Klinik Motivasi

Jumat, Februari 03, 2012

BERCERMIN KEPADA KEHIDUPAN RASULULLAH

Pernahkah engkau renungkan tentang

Hidup Rasulullah junjungan

Rela hidup dalam kesederhanaan

Pertahankan kehormatan,lewati malam yang kelam

Dalam keadaan lapar,bersama segenap keluarganya

Tak dapatkan satupun makanan…(suara persaudaraan)


Kutipan diatas merupakan syair dari nasyid yang mencoba menggambarkan secuil episode kehidupan Rasulullah yang sederhana, namun dalam kebersahajaan, kehidupan keluarga Rasulullah tidaklah membuatnya menjadi terhina , beliau tetaplah dipandang sebagai sosok yang mulia.Dan dalam kebersahajaannya beliau tetaplah menjadi orang yang paling bahagia.

Kita mungkin mengetahui bahwa baginda nabi Muhammad SAW sejak kecil bukanlah sosok yang hidup dalam limpahan materi, sekalipun beliau akhirnya menjadi pimpinan negara Islam yang pertama, tidak pernah kita mendengar gaya hidup glamour dari keluarga Rasulullah, bahkan ketika putrinya Fathimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib beliau mengadakannya secara sederhana.

Kehidupan beliau sarat dengan ujian dan pengorbanan, sejak kecil beliau telah menjadi yatim piatu dan menjalani kehidupan yang berat. Walaupun demikian, beliau tidak gemar meminta-minta , melakukan kebohongan apalagi penipuan sehingga sangat masyhur jika Rasulullah bergelar al-amin yang berarti dapat dipercaya. Hingga akhirnya beliau memikat Khadijah, salah satu wanita pedagang kaya di kota makkah, toh pernikahan beliaupun tidak mengubah pola hidup beliau , bahkan bersama-sama isteri tercintanya Rasulullah telah mendedikasikan diri bagi tegak dan tersebarnya risalah Islam keseluruh penjuru bumi, sehingga keuntungan dari hasil perniagaan telah digunakan oleh keluarga Rasulullah demi kepentingan dakwah Islam bukan untuk memperkaya dirinya.

Dalam kebersahajaannya, Rasulullah juga dikenal sebagai orang yang dermawan, beliau selalu membantu orang yang dalam kesulitan Dalam kehidupan sosial Rasulullah saw bukanlah tipe individualis yang hanya memikirkan dirinya sendiri; bukan pula manusia yang suka berdiam dirumah seraya memisahkan diri dengan masyarakat sekitar. Beliau senantiasa bergaul dengan masyarakat dari kalangan atas hingga kalangan bawah untuk menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia. Bahkan hingga akhir kehidupannya Rasulullah sangat peduli dengan umatnya. Ini dibuktikan oleh beliau pada saat menjelang wafat beliau sangat mengkhawatirkan nasib umatnya.

Kesederhanaan kehidupan Rasulullah tidaklah menghantarkan masyarakat yang dipimpin oleh Rasulullah berjalan menuju kemunduran dan tidak produktif. Namun dibawah kepemimpinan Rasulullah akhirnya Islam tersebar keseluruh penjuru bumi yang diteruskan oleh para sahabat dan para khalifah beliau yang menghantarkan Islam kepada kejayaan dan menjadi negara yang berperadaban maju bahkan disegani.

Dalam kehidupan keluarga,meskipun sejak lahir tidak merasakan kasih sayang dari sang ayah, Rasulullah adalah suami dan bapak yang baik bagi isteri dan anak-anaknya, beliau adalah suami yang bertanggung jawab kepada keluarganya,melindungi keluarga dari sengatan api neraka, ayah yang sangat memperhatikan anak-anaknya, kakek yang penyayang kepada cucu-cucunya.

