Klinik Motivasi

Rabu, November 30, 2011

Talenan Kayu atau Plastik, Mana Lebih Baik?

Jika Anda gemar memasak, talenan tentu merupakan salah satu alat memasak yang wajib ada. Gunanya untuk memotong atau merajang berbagai bahan makanan. Namun, untuk memotong daging mentah yang biasanya mengandung kuman, talenan dari bahan apa yang lebih aman digunakan? Betulkah talenan dari akrilik, plastik, atau kaca lebih baik?


Perdebatan mengenai penggunaan talenan dari kayu atau plastik memang telah lama terjadi. Talenan kayu umumnya lebih berpori, sehingga membuat bakteri mudah terserap ke dalamnya. Namun, ahli mikrobiologi dari Food Research Institute di University of Wisconsin mendapati bahwa kayu memiliki sifat alami pembunuh bakteri, yang membuat bakteri akan mengering dan mati dalam 3 menit. Sedangkan talenan plastik tak hanya akan membuat bakteri tetap hidup di permukaannya (karena sifat plastik yang keras dan tak berpori), tetapi juga menggandakan diri dalam semalam.

Untuk memotong daging mentah, The Meat and Poultry Hotline menyarankan untuk menggunakan talenan dengan permukaan yang tidak berpori. Talenan kayu boleh saja digunakan, tetapi sebaiknya Anda tidak memotong bahan makanan lain setelah Anda memakainya untuk mengiris daging. Tujuannya agar kuman atau bakteri dari daging yang tertinggal di talenan tidak mengontaminasi makanan lain, apalagi yang akan langsung dikonsumsi sesudahnya.

Untuk menjaga kebersihan talenan, Anda bisa mencucinya dengan air sabun yang hangat setiap kali habis digunakan. Setelah itu, bilas dengan air bersih dan angin-anginkan, atau keringkan dengan tisu kertas. Talenan dari plastik, kaca, atau kayu yang solid, bisa dicuci di mesin pencuci piring.

Talenan kayu sebaiknya tidak direndam ke dalam air, dan harus langsung dikeringkan setelah setelah dicuci (karena bakteri lebih menyukai area yang lembab, bukan?). Talenan harus diletakkan dalam posisi berdiri di rak piring, dan bukannya mendatar.

Baik talenan kayu atau plastik bisa menjadi aus setelah lama digunakan. Begitu talenan mulai terlihat lapuk, di permukaannya banyak terdapat goresan-goresan bekas irisan pisau, dan retakan lain yang membuatnya sulit dibersihkan, sebaiknya Anda segera menggantinya dengan yang baru.

(Dari berbagai sumber)

Source: http://bit.ly/thX4Kl

Minggu, November 13, 2011

Lagi, HTI Kalsel Tolak Obama

Banjarmasin. Rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS), Barrack Obama, ke Indonesia terus menuai penolakan. Kali ini, datang dari ratusan massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar Aksi Damai Tolak Obama, pagi tadi (13/11).


Hidayatul Akbar, Humas HTI Kalsel menilai rencana kedatangan Obama menghadiri Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-19 yang akan digelar di Bali, pertengahan November 2011 bertujuan untuk mengokohkan penjajahan di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia.

"Kondisi ekonomi AS sedang bangkrut. Mereka perlu tambahan tenaga. Oleh karena itu, AS ingin memastikan Indonesia tetap di bawah kekuasaannya," jelasnya.

Menurutnya, kondisi ini tentu amat memprihatinkan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun sebagian besar SDA tersebut dinikmati justru oleh negara-negara asing. Maka dari itu, Hidayatul juga menyerukan kepada umat Islam di seluruh Kalsel untuk berjuang dalam menegakkan syariah dan khilafah. Karena hanya dengan itulah, maka umat Islam bisa mandiri dan sejahtera.

Sebelum menggelar orasi di halaman gedung DPRD Provinsi Kalsel, massa menggelar long march dari depan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin - Jalan Jenderal Sudirman - MT Haryono - Pangeran Samudra dan Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin. Dalam iringan konvoi, massa HTI membentang spanduk kecaman terhadap Obama yang dinilai biadab karena kebijakan pemerintahannya memusuhi umat Islam.

