Klinik Motivasi

Selasa, September 20, 2011

Efek Nonton SpongeBob, Anak-anak Jadi Lamban

REPUBLIKA.CO.ID, CHARLOTTESVILLE - Menurut sebuah studi yang baru-baru ini dikeluarkan, anak-anak mengalami kesulitan belajar segera setelah menonton film kartun di televisi yang penuh dengan gambar dan kegiatan atau tingkah laku para tokoh kartun yang tidak mungkin ada dalam dunia nyata.


Efek tersebut oleh para peneliti dinamakan “Efek SpongeBob”, yang diambil dari nama “SpongeBob Squarepants”, sebuah karakter kartun di petualangan bawah laut yang hampir ditonton oleh setiap anak di seluruh dunia.

Peneliti dari Universitas Virginia ingin mengetahui apakah menonton "SpongeBob" mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk cepat belajar setelah melihat menonton film tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut penelitian dilakukan oleh sekelompok anak yang berumur empat tahun untuk menonton video pendek “SpongeBob” atau pertunjukan animasi lain yang lebih realistis seperti “Caillou”. Dan kelompok anak-anak lainnya menghabiskan waktu dengan menggambar.

Salah seorang peneliti, Angelina Lillard, mengatakan tes tersebut menggunakan metode tes standart yang dirancang untuk mengukur kemampuan anak-anak tersebut berkonsentrasi belajar dan memecahkan masalah.

Hasil dari penelitian tersebut adalah anak-anak yang menonton “SpongeBob” lebih lambat untuk segera melakukan aktivitas lainnya dibandihgkan dengan anak-anak yang hanya menghabiskan waktu dengan menggambar.

Lillard mengatakan salah satu alasan mengapa acara seperti “SpongeBob Squarepants” mungkin mempengaruhi pembelajaran adalah karena kombinasi dari kecepatan dan konten. Menurutnya, anak-anak dapat dengan cepat memproses hal-hal yang baru mereka lihat, dan itu sulit diproses karena adegan yang ada di dalam film SpongeBob tidak benar-benar terjadi di kehidupan nyata.

Lillard menjelaskan bahwa studinya hanya melihat bagaimana anak-anak dapat belajar dengan cepat setelah menonton acara TV, sehingga dia tidak bisa mengatakan apakah menonton jenis program tertentu dapat memberikan efek permanen pada cara anak-anak tersebut belajar. Ia juga mengatakan orang tua harus berpikir saat anak-anak mereka menonton film tersebut dan seberapa sering mereka menonton, karena pasti akan ada efek tertentu setelah itu.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Nur Feby Rosiana

Waduh...SpongeBob SquarePants Tak Bagus untuk Anak di Bawah 4 Tahun Lho...

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Pilihlah tayangan untuk anak yang pas jika Anda tak ingin kemampuan anak untuk berkonsentrasi dalam belajar terganggu. Menurut sebuah survei, tayangan televisi yang alurnya terlalu meloncat cepat semacam Spongebob Squarepants dinilai tidak cocok untuk anak usia 4 tahun ke bawah.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics mengungkap, karakter para tokoh yang ada di film kartun semacam SpongeBob dianggap kurang realistis untuk anak usia 4 tahun. "Kami menemukan anak-anak yang menonton tayangan SpongeBob SquarePants mengalami kesulitan dalam kesiapan mereka untuk belajar," kata Angeline S. Lillard, psikolog dari University of Virginia yang memimpin penelitian. Terutama, katanya, dalam kemampuan mereka untuk berpikir dan berkonsentrasi.

Penelitian mereka melibatkan 60 anak berusia 4 tahun. Anak-anak tersebut dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing disuruh melakukan aktivitas yang berlainan dalam waktu sekitar 9 menit.

"Ketika anak-anak menonton tayangan deng memberi informasi dengan sangat cepat, mereka akan mengalami kesulitan memprosesnya karena tak biasanya. Dalam tayangan semacam episode SpongeBob, banyak hal yang terjadi yang tak ada dalam kehidupan nyata," katanya. "Ini membuat mereka secara mental kelelahan, paling tidak untuk jangka waktu pendek," katanya.

Berapa lama efeknya, Lillard tak bisa memastikan. Tapi jika hal ini terus terjadi, katanya, maka akan membentuk suatu problem atensi jangka panjang.

Lillard menyarankan orang tua untuk menjaga anak mereka dari tayangan kartun beralur cepat. "Larang sama sekali atau dampingi mereka saat menontonya," katanya.

Dr. Dimitri A Christakis, direktur Center for Child Health, Behavior and Development di University of Washingtonmenyebut studi ini sangat bermanfaat. "Merupakan kontribusi yang signifikan untuk memperkaya pengetahuan kita tentang efek media bagi anak-anak," katanya.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Babycenter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar