan kepada si pasien. Nota tagihan pun kemudian dikirimkan ke kantor Dokter Kelly. Ia mengamati sejenak lalu menuliskan sesuatu di pinggirnya. Tagihan itu kemudian dikirimkan ke kamar pasien.

Si pasien takut membuka amplop nota tagihan karena yakin bahwa untuk dapat melunasinya ia harus menghabiskan sisa umurnya.

Akhirnya, tagihan itu dibuka dan pandangannya segera tertuju pada tulisan di pinggir tagihan itu :

Telah dibayar lunas dengan segelas susu
Tertanda
dr. Howard Kelly

Air mata bahagia membanjiri mata si pasien. Ia berkata dalam hati,“Terima kasih Alloh, cinta-Mu telah tersebar luas lewat hati dan tangan manusia.”

Senin, April 25, 2011

Klinik Motivasi 23 April : Menikmati Proses

Budi hari ini kesal sekali. Bertubi-tubi kesialan menerpanya. Lihat saja. Dari pagi, ibunya sudah memarahinya karena terlambat bangun. Di sekolah, giliran Pak Gurunya yang menghukumnya karena Budi lupa mengerjakan PR. Pas jam istirahat, dia kalah main bola dan ujung-ujungnya berkelahi dengan temannya. Eh, sehabis istirahat dia dipanggil oleh kepala sekolah gara-gara perkelahian itu. Ujung-ujungnya, dia disuruh menyerahkan surat berisi panggilan kepada orangtuanya besok untuk mendiskusikan kenakalan-kenakalan Budi…


Huuh…. Budi tak henti-hentinya ngedumel merutuki dirinya di sepanjang perjalanan. Kok ada ya orang sesial aku? Umpatnya pada dirinya. Perasaan hidup ini betul-betul nggak asyik!

Budi memutuskan untuk tidak pulang dulu. Dia melangkahkan kakinya ke taman yang tak jauh dari sekolah. Hari ini dia mau sendiri.

***

“Hmmm… ada yang bisa kubantu, Nak…” Budi terhenyak… tiba-tiba di depannya muncul sesosok pria baya pendek berjanggut putih panjang.

“Sepertinya kau dalam masalah” tebak si kakek sembari mengelus janggut panjangnya…
Budi terdiam. Dia mengangguk pelan.

“Hemm… hemmmm hemmm… aku punya sebuah benda menarik yang bisa menjawab semua masalahmu….” Si kakek mengeluarkan sebuah benda…. Segulung benang berwarna hitam… apa hebatnya? Ibuku juga punya yang semisal itu, batin Budi.

“Ini bukan gulungan benang biasa… benang ini adalah perjalanan kehidupanmu. Setiap hari benang ini berkurang seiring berjalannya usiamu.”

“Lalu…?” tanya Budi tidak mengerti.

“Terkadang ada suatu masa yang tidak mengenakkan yang harus kita lalui… namun kita tidak ingin merasakannya… nah, engkau bisa memanfaatkan benang ini untuk melewati masa itu… masa itu akan terlewatkan seketika, dan engkau mendadak sudah berada pada masa yang lain.. bahasa sederhananya engkau bisa memajukan masa hidupmu sesukamu dengan cara memotong-motong benang ini…” Jelas sang Kakek.

“Wah, menarik juga.. boleh saya memintanya, Kek?” pinta Budi.

“Tentu saja… tapi ingat, jangan menggunakannya berlebihan. Karena kau akan menyesal nak..” Blesssshhh… seketika sang Kakek menghilang dari hadapan.

***

Budi pulang dengan riang. Benda ini akan merubah hidupku, pikirnya senang.
Tapi, alamaakk… surat itu! Bukankah aku harus menyerahkan surat panggilan itu? Pasti Ibu bakal marah besar membacanya.

Dan benar saja…

“Apaa…. Surat apa ini???!”

Si Ibu mulai naik darah saat membaca kalimat pembuka surat itu.
Alamaakkkk bagaimana ini? Tubuh Budi bersimbah peluh… Ahhaa… kan ada benang ajaib..! maka dengan sigap Budi mengeluarkan benang itu dan cepat memotongnya.
Blesss… Ajaib, tiba-tiba dia sudah berpindah masa. Hari tiba-tiba sudah larut malam. Semua penghuni rumah sudah terlelap… tak ada lagi marah ibunya…
Hei, benang ini benar-benar ajaib…. Kakek tua itu tidak bohong, ucap Budi senang. Dia pun merebahkan tubuhnya ke ranjang dengan begitu bahagia.

Besok-besoknya dia tidak khawatir lagi. Ketika pak kepala sekolah berniat memarahinya lagi, Budi langsung menarik benang, dan dia pun sudah maju ke fase waktu berikutnya. Begitu juga ketika Budi bertengkar dengan kawannya, tarikan benang mampu membawanya memajukan waktu.

Begitulah, Budi sudah mendapatkan solusi atas segala masalahnya. Apapun masalahnya, tinggal tarik benang dan dia pun dapat melewati waktu yang penuh masalah tersebut. Budi kini tidak perlu lagi belajar, tidak perlu lagi mengerjakan PR, tidak perlu merasakan ujian… bahkan tidak perlu mengerjakan segala tugas di rumah. Hidup terasa begitu bahagia.

Budi kemudian berpikir, terlalu lama rasanya berada di masa anak-anak. Budi ingin segera merasakan nikmatnya menjadi orang dewasa. Kali ini benang ditarik dan dipotongnya panjang-panjang…. Dalam sekejap, Budi telah menjadi lelaki dewasa.
Budi terpikat hatinya dengan seorang gadis cantik…. Ahhhh… rasanya tak sabar untuk segera bisa menikahinya. Budi pun lagi-lagi menarik benang dan memotongnya panjang. Blesss… kini dia sudah berada di depan penghulu.. sedang akad nikah….

Budi ingin segera punya anak….. dia tak sabar… maka dia tarik benang. Blessshhh…. Tiba-tiba dia sudah berada di hadapan seorang dokter kandungan….. “Selamat ya Pak, istri anda hamil!”

Tapi Sembilan bulan terlalu lama. Budi menarik benang kembali… blesss! Dia sudah berada di ruang tunggu… istrinya sedang mengalami proses yang menyakitkan… melahirkan! Si istri mengalami pendarahan! Budi takut dan begitu gugup…. Lagi-lagi dia kembali menarik benang…. Blesssh….. ah, Alhamdulillah… tiba-tiba dia sudah menemukan bayinya selamat….

Tapi alangkah lamanya menunggu sang anak menjadi dewasa, padahal Budi ingin segera melihat anaknya dewasa dan mandiri…. Dia tarik benang panjang lagi…. Huffff… betul, kini anaknya sudah dewasa. Sukses menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan bonafit.

Tapi, lhooo.. ada apa dengan dirinya.. kok tubuhnya terasa begitu sakit? Dia perhatikan sekujur tubuhnya… ya ampun! Dirinya sudah tua. Rambutnya kini uban semua.. tubuhnya mulai ringkih. Giginya sudah tanggal. Budi panik! Ditariknya panjang benang tadi…. Ups, ternyata benang tinggal beberapa mili saja lagi…

Dan blesss! Budi kini berada di atas ranjang rumah sakit. Diperhatikannya sekelilingnya. Orang-orang tampak sedih. Istrinya, anaknya, cucu-cucunya…. Semuanya khusyu memmbacakan ayat-ayat suci AlQur’an.. diperhatikannya infus yang menetes, monitor yang terus berbunyi….

Ahhh… perlahan seorang tua berjanggut putih panjang masuk ke dalam rumah sakit. Aku mengenali dia! Jerit Budi… dia yang memberi gulungan benang sialan ini!
“Sayang sekali, nasibmu benar-benar tragis… padahal aku sudah memperingatkan sebelumnya” ucap si kakek pelan.

Kembalikan aku ke masa sebelumnya! Jerit Budi pada si kakek… sayangnya jeritan itu tak mampu dia keluarkan dari mulutnya. Nafasnya kini sudah di tenggorokan. Diperhatikannya benang yang ada di tangannya yang sudah mulai dingin… gulungan benang itu perlahan mengabur dan lenyap… Arghhhh!!!

****

Brakkk! Budi terjatuh…. Ahh… ternyata tadi cuma mimpi.. kakek tua, gulungan benang, dan semua yang dialaminya tadi hanyalah kembang tidur…. Hufff, untunglah…… pikirnya kemudian seraya beranjak bangun. Kali ini dengan langkah-langkah yang jauh lebih ceria..

Hidup itu ternyata indah, pikirnya. Dan keindahan itu justru terletak saat kita mengalami proses hidup tersebut.

***

Sahabat, sebagaimana cerita di atas. Hidup itu tak seperti kaset yang bisa kita maju mundurkan sekehendak kita. Selalu ada proses yang harus kita lalui. Dan kalau kita hitung-hitung antara lebih besar mana rasio antara proses dan sebuah hasil, semua pasti akan mendapatkan hasil yang sama… proses jauh lebih panjang daripada hasil.
Kita belajar berbulan-bulan untuk persiapan sebuah tes yang cuma satu hari. Yang bahkan hasil akhir dari tes tersebut hanya akan kita nikmati hanya dalam beberapa menit… saat kita melihat pengumuman: anda lulus. Kita bekerja banting tulang setengah harian supaya dapat makan sepiring nasi yang hanya kita makan dalam hitungan menit. Seseorang menabung puluhan tahun demi bisa mendapatkan jumlah kekayaan sebesar satu trilyun.. dan kenikmatan mendapatkan hasil satu trilyun tersebut hanya akan dinikmatinya dalam beberapa waktu yang tidak lama.

Jadi kuncinya, bukan di hasil seharusnya letak kebahagiaan. Bila seseorang meletakkan standar kebahagiaan dan kenikmatan di fase hasil, maka alangkah meruginya dia. Karena rasio bahagianya begitu minimalis.

Maka harusnya: bahagialah di fase proses! Nikmatilah proses tersebut! nikmatilah saat belajar berbulan-bulan, nikmatilah saat bekerja membanting tulang, nikmatilah saat menunggui istri yang berjuang melahirkan, nikmatilah saat mendapatkan hukuman karena kesalahan, nikmatilah saat mesti mengalami kegagalan demi kegagalan.

Bayangkan, bila kita mampu menikmati proses sekaligus hasil… maka hakikat dari penjumlahan itu: kita akan menjadi orang yang senantiasa bahagia sepanjang hayat… Asyik bukan?

Sumber : http://doktermudaliar.wordpress.com/2011/05/03/gulungan-benang-ajaib/,

Minggu, Oktober 25, 2009

Klinik Motivasi 24 Oktober 2009 : Jangan Menyerah

Klinik Motivasi, 24 Oktober 2009 pukul 16.00-17.00 wita bersama motivator tetap Fauzan Muttaqien dari Quantum Spirit Training Center. Tema yang diangkat kali ini tentang “Jangan Menyerah”. Berikut ringkasan dialognya :


Kisah Pengantar Motivasi

Suatu hari keledai milik seorang petani terjatuh ke dalam sumur. Sementara si petani sang pemiliknya memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap keledai tadi. Akhirnya dia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia kemudian mengajak tetangganya untuk membantunya. Mereka membawa skop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Si keledai menyadari apa yang terjadi. Dia meronta-ronta namun ia kemudian jadi diam. Setelah beberapa skop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya. Walaupun punggung si keledai terus ditimpa dengan tanah dan kotoran. Si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah. Lalu dia menaiki tanah tersebut. Si petani terus menuangkan tanah kotor itu ke atas punggung hewan itu namun si keledai juga terus menggoncang-goncangkan badannya. Dan kemudian melangkah naik akhirnya si keledai bisa meloncat dari sumur dan bisa melarikan diri.

Sobat .. kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran serta masalah kepada kita. Maka cara untuk keluar dari sumur itu .. dari kesedihan dan masalah itu adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita. Dan melangkah naik dari sumur dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari sumur terdalam dengan terus berjuang. Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan teruslah melangkah naik dan jangan pernah menyerah !

Termasuk jenis yang manakah anda ?

Ada dua jenis orang yang gagal :
1. Orang yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya
Artinya orang ini tidak pernah berusaha, hanya terpaku pada pikirannya terhadap kegagalan.
2. Orang yang mengalami kegagalan dan tidak pernah memikirkannya
Maksudnya orang ini telah berusaha, kemudian gagal, namun dia terus berusaha sampai meraih kesuksesan.