Massa juga menggelar aksi teatrikal "Obama" menaiki becak sambil menyeret bendera sejumlah negara seperti Indonesia dan Malaysia. Aksi ini menggambarkan negara yang mudah diperdaya Amerika. (Dini)

Sabtu, November 12, 2011

KARENA MIMPI BERHAJI SEMUDA MUNGKIN

Bagi orang tua saya yang pas-pasan, pergi haji adalah sebuah mimpi. Sepertinya saat itu hanya sebuah keajaiban yang mampu melontarkan kami ke tanah suci. Tetapi ayah saya tidak pernah ragu, bahwa bila Allah telah memanggil (dan Dia telah memanggil seluruh manusia melalui Nabi Ibrahim ribuan tahun yang lalu!), tentu Dia juga yang akan memberikan jalan, kepada mereka yang memang bersungguh-sungguh untuk memenuhi panggilan itu.

Tetapi, kalau saya di SD ditanya cita-cita oleh ibu guru, lalu saya jawab, cita-cita saya adalah "naik haji sebelum berusia 30 tahun", tentu teman-teman saya bisa tertawa sampai terguling-guling. Umumnya teman-teman kami bercita-cita menjadi dokter, insinyur, polisi atau guru. Lha belum apa-apa koq sudah ingin naik haji. Beberapa orang terkaya di kampung kami juga belum naik haji tuh.

Oleh kakak saya, sejak saya pergi ke Taman Kanak-kanak, saya sering dipakei peci. Apalagi kalau ke masjid pakai sarung dan peci, lucu sekali. Dan dari kecil, saya yang bungsu ini sering dipanggil "pak haji" - mungkin karena saya rajin adzan. Bisa memukul bedhug pertama kali lalu adzan di masjid, itu obsesi saya setiap hari waktu itu.

Tahun 1978, ketika saya duduk di kelas 3 SD, kakak ipar saya mencoba usaha pembibitan cengkeh. Pada waktu harga cengkeh masih sangat tinggi. Bibit cengkeh dibeli Rp. 30 / batang, nanti setelah umurnya sekitar 1 tahun dan tingginya sudah semeter lebih, bisa laku Rp. 1000. Bisnis yang menggiurkan, meski kemudian dari 1000 batang bibit cengkeh lebih dari 200 yang diserang rayap. Beberapa batang kami tanam sendiri, dan ibu saya sangat berharap pohon cengkeh ini kelak mampu membawa kami berhaji. Namun apa dikata, beberapa tahun kemudian, ketika pohon-pohon cengkeh telah besar, Soeharto membuat BPPC yang diketuai Mas Tommy, yang membuat harga cengkeh hancur ...

Tahun 1986 saya lulus SMA. Adalah sebuah musibah bahwa nama saya tidak disebut dalam daftar siswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Padahal saya memilih jurusan fisika FMIPA yang kapasitas PMDK-nya besar. Beberapa teman yang rankingnya di sekolah di bawah saya malah diterima di jurusan-jurusan favorit. Aneh juga, tapi itulah matematika PMDK yang tidak selalu dapat dilacak.

Sehabis test Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru), ada peluang test Overseas Fellowship Program (OFP) dari Kementrian Ristek untuk lulusan SMA yang ingin dapat beasiswa sekolah di Luar Negeri. Mungkin karena saya masih fresh sipenmaru, saya bisa lulus test akademik OFP. Sayang jadwal psikotestnya bersamaan dengan registrasi ulang di ITB. Okey, saya lupakan OFP. Ibu saya kecewa, karena tadinya, beliau berharap saya dapat beasiswa itu. Selain bisa sekolah tanpa pusing mikirin biaya, barangkali itu juga jalan untuk bisa ... naik haji ... kembali kepada mimpi.