Rasulullah saw adalah kekasih Allah, penghulu ahli surga. Meskipun demikian rasa takut kepada Allah sering menyelinap dalam batin beliau.Ummul mukminin Aisyah ra. Pernah menuturkan bahwa apabila langit mendung, awan menghitam dan angin kencang.Wajah baginda Nabi saw yang biasanya memancarkan cahaya akan terlihat pucat pasi karena takut kepada Allah. Beliau lalu keluar dan masuk mesjid dalam keadaaan gelisah seraya berdoa (yang artinya),”Ya Allah..aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hujan dan angin ini. Dari keburukan apa saja yang dikandungnya dan keburukan apa saja yang dibawanya.”

Aisyah ra. bertanya, ”Ya Rasulullah, apabila langit mendung, semua orang merasa gembira karena pertanda hujan akan turun. Namun, mengapa engkau tampak ketakutan?”Nabi saw menjawab, ”Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa awan hitam dan angin kencang itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum ’Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Saat awan mendung, mereka bergembira karena mengira hujan akan turun. Padahal Allah kemudian mendatangkan azab atas mereka. ” (HR> Muslim dan at-Tirmidzi).

Dalam kehidupan publik, Rasulullah saw adalah pemimpin segala bidang. Beliau pemimpin umat dimesjid, didalam pemerintahan, juga dimedan pertempuran. Beliau nampak seperti seorang psikolog yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi beradab, juga seorang politikus yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Beliau juga pemimpin ruhani yang melaui aktivitas peribadahannya telah menghantarkan jiwa pengikutnya ke alam kelezatan samawiyah dan keindahan suasana ilahiah.

Demikianlah kehidupan Rasulullah, sosok yang sangat agung dan mulia akhlaknya. Bahkan sahabat beliau sendiri sulit menceritakan kemuliaan sosok Rasulullah saw. Siti Aisyah ra., ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab, “akhlak Rasulullah saw adalah al-Quran itu sendiri, artinya sosok Rasulullah bak Al-Quran yang berjalan.

Bagaimanakah dengan keadaan muslim saat ini? Adalah sebuah kenyataan yang ironi manakala kaum muslimin yang saat ini marak mengenang kelahiran Rasulullah, namun pada saat bersamaan anggota dewan dan juga pejabat yang notabene mayoritas muslim juga hiruk pikuk menuntut berbagai tunjangan dan fasilitas, jauh dari sikap sederhana dan qanaah yang dicontohkan oleh Rasul padahal derita dan kemiskinan rakyat makin mengiris hati. Sebagian dari mereka bahkan terpaksa makan nasi aking hingga nasi basi, setiap hari.

Rasulullah sangat takut kepada Allah, anehnya banyak manusia yang tidak pernah mendapat jaminan masuk syurga, seolah tidak pernah takut dengan azabnya. Bencana yang datang silih berganti dianggap hal yang biasa dan wajar. Kita seperti telah kebal dan bebal dengan bencana sehingga hutan tetap digunduli, alam terus dieksploitasi perusakan lingkungan gencar tiada henti, korupsi dan kezaliman menjadi-jadi

Bagi kaum Muslim, Rasulullah saw jelas menempati tempat yang sangat istimewa.Rasulullah telah menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya dengan membawa risalah Islam dari Allah Swt. Allah juga mewajibkan kita untuk meneladani beliau secara keseluruhan, tidak mengambil hal-hal yang baik berdasarkan selera kita semata melainkan secara menyeluruh Bagaimana mungkin seseorang dikatakan mencintai rasulullah, sementara teladan kehidupan real dia ambil bertentangan dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah. Dalam berekonomi dia meneladani Adam Smith dan David Ricardo, dalam berpolitik dia merujuk kepadaa Machievelli dalam kehidupan sosial dan perubahan masyarakat dia berkaca kepada konsep Karl Marx, Lenin dan Stalin.

Meskipun saat ini kita berada dalam ruang dan waktu yang berbeda dengan beliau dan kita adalah manusia biasa yang tidak ma’shum,hal tersebut tidak dapat menjustifikasi bahwa kita boleh meninggalkan risalah beliau. Bahkan sudah seharusnya kaum muslimin menyelaraskan semua hal yang terkait dengan pribadi maupun sosial kita dengan tuntunan Rasulullah Saw. Dengan begitu InsyaAllah akan menghantarkan kita pada kemuliaan hidup dan menjadi jembatan bagi kita umtuk mendapatkan syafaat serta bertemu dengan beliau diakhirat kelak..Ya Rasulullah kami rindu padamu.....

Sumber : Materi siaran Wanita & Keluarga bersama Ustadzah Asliani Fahtimah (Muslimah HTI Kalsel) edisi Jum'at 3 Februari 2012 pukul 11.00-12.00 wita di Abdi Persada FM

Kamis, Januari 26, 2012

Mereka Punya Jiwa Sendiri

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.


Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.


Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.


Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi.


Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu


Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.


Kaulah busur, dan anak-anakmulahAnak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.


Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

( Khalil Gibran)


note : catatan ini merupakan catatan milist yg di share dan dijadikan status oleh seorang seorang teman yang kemudian saya share lagi dan sengaja saya abadikan dalam note saya :)

Minggu, Januari 22, 2012

HTI Kalsel Nilai Pembatasan BBM Menguntungkan Asing

Ratusan massa HTI Kalsel menggelar aksi simpatik menolak kebijakan pemerintah tentang pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada 1 April 2012 mendatang, pagi tadi (22/01). Aksi ini dilaksanakan di halaman Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin.


HTI Kalsel menilai rencana pembatasan BBM Bersubsidi tidak akan meningkatkan kesejahteraan rakyat, justru malah akan merugikan mereka. Bahkan rencana pembatasan tersebut dalam jangka panjang akan menguntungkan perusahaan migas asing seperti Total, Shell dan Petronas.

Untuk itu, HTI Kalsel menolak rencana pembatasan BBM Bersubsidi karena merupakan langkah lanjut menuju liberalisasi migas. Program pembatasan BBM bersubsidi sama artinya dengan pencabutan subsidi. Rakyat dipaksa untuk beralih ke BBM non subsidi seperti Pertamax.

HTI Kalsel juga menyatakan agar pemerintah segera mengganti kebijakan kapitalistiknya dengan sistem Islam yang sejalan dengan akidah umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini.

HTI Kalsel juga menyeru kepada umat Islam untuk lebih giat berjuang mewujudkan Syariah dan Khilafah.

Dalam aksinya yang dimulai sekitar pukul 09.00 wita itu, massa HTI mengusung spanduk besar berisi pernyataan "Aksi Simpatik DPD I HTI Kalsel : Tolak Liberalisasi Migas, Tolak Pembatasan BBM Bersubsidi, Terapkan Syariah dan Khilafah".

Berbeda dengan aksi sebelumnya, kali ini massa HTI tidak melakukan longmarch. Mereka berkumpul di halaman mesjid Sabilal Muhtadin sambil mendengarkan orasi yang dilakukan di atas mobil bak terbuka sebagai panggung.

Kamis, Januari 19, 2012

Simulasi Hitungan Subsidi BBM

Percayakah anda dengan pernyataan Pemerintah bahwa subsidi BBM sudah sangat besar, sehingga sudah saatnya membatasi BBM bersubsidi yaitu Premium hanya ke mobil pelat nomor kuning dan sepeda motor? Sudahkah rasa ingin tahu anda begitu besar sehingga mendorong untuk menghitung ulang sendiri besaran subsidi BBM saat ini? Tulisan ini hanya salah satu usaha seorang intelektual (meskipun boleh saja dianggap awam di bidang ekonomi perminyakan) yang ingin rasa tahunya terpuaskan.


Untuk memenuhi rasa ingin tahu itu, tentu saja kita harus berangkat dari pengetahuan dasar dan data ekonomi perminyakan terakhir.