Contoh orang-orang yang tidak menyerah :

Silvester stallone memasarkan film Rocky ditolak 1855 kali.
Walt Disney ditolak 302 kali ketika mengajukan proposal Disneyland
Merry Curie sebelum menemukan elemen radium, penelitiannya gagal sebanyak 48 kali
Thomas Alfa Edison menciptakan bola lampu melakukan percobaan sampai 9999 kali
Rasulullah ketika melanjutkan kehidupan Islam di dunia. Dengan berbagai cara , beliau ditolak di Thoif , dicemooh, dicaci maki. Dan beliau tidak pernah menyerah.

Berkaca dari kehidupan mereka

Kegagalan bukanlah konotasi yang negatif. Kegagalan justru dijadikan sebagai langkah untuk menuju kesuksesan. Seperti cerita si keledai, dia memanajemen masalah yang dijadikan sebagai batu pijakan baginya. Tanah yang seharusnya menguburnya malah dijadikan sebagai penyelamat baginya. Thomas Alfa Edison juga menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran. Thomas mengatakan,”Aku tidak gagal. Aku justru menemukan 9999 bahan yang tidak bisa dipakai untuk bahan lampu”.

Kegagalan itu satu hal wajar terjadi. Tapi kita jangan pernah memikirkannya dan terus saja alami. Katakan bahwa langkah ini memang kurang tepat dan akan kita coba langkah yang baru untuk meraih kesuksesan yang kita inginkan.

Ada orang yang melihat masalah itu seperti donat. Orang yang pesimis, dia hanya akan memandang lubang donatnya saja. Memandang masalahnya saja. Sehingga dia menyerah terhadap masalah. Sedangkan orang yang optimis dan berpikir positif akan memandang donatnya. Masalah atau kegagalan yang dialaminya ini adalah sebuah pelajaran untuk bangkit kembali.

Melihat seseorang memukul batu seratus kali, belum pecah juga. Kemudian dia melakukan pukulan ke 101 hingga batu itu pecah. Percayalah bukan pukulan ke 101 yang membuat batu itu pecah. Tapi sebenarnya 100 pukulan yang pertama.

Kalau kita sukses, itu bukan karena kebetulan karena kita sukses pada saat ini. Namun sebenarnya buah dari jumlah kegagalan yang kita dapatkan. Thomas Webson mengatakan, ”Bila kau ingin meningkatkan kesuksesan kamu, maka tingkatkan juga angka kegagalan kamu”. Jadi kalau ingin sukses, banyak-banyak gagal. Mungkin kalimat ini terdengar lucu ? Maksudnya adalah kita harus banyak berusaha karena orang gagal itu berarti dia telah berusaha.

Ada sebuah cerita nyeleneh, Iblis ingin mengobral barang perkakas yang dimiliki. Semua perkakasnya dipajang di rak-rak. Ada barang yang bernama dengki, amarah, malas, tidak tau terima kasih, dendam. Ada suatu barang yang sederhana padahal barangnya sudah aus tapi harganya sangat tinggi. Namanya putus asa dan menyerah. Kenapa harganya mahal sekali ? Karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya bisa dengan sangat mudah masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini dibandingkan alat lain. Begitu saya berhasil masuk ke dalam hati manusia, saya dengan sangat mudah melakukan apa saja yang saya inginkan terhadap mereka. Barang ini menjadi sangat aus karena sering sekali saya pakai. Karena kebanyakan manusia tidak tau bahwa putus asa dan menyerah itu adalah kepunyaanku.

Kita kadang tidak menyadari bahwa menyerah ini termasuk bisikan syaithan. Ingatlah bahwa masalah bukan akhir dari segalanya. Tetaplah istiqomah ! Ingat .. orang hebat itu adalah orang-orang yang memberikan waktu yang lebih lama sedikit dibandingkan yang lain. Ketika orang lain sudah menyerah, dia tetap tekun dalam usahanya.