Tiba-tiba, hampir satu semester di ITB, ada panggilan dari OFP untuk psikotest susulan. Okeylah, tanpa beban, psikotest ini saya ikuti. Dan singkat cerita akhirnya saya lulus seluruh rangkaian test OFP. Kesimpulan: ITB ditinggal. ITB sih menganjurkan, saya tetap registrasi ulang tiap semester dengan SKS 0. Iya benar juga. Di depan saya saat itu masih ada kursus bahasa 6 bulan. Lalu test bahasa. Lalu berangkat ke negara tujuan. Di sana test masuk Universitas. Semua belum tentu lulus. Nanti kalau sudah kuliah juga belum tentu selesai ... Tapi akhirnya, saya tidak pernah registrasi ulang di ITB lagi. Ini ibarat strategi membakar kapal Thariq bin Ziyad. Hanya ada satu jalan: maju terus.

Oktober 1987 saya mulai kuliah di Austria. Alhamdulillah, test bahasa dan test masuk Universitas sudah lewat. Saya mencoba hidup hemat. Kenapa? Biar bisa nabung ... biar bisa naik haji dan memberangkatkan ibu saya naik haji. Ayah saya sudah wafat ketika saya SMP, dan beliau belum sempat naik haji.

Kalau tidak hemat, beasiswa yang 7000 Schilling (sekitar US$500) per bulan bisa tekor. Untuk bayar kamar di asrama sudah 2500 Schilling. Ongkos tiket bulanan naik bus 500 Schilling. Asuransi kesehatan wajib 120 Schilling. Anggaran beli buku, alat tulis, pakaian dsb rata-rata sebulan 300 Schilling. Sedang makan di kantin kampus sekitar 50 Schilling sekali makan. Jadi harus hemat. Untuk itu harus belajar masak. Tiap pagi masak. Sebagian buat sarapan, sebagian buat bekal makan siang di kampus, sebagian disimpan untuk makan malam. Ternyata seperti ini kemudian berjalan bertahun-tahun. Ketika masak sendiri, ternyata cukup anggaran 1000 Schilling sebulan. Jadi bisalah nabung hingga 2000-3000 Schilling / bulan.

Waktu itu ongkos naik haji sekitar US$ 3200. Ketika kemudian mata uang Dollar terhadap Schilling melemah, dan kursnya menjadi 10 Schilling per US$, maka ONH menjadi sekitar 32.000 Schilling. Jadi kalau nabung 2000 Schilling / bulan, perlu sekitar 2 tahun. Tetapi kalau ONH dari Austria jauh lebih kecil. Cuma 20.000 Schilling cukup lah. Jadi tabungan setahun insya Allah akan memadai.

Tahun 1988, ada paman saya yang bekerja di Depag, mengajak kalau bisa pas liburan datang ke Jeddah, untuk bantu-bantu tim haji Indonesia. Bisa dalam administrasi (entri data di komputer) atau di transportasi (nyopir). Maka saya belajar dengan sungguh-sungguh keahlian menggunakan komputer dan belajar nyetir. Untung lab-lab komputer di kampus bebas dipakai asal tidak sedang dipakai praktikum. Ikut saja suatu mata kuliah yang pakai komputer -- jadi mahasiswa gelap ... lalu cari buku dan belajar mandiri. Sayang kalau belajar nyetir tidak bisa seperti itu. Di Austria, semua orang yang mau mendapatkan SIM harus kursus dan praktek minimal 15 jam. Padahal 1 jam belajar nyetir ongkosnya hampir 300 Schilling. Dan saya pernah ketiduran, sehingga 300 Schilling menguap percuma! Singkat cerita, saya akhirnya dapat juga SIM Austria, sekalipun telah habis hampir 14.000 Schilling, gara-gara tidak lulus ujian praktek 2 kali padahal setiap mengulangi ujian, bayar lagi 3000 Schilling ! Hikmahnya: saya jadi pengemudi yang hati-hati.

Pada pertengahan 1988 itu saya ke KBRI di Wina, minta pengantar untuk mencari visa haji. Ternyata ditolak mentah-mentah! Alasannya: saya belum 2 tahun belajar di Austria, jadi belum boleh pulang. Lho padahal ini kan tidak pulang, tetapi naik haji. Tetap saja dianggap sama. Anehnya, kalau saya jalan-jalan keliling Eropa, boleh. Ya udah, akhirnya, dana naik haji ini dikirim saja ke Indonesia, buat ibu saya. Bersama dana dari kakak saya, jadilah ibu saya mendaftar buat naik haji, dan akan berangkat tahun 1990.

Saya mulai nabung untuk haji dari nol lagi. Tahun 1989, di campus ada iklan pekerjaan untuk mahasiswa. Pekerjaan programming! Tadinya saya ragu, bisa gak ya? Akhirnya nekad. Eh sampai di kantor biro engineering itu, pertama-tama saya ditanya, mau dibayar berapa? Bagaimana kalau 150 Schilling? Kupikir sehari, ternyata ini per jam. Soalnya, ada teman saya kerja nyuci piring di restoran hanya dapat 4000 Schilling sebulan, artinya sehari tak sampai 150 Schilling.


Mungkin karena saya sudah belajar komputer (khususnya programming) untuk persiapan bekerja di Jeddah tahun 1988 itu, saya bisa dapat pekerjaan itu. Singkat cerita, dari bekerja 2 bulan itu saya mendapat hampir 40.000 Schilling! Wah bisa berangkat haji lagi deh ...

Tahun 1990 saya mengurus segala sesuatu untuk haji. Ini kesempatan yang luar biasa, karena ibu saya juga berangkat tahun itu. Dan sejak tahun 1987, artinya sejak saya berangkat ke Luar Negeri, saya belum berjumpa dengan beliau. Alangkah rindunya. Akhirnya saya sudah di ruang tunggu pesawat Austrian Airlines yang akan membawa kami ke Jeddah. Penumpang satu persatu mulai masuk. Ketika giliran saya, tiba-tiba pramugari setelah memeriksa visa saya berkata, "Maaf, Anda tidak boleh ikut, karena untuk haji kemarin sudah Closing Date". Saya bingung. Ternyata, 1 Zulhijjah di Mekkah maju sehari (konon karena hilal dapat dirukyat). Sehingga hari closing date ikut maju. Saya yang berangkat di hari terakhir - karena menyesuaikan dengan jadwal ujian - terpaksa ditolak berangkat. Kalau airlines maksa, mereka akan didenda oleh pemerintah Saudi US$ 25.000. Wah, loyo lah ... jadi yang sempat terangkut ke Jeddah cuma bagasi saya, yang esoknya sudah diantar pulang. Ongkos tiket sih dikembalikan, tetapi semangat seperti terbang.

Tahun 1990 itulah terjadi tragedi terowongan al-Muashim, di mana 400 jama'ah Indonesia tewas. Mungkin itu hikmahnya. Barangkali Allah ingin mencegah saya ada dalam rombongan yang tewas itu. Saya masih punya tugas lain.

Tahun-tahun berikutnya, musim haji terjadi di tengah-tengah musim ujian kuliah. Jadi saya tidak bisa mencobanya lagi. Tahun 1993 saya lulus meraih gelar "Diplom-Ingenieur", jadi tuntaslah sudah beban beasiswa saya. Alhamdulillah, karena saya termasuk "the speedy" (lulusan no-2 tercepat), saya ditawari beasiswa dari Austrian National Science Foundation untuk langsung menempuh jenjang Doktor. Jadi masih ada kesempatan mencoba berhaji lagi ...

Tahun 1993 setelah lulus saya pulang dulu, nikah dulu, kemudian balik lagi ke Austria sudah membawa istri. Dengan istri saya sudah berkomitmen, bahwa goal yang pertama bukan punya anak, bukan punya rumah, tetapi pergi haji. Banyak saudara yang menasehati kami, agar menabung dulu, karena nanti harga rumah makin mahal. Sekolah anak juga mahal. Padahal gaji saya sebagai pegawai negeri sangat keciiiiil. Bikin nggak pede saja ...

Tahun 1994 rencana haji itu kami godhog lebih matang. Pengalaman dua kali kegagalan pergi haji membuat saya belajar. Ternyata banyak pernik-pernik yang kami baru tahu. Maka buku-buku haji dikumpulkan. Pengalaman teman-teman yang pergi haji dari Eropa juga.

Dan alhamdulillah, tahun 1994 itu saya berhasil pergi haji, bahkan langsung bersama istri tercinta.

Allah memang memberikan sesuatu sangat indah, pada saatnya.

Tahun 1994, kami berhasil pergi haji pada usia 26 tahun.

Tahun 1997, saya pulang setelah meraih gelar Doktor pada usia 29 tahun.

Dan tahun itu pula, alhamdulillah saya juga bisa beli rumah, cash, gak pakai kredit (apalagi kredit pakai riba janganlah ya) :-) ... karena tiba-tiba ada krisis moneter, sehingga tabungan saya dalam mata uang asing jadi terasa lebih banyak ketika ditukar dalam Rupiah ...

By Fahmi Amhar

Selasa, November 08, 2011

Gubernur Buka Sekolah Wartawan

Banjarmasin. Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) rencananya hari ini, Selasa, akan diresmikan oleh Gubernur Kalsel, H. Rudy Ariffin. Sekolah yang dipusatkan di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kalsel selama dua minggu tersebut, akan diikuti 40 wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik di daerah ini.


"Diharapkan SJI ini dapat meningkatkan kinerja profesional wartawan disamping juga mampu meningkatkan kualitas jurnalis," kata Kepala Sekolah (Kepsek) SJI, Z Bagio didampingi wakasek Agus Suprapto kepada wartawan, kemarin.

Menurutnya, sesuai rencana SJI ini dimulai Selasa (8/11) dan secara resmi dibuka oleh Gubernur H. Rudy Arifin.

Dikatakannya, gagasan didirikannya SJI ini untuk mendongrak jumlah jurnalis yang mengenyam pendidikan bidang jurnalistik. SJI juga merupakan satu-satunya pendidikan jurnalisme di Indonesia yang merujuk model kurikulum yang dikeluarkan Unesco.

"Jdi dalam metode belajar tidak sembarangan, karena metode kurikulum yang mengacu pada Unesco. Jika tidak serius atau tidak hadir tanpa pembertiahuan akan mendapatkan sanksi yang juga dapat mempengaruhi persentase penilaian," jelasnya.

Zainal Helmie, Sekretaris PWI Cabang Kalsel menambahkan kelebihan sekaligus kekurangan pendidikan ini terletak pada biayanya yang relatif mahal. Biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti pendidikan itu mencapai Rp. 4 - 5 juta.

"Kalau dari PWI murni mungkin tidak bisa karena biaya yang sangat mahal, oleh karena itu PWI dibantu dewan pers serta Unesco, pemprov kalsel dan beberapa perusahaan demi terselenggaranya SJI ini," katanya.

Peserta yang lulus SJI ini akan mendapatkan sertifikat dan dinyatakan juga lulus kompetensi. SJI ini akan diselenggarakan mulai dari 8 sd 21 November ini.

Sumber : Mata Banua, Selas 8 November 2011 hal 4.

Senin, November 07, 2011

Ibadah Haji : Persatuan Umat dan Urgensi Khilafah

Banjarmasin. Itulah pesan yang disampaikan oleh Ustadz Hidayatul Akbar dalam khutbahnya pagi tadi di halaman Gedung Wanita Kayutangi Banjarmasin (06/11). Saat ini, umat Islam di seluruh dunia merasakan kegembiraan merayakan Hari Raya Idul Adha. Termasuk juga umat Islam yang sedang melaksanakan serangkaian manasik haji di Tanah Suci.


"Gembira boleh saja, tapi jangan berlebihan. Agar kita tetap dapat mengambil pelajaran dari ibadah haji", ujarnya.

Menurutnya, salah satu pelajaran penting dari ibadah haji, yaitu pesan persatuan umat Islam.

"Umat Islam di seluruh pelosok dunia harusnya jadi umat yang satu. Diikat tali agama Alloh. Inilah pemersatu hakiki. Bukan warna kulit, suku, bangsa atau negara", tambahnya.