Sebagai pengetahuan dasar, kita harus paham satuan-satuan energi. Untuk minyak mentah kadang dihitung dengan barrel, sedang minyak siap pakai (BBM) kadang dihitung dengan liter. 1 Barrel adalah sekitar 1 drum, dan untuk minyak mentah itu adalah 158,9873 liter, dan sebaliknya 1 kiloliter = 6,2893 barrel. Untuk gas alam (LNG) kadang diukur dengan kaki kubic (cubic feet), atau trilyun standar kaki kubic (TSCF). Satu CF adalah 28,3168 liter atau 0,1781 barrel. Tapi karena kandungan energi gas berbeda dari minyak, maka untuk mudahnya digunakan satuan “Setara Barrel Minyak” (SBM) atau Barrel Oil Equivalent (BOE). Ada juga satuan energi yang dihitung dengan Peta Joule, ini biasanya lazim di dunia fisika listrik. 1 Peta Joule = 10^15 Joule atau kira-kira sama dengan yang dihasilkan oleh 175074 SBM.

Pengetahuan dasar kedua adalah, dari minyak mentah itu setelah diolah akan menjadi banyak sekali produk, mulai gas (Liquid Petroleum Gas / LPG / elpiji), avtur, minyak tanah, gasoline atau bensin (premium, pertamax), minyak diesel (solar), minyak bakar, lilin hingga asphalt. Dari 1 barrel minyak mentah akan didapat 74,7 liter bensin atau cuma 47% (http://en.wikipedia.org/wiki/Barrel). Jadi premium maupun pertamax hanya berbeda di pengolahan di kilangnya, yang menyebabkan nilai oktannya berbeda.

Pengetahuan dasar berikutnya adalah angka lifting, yaitu minyak yang diambil setiap hari. Minyak diproduksi tiap hari, tetapi jumlahnya bisa bervariasi. Kadang suatu sumur harus dirawat sehingga berhenti beroperasi. Jadi angka lifting adalah angka rata-rata. Kemudian harga minyak mentah juga bervariasi, baik di tingkat produksi maupun di pasar. Di tingkat produksi, biaya instalasi sumur dan biaya operasi sehari-hari sangat bervariasi, tergantung tingkat kesulitan medan (hutan, pantai, laut), jarak dari kilang atau dermaga, dan jumlah cadangan yang ada. Di pasar dunia juga harga bervariasi mengikuti musim. Ketika musim dingin orang butuh lebih banyak bahan bakar sehingga harga minyak akan melambung. Dan karena minyak diperdagangkan di bursa barang berjangka dunia, maka harga minyak untuk pengiriman sekian bulan ke depan sudah menjadi objek spekulasi.

Karena itulah pemerintah lalu mengambil asumsi-asumsi untuk APBN. Ini karena di APBN kita, penghasilan dari minyak harus dimasukkan dahulu. Jadi bagi Pertamina harga minyak mentah bukan Rp 0,-, tetapi sesuai asumsi APBN. Yang Rp 0,- adalah minyak mentah yang masih di dalam tanah. Untuk mengangkatnya perlu biaya juga. Minyak bumi adalah komponen pendapatan negara yang signifikan selain dari Sumberdaya alam lainnya, Pajak dan PNBP seperti bea cukai, retribusi dsb.

Contoh asumsi itu adalah, untuk APBN 2011:

Lifting : 970.000 barrel/hari

Harga minyak :US$ 80 / barrel

Nilai tukar 1 US$ = Rp. 9300,-

Dari ketiga asumsi ini, didapat angka sebagai berikut:

Produksi tahunan minyak mentah adalah 970.000 x 365 = 354,1 juta barrrel / tahun dan pendapatan negara dari minyak mentah adalah 354,1 juta barrel x US$ 80 x Rp. 9300 = Rp. 263,4 Trilyun. Angka inilah yang harus dibayarkan oleh siapapun yang akan membeli minyak mentah tersebut, baik Pertamina maupun dari Luar Negeri.

Tetapi di APBN 2011, pendapatan dari minyak bumi hanya ditulis 104,8 Trilyun (40% dari harga lifting).