Motivasi dari Allah swt

QS Al-Insyirah :
“Maka sesungguhnya di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sesungguhnya di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan.Maka apabila kamu telah selesai maka lakukanlah yang lain lagi. Dan kepada Tuhanmulah kamu berharap”

Dalam ayat ini, Allah swt mengatakan sampai dua kali. ”Maka sesungguhnya di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. Diulang kembali. ”Sesungguhnya di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. Bisa jadi maksudnya kesulitan yang dihadapi seandainya kamu lebih tekun. Di titik-titik kesulitan itu akan Allah swt beri kemudahan. Jika tidak percaya .. coba lagi ! Maka apabila kamu telah selesai .. lakukankanlah yang lain lagi. Jangan berhenti sampai di situ saja. Tidak ada kata istirahat panjang. Dan di akhir ayat, kita diingatkan hanya kepada Allahlah kita berharap. Ingatlah .. Allah selalu bersama kita.(Dini)

Minggu, Oktober 18, 2009

Klinik Motivasi 17 Oktober 2009 : Menyingkirkan Belenggu

Klinik Motivasi, Sabtu tanggal 17 Oktober 2009 pukul 16.00-17.00 wita. Masih bersama Fauzan Muttaqien dari Quantum Spirit Training Center dengan tema "Menyingkirkan Belenggu". Selamat menyimak ringkasan perbincangannya ..

Kisah Pengantar Motivasi

Gajah dan Kutu Loncat

Petugas kebun binatang menangkap seekor gajah. Kemudian ke empat kaki gajah ini dibelenggu dengan rantai yang terbuat dari besi. Setiap hari, gajah tapi berusaha melarikan diri. Namun setiap kali dia melompat, si gajah selalu terjatuh. Hal ini terjadi berulang-ulang. Sebulan kemudian, rantai besi itu dilepaskan dan diganti dengan tali rafia yang tipis. Menurut anda, apakah kali gajah bisa melarikan diri ? Jika anda menjawab iya, maka jawaban anda meleset. Ternyata gajah tadi tetap melompat dan tetap terjatuh seperti semula.


Apakah yang terjadi ? Bukankah gajah semestinya mampu dengan kekuatannya untuk memutus tali rafia tadi ? Jawabannya adalah ternyata waktu sebulan telah mampu membuat sketsa di otak gajah bahwa dia tidak mampu melarikan diri. Meskipun diikat dengan tali rafia namun di otaknya, dia merasa masih diikat dengan belenggu rantai.

Percobaan yang hampir mirip dengan cerita di atas dilakukan pada kutu loncat. Sebelum dia ditangkap, konon katanya dia bisa melompat setinggi 300 kali lebih tinggi dari tinggi dirinya. Si kutu loncat ini dikurung di dalam kotak korek api. Pada bulan berikutnya, dia dibebaskan. Tebak, apa yang terjadi ?

Kali ini si kutu loncat hanya bisa melompat setinggi kotak korek api. Perhatikan, waktu sebulan telah menjadikan dia melupakan potensi besar yang telah dimilikinya.

Fauzan mengungkapkan bahwa disadari atau tidak sesungguhnya dalam kehidupan, seringkali kita juga berada dalam kondisi yang serupa. Sketsa pikiran kita terperangkap dalam kotak korek api buatan kita sendiri. Terbelenggu dengan bayangan rantai yang kita ciptakan sendiri. Sehingga rantai-rantai itu membuat kita tidak berhasil untuk maju.

Rantai belenggu ini juga bisa berasal dari lingkungan kita. Sebenarnya kita mempunyai potensi yang luar biasa. Tapi teman-teman mencela ketika kita menunjukkan karya kita. Keluarga yang tidak mendukung kemampuannya. Lambat laun akhirnya kita melupakan potensi yang kita miliki.

Beberapa Rantai Belenggu Kehidupan diantaranya :

1. Rantai Usia

Salah satu alasan yang sering digunakan untuk menolak amanah, tugas atau sebuah tantangan. "Aku masih terlalu muda, masih hijau .. masih banyak yang lebih tua dan berpengalaman." Atau sebaliknya. Merasa diri sudah tua. Biarkan yang muda yang berperan. Begitu biasanya alasannya. Sesaat kemudian dirinya pun mundur. Akhirnya menghalanginya untuk maju dan sukses.

Jika anda salah satu yang terbelenggu dengan rantai tersebut. Ada baiknya anda menyimak kesuksesan seseorang yang bernama Doktor Sayyid Muhammad Husein Thabathaba'i. Hafidz Qur'an dengan tafsirnya. Dalam kesehariannya, dia berbicara dengan bahasa al-Qur'an. Berasal dari Iran dan berhasil meraih gelar doktor honoris causa termuda di dunia pada usia 7 tahun. The Amazing Child, begitu orang-orang memanggilnya.