Hidayatul Akbar menegaskan bahwa persatuan umat Islam itulah yang menjadi dasar adanya negara yang satu yaitu khilafah. Selain untuk misi dakwah dan jihad, khilafah juga sangat penting demi penerapan syariah Islam.

Sholat Idul Adha berlangsung khidmat. Bertindak selaku imam dalam pelaksanaan sholat Idul Adha adalah Mukhlis Hariyadi, ketua DPD II HTI Kota Banjarmasin. Usai sholat, ratusan massa HTI Kalsel langsung membubarkan diri dengan tertib. (Dini)

Jumat, Oktober 21, 2011

PENCEGAHAN PENYAKIT DI MASA KHILAFAH

Siapapun tahu, bahwa pada masa sekarang ini, biaya kesehatan sangat mahal. Bila orang terlanjur sakit, maka membuatnya kembali sehat, apalagi harus diberi tindakan medis (operasi misalnya), atau setidaknya harus dirawat-inap di rumah sakit, bisa meludeskan uang yang telah ditabung bertahun-tahun. Walhasil, seratus juta lebih rakyat miskin di negeri ini dilarang sakit.


Menurut seorang pakar instrumentasi kesehatan, biaya medis yang tinggi itu 60 persen baru untuk mengetahui penyakitnya, yaitu berupa peralatan canggih seperti sinar roentgen, CT-scan atau berbagai alat lab untuk uji darah. Baru 40 persennya untuk terapi. Yang mengerikan, banyak alat-alat tersebut sudah lama tidak dikalibrasi, sehingga boleh jadi banyak orang yang divonis sakit padahal sehat, juga sebaliknya, dinyatakan sehat padahal sakit, atau bahkan dianggap sakit A, padahal sebenarnya sakit B.

Karena itu sangatlah wajar, bila orang lalu lari kepada pencegahan. Bagaimanapun mencegah penyakit lebih murah dari mengobati. Gerakan “hidup sehat ala Nabi” menjadi trendy. Rasulullah memang banyak memberi contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya: menjaga kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengonsumsi madu, susu kambing atau habatus saudah, dan sebagainya.

Bagi yang terlanjur sakit dan mencari pengobatan yang lebih murah, juga tersedia “berobat cara Nabi” alias Thibbun Nabawi, yang obatnya didominasi madu, habatus saudah dan beberapa jenis herbal. Kadang ditambah bekam dan ruqyah. Pengobatan ini jauh lebih murah karena praktisinya cukup ikut kursus singkat, tidak harus kuliah di fakultas kedokteran bertahun-tahun. Profesi thabib atau hijamah ini juga relatif belum diatur, belum ada kode etik dan asosiasi profesi yang mengawasinya, sehingga tidak perlu biaya tinggi khas kapitalisme.

Namun sebagian aktivis gerakan ini dalam perjalanannya terlalu bersemangat, sehingga lalu bertendensi menolak ilmu kedokteran modern, seakan “bukan cara Nabi”. Realitas pelayanan kesehatan modern yang saat ini sangat kapitalistik menjadi alasan untuk menuduh seluruh ilmu kedokteran modern ini sudah terkontaminasi oleh pandangan hidup Barat, sehingga harus ditolak.

Salah satu contoh adalah gerakan menolak vaksinasi. Sambil mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial), dengan amat semangat, gerakan ini menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat” atau “sebelum ada vaksinasi, tidak ada penyakit-penyakit ganas seperti kanker”.

Tentu menjadi menarik untuk melihat seperti apa pencegahan penyakit di masa Khilafah itu?

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa vaksinasi memang sebuah teknologi dalam ilmu kedokteran yang baru ditemukan oleh Edward Jenner pada akhir abad-18 dan dipopulerkan awal abad-19. Vaksin penemuan Jenner ini berhasil melenyapkan penyakit cacar (small pox) - bukan cacar air (varicella). Pada abad-19, penyakit cacar ini membunuh jutaan manusia setiap tahun, termasuk rakyat Daulah Khilafah! Namun saat itu Daulah Khilafah sudah dalam masa kemundurannya. Andaikata Daulah Khilafah masih jaya, barangkali teknik vaksinasi justru ditemukan oleh kaum Muslimin.