Mungkin penjelasannya, angka US$ 80 / barrel atau total Rp. 263,4 Trilyun/tahun itu masih brutto, sementara ada “biaya produksi” untuk mengangkat minyak itu dari dalam tanah, sehingga netto jatuh Rp. 104,8 Trilyun. Tetapi, untuk sebuah “ongkos”, Rp. 158,6 Trilyun (60%) memang sangat besar. Mungkin ini termasuk cost-recovery di hulu (selain cost-recovery di hilir), biaya bagi hasil dengan kontraktor minyak asing, dan keuntungan pertamina hulu.

Lalu dengan produksi minyak mentah 354,1 juta barrel / tahun dan asumsi yang menjadi bensin hanya 47%, maka ini akan menjadi 26,4 juta kiloliter.

Tetapi data di harian Kompas 10 Februari 2011, volume BBM bersubsidi pada APBN 2011 adalah 38,2 juta kiloliter. Ini pasti mencakup seluruh BBM, termasuk solar dan minyak tanah, karena yang premium hanya 60% atau sekitar 23 juta kiloliter. Kalau ditambah pertamax yang selama ini pasarannya sangat kecil, tidak ada 5%, maka semestinya belum mencapai 26,4 juta kiloliter yang diproduksi di dalam negeri!.

Masalahnya data prosentase produk-produk kilang minyak di dalam negeri cukup sulit dijumpai.

Yang ada adalah data dari Kementrian ESDM tentang Arus minyak nasional pada tahun 2007.

Dari sini bisa disimulasi sembilan hal (dalam juta barrel):

A. Minyak mentah sendiri yang diproduksi (348)

B. Minyak mentah sendiri yang diekspor (135)

C. Minyak mentah sendiri yang diolah (204)

D. Minyak mentah impor yang diolah (116)

E. BBM yang dihasilkan kilang dalam negeri (244)

F. Hasil non BBM (89)

G. BBM yang diimpor (150)

H. Total BBM yang dijual (392)

I. BBM bersubsidi untuk transportasi & rumah tangga (276)

Harga A dan C mengikuti asumsi APBN (US$ 80/barrel atau US$ 0,503/liter). Harga B, D, F, G mengikuti fluktuasi pasar dunia (misalnya saat ini US$ 100/barrel atau US$ 0,629/liter untuk minyak mentah dan Rp. 9000/liter atau US$ 0,968/liter untuk BBM). Harga E merupakan komposit asumsi APBN dan pasar dunia karena ada komponen minyak mentah impor, menjadi US$ 0,527/liter. Harga H karena merupakan totalitas, sebagian mengikuti harga eceran yang ditetapkan pemerintah dan sebagian mengikuti harga BBM pasar dunia karena dijual ke industri, sehingga dengan memperhatikan komposisinya menjadi US$ 0,790/liter. Hanya harga I yang mengikuti harga eceran pemerintah, yang disebut juga harga bersubsidi, yaitu Rp. 4500/liter atau US$ 0,715/liter. Dengan demikian kita sudah membawa seluruh arus minyak dalam satuan yang sama.

Yang diinginkan negara masuk ke APBN adalah harga besaran A, setelah dikalikan asumsi harga minyak mentah dengan efisiensi yang hanya 40% (=Rp. 102,99 T).

Yang didapatkan negara dari penjualan adalah B+F+H dengan asumsi harga minyak mentah dunia, harga pasar BBM dunia, dan komposisi produk bersubsidi dan non subsidi = Rp. 571,79 T.

Kemudian yang mesti dikeluarkan adalah penyisihan untuk APBN (A) Rp 258,9 T ditambah untuk impor minyak mentah dan impor BBM (E+G = Rp 322,5 T) menjadi Rp. 581,44 T.