Hem .. saat usia 7 tahun kita ngapain ya ? Masih main kelereng kali ? Sementara pada umur yang sama Sayyid Husein telah bergelar Doktor !

Banyak cerita sukses lainnya, usia muda atau usia tua tidak mampu menghalangi mereka untuk mencetak prestasi.

2. Rantai Pendidikan

"Aku hanya S-1", "Aku tidak tamat SMA", dan lain sebagainya menjadi alasan kita menjadi seorang yang biasa-biasa. Padahal kita punya potensi luar biasa.

Perjalanan hidup Andrie Wongso bisa kita jadikan inspirasi. Pada saat kelas 6 SD, Andrie putus sekolah karena sekolah Tionghoanya ditutup Pemerintah Orde Baru. Untuk bertahan hidup, dia berjualan kue di pasar dan toko di Malang. Siapa sangka keuletannya membuahkan hasil. Kini dia dinobatkan sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Diapun bangga dengan gelarnya yang agak asing di telinga kita. Andrie Wongso SDTT TBS .. Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses !!

3. Rantai Nasib

Pernahkah anda bercermin ? Kemudian beberapa saat, anda menghela nafas panjang .. kecewa dengan jeleknya wajah dan penampilan anda ? Menurut Fauzan, anda tidak perlu sakit hati. Karena kesuksesan tidak mensyaratkan peraihnya berwajah ganteng atau cantik. Setidaknya Tukul Arwana telah membuktikannya !

4. Rantai Kesehatan

Bagi sebagian orang, menyerah karena keterbatasan fisik atau kesehatan adalah hal yang wajar. Mereka berhak untuk dikasihani karena ketidaksempurnaannya. Tapi bagi mereka yang bermental pejuang, tak ada satupun yang mampu membelenggunya. Selama raga masih ada, selama itu pula derap perjuangan akan terus dilangkahkan.

Setidaknya untuk orang seperti Syaikh Ahmad Yasin, Sang Pemimpin Hamas. Beliau sangat ditakuti oleh Israel. Hingga kematian beliau dianggap sebagai salah satu puncak kemenangan mereka. Padahal beliau adalah seorang yang tua renta berkursi roda. Bicaranya pun terbata-bata.

Namun, bertolak belakang dengan keadaan fisiknya. Justru dalam keterbatasan itulah, beliau mampu menjadi poros penggerak utama perjuangan rakyat Palestina. Beliau dengan suara yang terbata-bata mampu menggerakkan ribuan pemuda Palestina untuk melakukan serangan Intifadhoh. Serangan yang kelak dikenang dunia sebagai lambang perlawanan abadi tanpa henti melawan kebiadaban Israel. Lelaki tua renta ini, dari kursi rodanya .. mampu membuat para pemimpin Israel tidak bisa tidur nyenyak karena perasaan tidak amannya. Allahu Akbar !!

Apa yang harus kita lakukan ??

Menyimak cerita sebagian orang-orang yang luar biasa tadi, semestinya tidak disikapi dengan rasa kagum yang berlebihan. Justru harusnya menjadi pemacu semangat kita dalam meraih prestasi.

Seorang Husein Thobathaba'i yang masih sangat muda bisa mendapat gelar doktor .. kenapa saya yang lebih senior tidak ! Andrie Wongso yang tidak tamat SD bisa jadi motivator ulung .. harusnya saya juga mampu ! Tukul Arwana yang terbilang hidupnya kurang beruntung bisa sukses .. kenapa saya yang terlahir dengan nasib yang lebih baik tidak bisa ?? Lalu kenapa saya yang terlahir sempurna malah stagnan seperti ini sedangkan Syaikh Yassin yang cacat mampu meraih prestasi gemilang ??

Di akhir dialog, Fauzan mengajak kita untuk merenung tentang rantai yang sadar atau tidak sadar membelenggu kita. Padahal rantai itu sifatnya maya. Kadang-kadang buatan kita sendiri seperti rasa malas, merasa tidak cukup diberi waktu, deadline.

Cara menghancurkannya adalah dengan membuat daftar belenggu yang ada pada diri kita secara jujur. Sehingga kita bisa menghancurkannya. Membuang jauh-jauh rantai gajah dan kotak korek api yang memenjarakan kita. Bersiaplah untuk melakukan perjalanan menuju realita kesuksesan.

Demikian ringkasan dialog Klinik Motivasi kali ini, semoga bermanfaat(Dini)

Rabu, Oktober 14, 2009

Klinik Motivasi 10 Oktober 2009 : Afirmasi

Melihat antusias pendengar terhadap program Klinik Motivasi (hem .. gaya loe), kami berencana menambah jam tayangnya dari pukul 15.00 sd 17.00 wita. Namun ternyata Sabtu siang, hujan deras mengguyur kota Banjarmasin. Akhirnya kami on air jam 16.00 wita seperti Sabtu yang lalu.

Klinik Motivasi, Sabtu 10 Oktober 2009 pukul 16.00-17.00 wita bersama Fauzan Muttaqien dari Quantum Spirit Training Center. Tema kali ini tentang "Afirmasi". Selamat menyimak ringkasan diskusinya ...

Kisah Pengantar Motivasi

Cerita tentang seorang ayah dan anak yang berdiri di atas gunung. Si anak berteriak dengan kerasnya. Dan kemudian dia mendengar suara dengan kalimat yang sama berbalik kepadanya. Beberapa kali dia melakukan hal tersebut. Si anak pun heran dan bertanya kepada ayahnya.

"Ayah, suara siapakah itu ? Kenapa suaranya persis seperti diriku dan kalimat yang kuteriakkan ? Tanya si anak keheranan


Sang ayah menjawab,"Dia adalah gema. Coba kau teriakkan kembali dengan kalimat yang positif."

Anak itu kemudian berteriak,"Akulah sang juara !!" Terdengar gema suara yang menirukan kalimatnya.

Sang ayah mengatakan gema itu seperti kehidupan. Apa yang kita pikirkan, kita ucapkan dan yang kita lakukan akan berbalik kepada kita sendiri. Sehingga pikirkanlah sesuatu yang positif, ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik dan lakukanlah perbuatan yang mulia. Karena yakinlah efeknya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Menurut Fauzan, berdasarkan penelitian, dalam kehidupan ini manusia mengucapkan sekitar 65.000 kata/hari dan 77% nya adalah kalimat-kalimat negatif. "Saya tidak bisa melakukan hal itu", "Saya minder", "Saya Pemalu" dan sebagainya. Akibatnya ketika seseorang mempunyai mindset yang negatif seperti itu, dia akan menjalani kehidupan dengan apa adanya, apatis, tidak bersemangat, dan tidak percaya diri untuk melakukan sesuatu. Maka penting bagi seseorang untuk memiliki pandangan positif tentang dirinya agar tumbuh kepercayaan dirinya untuk melakukan sesuatu. Salah satunya dengan cara afirmasi.

Afirmasi berasal dari Bahasa Inggris yaitu "afirmation" yang berarti penegasan. Berbicara kepada diri kita sendiri (self-talk)sendiri dan merupakan salah satu bentuk pemrograman ulang pikiran. Jika afirmasi ini dilakukan sepenuh hati maka akan dapat membantu pencapaian prestasi.

Teknik afirmasi sendiri banyak ragamnya. Salah satu cara yang sederhana yaitu dengan menuliskan apa yang kita inginkan dan menempelkannya ke tempat-tempat yang sering kita lihat. Misalnya, "Akulah sang Juara !!", tulislah kalimat itu dan bacalah berulang kali setiap hari sampai timbul keyakinan pada diri sendiri bahwa anda memang sang juara !

Afirmasi berbeda dengan sombong. Karena sombong artinya mengingkari kebenaran yang datangnya dari Allah swt. Sedangkan afirmasi merupakan self-talk dan memprogram ulang pikiran agar tumbuh kepercayaan diri. Menurut Fauzan, afirmasi adalah harapan kita untuk pencapaian tujuan.

Afirmasi juga sangat terkait dengan hadist yang disampaikan Rasulullah saw bahwa "Allah swt tergantung dari persangkaan hamba-Nya." Hikmah yang bisa kita ambil dari hal ini adalah berbaik sangkalah dalam menjalani kehidupan ini. Tidak boleh mengeluh jika ada kejadian yang tidak sesuai keinginan kita.