Dalilnya adalah Rasulullah menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal semasa hidupnya, seperti bekam atau meminumkan air kencing onta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam. Lalu ada hadits di mana Rasulullah bersabda, “Antum a’lamu umuri dunyakum” - Kalian lebih tahu urusan dunia kalian. Hadits ini sekalipun munculnya terkait dengan teknik pertanian, namun dipahami oleh generasi Muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan. Itulah mengapa beberapa abad kaum Muslim memimpin dunia di bidang kedokteran, baik secara kuratif maupun preventif, baik di teknologinya maupun manajemennya.

Muhammad ibn Zakariya ar Razi (865-925 M) menemukan kemoterapi. Sekitar tahun 1000 M, Ammar ibn Ali al-Mawsili menemukan jarum hypodermik, yang dengannya dia dapat melakukan operasi bedah katarak pada mata! Pada kurun waktu yang sama, Abu al-Qasim az-Zahrawi mengembangkan berbagai jenis anastesi dan alat-alat bedah, yang dengannya antara lain dapat dilakukan operasi curette untuk wanita yang janinnya mati.

Pada abad-11 Ibnu Sina menerbitkan bukunya Qanun fit-Thib, sebuah ensiklopedia pengobatan yang menjadi standar kedokteran dunia hingga abad 18. Di dalam kitab itu juga ditemukan saran Ibnu Sina untuk mengatasi kanker, yakni “pisahkan dari jaringan yang sehat, potong dan angkat”. Jadi 1000 tahun yang lalu, jauh sebelum ada vaksinasi, sudah ada penyakit kanker! Karena penyakit ini memang sudah ditemui sejak Hipokrates, dokter Yunani Kuno. Jadi tidak benar tuduhan bahwa kanker disebabkan oleh vaksinasi.

Semua penemuan teknologi ini tentunya hanya akan berhasil diaplikasikan bila masyarakat semakin sadar hidup sehat, pemerintah membangun fasilitas umum pencegah penyakit dan juga fasilitas pengobatan bagi yang telanjur sakit. Kemudian para tenaga kesehatan juga orang-orang yang profesional dan memiliki integritas, bukan orang-orang dengan pendidikan asal-asalan serta bermental pedagang.

Menarik untuk mencatat bahwa di daulah Islam, pada tahun 800-an Masehi, madrasah sebagai sekolah rakyat praktis sudah terdapat di mana-mana. Tak heran bahwa kemudian tingkat pemahaman masyarakat tentang kesehatan pada waktu itu sudah sangat baik.

Pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar Razi, Ibn al Jazzar dan al Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan berakibat kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.

Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter khalifah menguji setiap tabib agar mereka hanya mengobati sesuai pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai konsultan kesehatan, dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit.

Pada abad-9, Ishaq bin Ali Rahawi menulis kitab Adab at-Tabib, yang untuk pertama kalinya ditujukan untuk kode etik kedokteran. Ada 20 bab di dalam buku itu, di antaranya merekomendasikan agar ada peer-review atas setiap pendapat baru di dunia kedokteran. Meskipun madu atau habatussaudah sudah direkomendasikan sebagai obat oleh Rasulullah, tetapi dosis yang tepat untuk penyakit-penyakit tertentu tetap harus diteliti.

Lalu kalau ada pasien yang meninggal, maka catatan medis sang dokter akan diperiksa oleh suatu dewan dokter untuk menguji apakah yang dilakukannya sudah sesuai standar layanan medik. Hal-hal semacam ini yang sekarang justru masih absen di kalangan penggiat Thibbun Nabawi.

Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit, sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan. Meski demikian, negara membangun banyak rumah sakit di hampir semua kota di Daulah Khilafah.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum Muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, tetapi pertama-tama adalah urusan masing-masing, walaupun juga tidak direduksi hanya sekedar pada kebiasaan mengonsumsi madu atau habatus saudah. Ada sinergi yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan Muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi.

Andaikata khilafah kembali tegak, maka pencegahan penyakit tidak hanya sekedar urusan vaksinasi, tetapi khilafah juga tidak menafikan keberadaan vaksinasi karena ini adalah produk teknologi seperti teknologi lain yang dikembangkan ilmuwan Muslim terdahulu.

Oleh Fahmi Amhar

Kamis, Oktober 20, 2011

Inilah 9 Judul Buku Dilarang Beredar di Toko Buku

TRIBUNNEWSBATAM.COM, KARIMUN - Pengelola dan pengunjung sejumlah toko-toko buku di Tanjungbalai Karimun, Rabu (19/10/2011) sekitar pukul 14:30 WIB dibuat kaget dengan kedatangan Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Karimun, Hanjaya Candra SH beserta beberapa orang anggotanya. Hanjaya dan orang-orangnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait peredaran 9 judul buku terlarang di toko-toko buku tersebut.


Sidak tersebut diantaranya dilakukan di Toko Buku Salemba depan kantor Imigrasi, Kolong, TB Bintaro samping Swalayan Indo A Yani, Jack Agency depan BNI, TB Al Kautsar Pasar Sri Karimun.

Hanjaya Candra SH, Kasi Intel Kejari Tanjungbalai Karimun kepada wartawan mengatakan ada 9 judul buku yang dicekal peredarannya di Indonesia termasuk di Kabupaten Karimun oleh Jaksa Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung RI. Hal itu dikarenakan isi buku tersebut dinilai beraliran kerasa dan menyimpang dari ajaran agama tertentu. Selain itu, buku tersebut dikhawatirkan akan cendrung menciptakan bentuk-bentuk pemikiran terorisme bagi pembacanya.

"Ke sembilan judul buku tersebut dikhawatirkan membuat pembacanya terprovokasi mengikuti teori-teori yang dipaparkan," kata Hanjaya Candra usai sidak.

Daftar Buku Dalam Pengawasan Kejari:

1. Tafsir Fi Zhilalil Quran Jilid 2 Serangan Sayyid Qutbh, Diterjemahkan oleh As'ad Yasin-Muahotob Hamzah, Terbitan Gema Insani Depok-Jakarta 2001.

2. Loyalitas dan Anti Loyalitas dalam Islam karangan Muhammad bin Sa'id Al Qathani diterjemahkan oleh Salahudin bin Abu Sayid terbitan PT Era Adi Citra Intermedia-Solo 2009.

3. Ikrar Perjuangan Islam karangan DR Najih Ibrahim diterjemahkan oleh Abu Ayub Ansyori terbitan Pustaka Al Alaq dan Al Qowam-Solo 2009

4. Khilafah Islamiyah-Suatu Realita bukan Khayalan karangan Prof DR Syeikh Yusuf Al Qaradawi diterjemahkan oleh Ahmad Nuryadi, terbitan PT Fikahati Aneka-Jakarta 2000.

5. Kado Istimewa untuk Sang Mujahid karangan Syakh Dr Abdullah Azman, diterjemahkan oleh Abdul Fattan Al Bourie, terbitan PT Pustaka Al Alaq-Solo 2008.

6. Catatan dari Penjara - Untuk Mengamalkan dan Menegakan Dinul Islam karangan Abu Bakar Ba'asyir, terbitan Mushaf, Depol Jawa Barat, 2008.

7. Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah karangan Syabab Hizbut Thahtir Inggris, diterjemahkan oleh M Ramdhan Adi, terbitan Pustaka Thariqul Izzan, Bogor 2008.

8. Syariat Islam-Solusi Universal karangan Prof Wahbah Az Zuhali, diterjemahkan oleh Ridwan Yahya LC, terbitan Pustaka Nuwaitu, Jakarta Timur 2004.

9. Visi Politik Gerakan Jihad karangan Hazim Al Madanidan Abu Mus'ab As Suri, diterjemahkan oleh Luqman Hakim Lc dan Umarul Faruq Lc, terbitan Jazera, Solo 2010.