Di akhir dialog, Fauzan menyampaikan sebuah renungan .. Jika kita merasa ada seseorang yang selalu menghadang dan menghalang-halangi langkah kita untuk maju, cobalah intropeksi diri .. siapa tau orang itu adalah diri kita sendiri. Karena seperti kata pepatah, musuh terbesar hidup kita adalah diri kita sendiri !!

Semoga bisa bermanfaat .. Sampai Jumpa Sabtu Depan ^^

Sabtu, Oktober 03, 2009

Klinik Motivasi 3 Oktober 2009 : The Power of Dream

Mulai bulan Oktober ini, ada program baru yang diberi nama "Klinik Motivasi". Pembicaranya seorang laki-laki muda yang multitalenta. Fauzan Muttaqien namanya. Masih meneruskan studinya sebagai dokter muda dan penulis. Meskipun sebenarnya dia tidak mau disebut penulis. Fauzan lebih senang dikenal sebagai trainer dan motivator. Dia merupakan salah satu trainer di sebuah lembaga training di Banjarmasin, yaitu Quantum Spirit Training Center.

Sabtu, 3 Oktober 2009 pukul 16.00-17.00 wita, program "Klinik Motivasi" perdana mengudara. Mengambil tema "The Power of Dream". Berikut ringkasan hasil dialog seru yang melibatkan pendengar untuk sharing pengalaman juga .. Selamat menyimak :

Mengapa kita harus bermimpi?


Jawaban dari pertanyaan di atas sangatlah penting. Karena jawaban ini menjadi dasar/pondasi kuat untuk mewujudkan mimpi itu. Fauzan menyampaikan ada beberapa alasan kuat untuk bermimpi dalam kehidupan ini, yaitu :

Di dalam kehidupan ini, telah banyak manusia yang hidup. Namun dari sekian banyak manusia yang hidup, hanya sebagian kecil yang dikenang meskipun mereka telah tiada. Mereka itu adalah orang-orang yang luar biasa. Yang hidup karena mimpi yang luar biasa juga.

Manusia hidup tanpa mimpi

Hidup tanpa mimpi akan terasa garing. Terasa kering dan tentunya tidak merasakan indahnya hidup. Hidupnya akan terasa biasa-biasa saja. dan ketika meninggal duniapun dalam keadaan biasa saja dan dikuburkan bersama orang-orang yang biasa saja.

Apa itu mimpi ?

Sebagian orang mungkin sulit membedakan antara yang khayalan dan impian. keudnya abstrak dan tidak nyata. Hal ini menyebabkan mereka tidak dapat mewujudkan impiannya. Kemudian berhenti di sebuah titik yang disebut khayalan. Padahal khayalan tidak akan pernah mengantarkan kita kepada realita.

Jadi mimpi itu setingkat lebih tinggi dari khayalan. Mimpi adalah khayalan yang memiliki realita. Untuk merubah khayalan anda menjadi mimpi, caranya sangat sederhana. Kuncinya adalah menyesuaikan khayalan itu dengan realitas.

Maka menurut Fauzan, yang harus ditanyakan ke dalam benak kita sendiri jika memiliki keinginan adalah mungkinkah hal itu menjadi kenyataan ? Bila sesuatu itu masih rasional dan realitasnya ada di dunia .. mengapa tidak ??

Bagaimana mewujudkan mimpi agar menjadi kenyataan ?

Caranya gampang yaitu gambarkan mimpi kita dalam sebuah realitas. Jika anda memiliki impian menjadi seorang pengusaha. Maka bayangkan apa yang anda dapatkan jika anda telah menjadi pengusaha. Nikmatnya duduk di kursi empuk diliputi sejuknya AC di kantor yang besar. Mempunyai uang yang banyak. Anda dapat berinfak dengan jumlah yang besar dan lain-lain.

Kemudian perjelas mimpi anda tadi dengan membuat planning (rencana). Kapan semestinya mimpi itu dapat direalisasikan. Tentukan bagaimana anda memulai bisnis anda ? Bagaimana caranya mengembangkannya ? Bagaimana anda mengatasi hambatan yang kira-kira menghadang di depan ?

Jika sudah tergambar, maka mulailah take action ! Karena jika hanya sekedar mimpi, tanpa berusaha mewujudkannya .. maka anda hanya berkhayal saja.