Dari sini terbaca bahwa Pendapatan dikurangi Pengeluaran adalah defisit Rp 9,65 T. Defisit ini mungkin karena kebutuhan impor BBM yang sudah cukup tinggi akibat tingkat motorisasi yang semakin besar. Mungkin inilah subsidi yang sesungguhnya, pendapatan dikurangi pengeluaran (atau kita sebut biaya produksi), setelah ada kebutuhan memasukkan pendapatan minyak bumi ke APBN dengan asumsi harga tertentu. Yang mengejutkan, cukup hanya dengan menaikkan harga eceran BBM menjadi Rp. 4720/liter (hanya naik Rp. 220,-), defisit ini sudah nol Rupiah.

Meski arus minyak di atas adalah dari tahun 2007, tetapi volume BBM bersubsidi (huruf I) sudah diasumsikan 43,9 juta kiloliter, lebih tinggi dari data yang dimuat di Harian Kompas 10 Februari 2011. Namun tidak sulit juga memproyeksikan bila ada kenaikan kebutuhan BBM sebanyak 1 juta kiloliter (= 6,3 juta barrel) yang kita impor semua (G=156,3), dan yang dijual dengan harga eceran semua (H=398,2, I=282,3), maka defisitnya menjadi Rp. 14,15 T. Bila harga eceran dinaikkan menjadi Rp. 4815/liter, maka defisit sudah kembali 0. Kalau kebutuhan BBM naik lagi 1 juta Kiloliter, maka defisit dapat dijaga 0, kalau harga eceran kembali naik Rp. 95/liter.

Namun kalau subsidi ini dihitung dengan selisih harga eceran (Rp. 4500) dengan harga BBM pasar dunia (Rp. 9000) dikalikan angka huruf I yaitu jumlah BBM bersubsidi untuk transportasi & rumah tangga (276 juta barrel/tahun), muncul angka Rp (9000-4500) x 276 x 159 / 1000 = Rp. 197,5 T. Jadi pada model ini, subsidi baru 0 bila harga eceran BBM = harga BBM pasar dunia.

Hitung-hitungan ini boleh jadi kurang tepat, kurang akurat, bahkan keliru. Semoga bahkan data ongkos produksi minyak mentah salah, tidak setinggi itu. Maklum penulis relatif awam di bidang ekonomi perminyakan. Tetapi tolong, tunjukkan hitung-hitungan yang lebih akurat, cermat dan lengkap. Agar kami kaum intelektual tidak terus bertanya-tanya, meraba-raba dan berburuk sangka.

Tulisan dari Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar, adalah peneliti utama dan pengamat sumberdaya alam dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional.

Rabu, Januari 18, 2012

Stop Mengatakan Hal Ini pada Anak Anda !!

REPUBLIKA.CO.ID, Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.


Apa itu?

''Pergi sana! Bapak Mau Sendiri!''
Ketika Anda kerap melontarkan kata-kata ini pada anak, Suzette Haden Elgin, pendiri Ozark Center, mengatakan anak-anak akan berpikir tidak ada gunanya berbicara dengan orang tuanya karena mereka selalu diusir. ''Jika Anda terbiasa mengatakan hal-hal itu pada anak-anak sejak mereka kecil, biasanya mereka akan mengatakan hal serupa ketika dewasa.''

''Kamu Itu...''

Pelabelan pada anak adalah cara pintas untuk mengubah anak-anak. Jika seorang ibu mengatakan, ''Anak saya memang pemalu'', maka anak akan menelan begitu saja label itu tanpa bertanya apa pun. Apalagi, bila kita memberikan label buruk pada anak-anak, itulah yang akan melekat dalam benak mereka seumur hidup.

''Jangan Nangis''

Atau, kata-kata serupa seperti, ''Jangan cengeng'' atau ''Nangis melulu''. Padahal, untuk anak-anak yang belum dapat mengekspresikan emosi lewat kata-kata, mereka hanya dapat menyalurkannya dengan cara menangis. Adalah wajar, bila anak-anak merasa sedih atau ketakutan. ''Sebenarnya, wajar saja bila ortu ingin melindungi anak mereka dari perasaan-perasaan itu. Tapi, dengan mengatakan ''jangan'' tidak berarti anak-anak akan lebih baik. ''Ini juga akan memberikan kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih,'' ujar Debbie Glasser, direktur Family Support Services. Lebih baik, katakan pada anak bahwa Anda memahami perasaan sedih yang dia alami. ''Ibu paham kamu takut dengan ombak. Ibu janji tidak akan melepaskan tanganmu lagi, Nak...''

''Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?''

''Lihat tuh, Doni rapi banget mengancing bajunya. Kok kamu tidak bisa?''
Para pakar menilai wajar orang tua membandingkan anak-anaknya. Ini akan menjadi referensi terhadap perkembangan anak-anak. Namun, tolong, jangan katakan ini di depan anak-anak. Ini karena tiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka punya kepribadian tersendiri. Membandingkan anak dengan orang lain berarti Anda menginginkan anak Anda menjadi orang yang berbeda.

Minggu, Januari 15, 2012

HTI Kalsel Tolak Pencabutan Perda Anti Miras

Banjarmasin. Pencabutan sejumlah Perda yang melarang peredaran dan penjualan minuman beralkohol atau minuman keras (miras) oleh Kementerian Dalam Negeri (Mendagri) beberapa waktu yang lalu mendapatkan reaksi dari berbagai pihak. Salah satunya, ratusan massa HTI Kalsel menggelar Aksi Simpatik "Tolak Pencabutan Larangan Peraturan Miras" pagi tadi di Halaman Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin(15/01).


Humas HTI Kalsel, Hidayatul Akbar menuturkan pihaknya merasa terpanggil dengan munculnya Kemendagri mencabut perda yang mengatur miras. Menurutnya, pencabutan perda miras hanya akan semakin memperparah keadaan. Keberadaan miras hanya akan menjemuskan masyarakat dan memicu kriminalitas.

"HTI mengecam keras pencabutan sejumlah perda miras oleh Kemendagri. Karena itu berarti miras di negara ini dilegalkan. Padahal miras ini adalah pangkal segala kejahatan. Pembunuhan, perzinaan, bahkan narkoba akrab dengan miras," katanya.

Hidayatul Akbar menyampaikan alasan Kemendagri melakukan pencabutan perda anti miras ini karena bertentangan dengan Keppres Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol. Namun Hidayatul Akbar menilai keppres tersebut sarat masalah. Keppres tersebut justru malah membuka celah bagi pengusaha untuk memproduksi minuman beralkohol dengan izin Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Mestinya keppres bermasalah itu yang harus dicabut, bukan perdanya. Sebab keppres itulah yang menjadi biang kerok maraknya peredaran miras di tengah masyarakat.

Tindakan pencabutan perda anti miras ini menunjukkan pemerintah lebih mengacu kepada kepentingan bisnis daripada menjaga moralitas rakyatnya. Untuk itu, Hidayatul Akbar mengajak kepada masyarakat untuk lebih giat berjuang menyelamatkan negara ini dengan Syariah dan Khilafah. Dengan syariah, menurutnya tidak akan terjadi ketidaksinkronan hukum antara pusat dan daerah seperti yang saat ini terjadi. (Dini)

Kamis, Januari 12, 2012

Pembentukan Moral Etika dan Sopan Santun (Bagian 1)

Akhir-akhir ini kasus kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak semakin marak terjadi. Berdasarkan catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) awal tahun 2012 ini, sudah ada enam kasus yang melibatkan anak dalam hukum. Diantaranya kasus pencurian sendal oleh AAL, yang divonis bersalah dan dihukum dikembalikan ke orang tua, penjambretan yang dilakukan anak karena dipaksa preman di Bali, kakak beradik yang tewas di sel tahanan Polsek Sijungjung (Padang), akibat mencuri kotak amal, perkelahian bocah 7 tahun dan seorang anak hakim 8 tahun di Sangita Laut (Sulawesi Utara), bocah 7 tahun tersebut dikenakan wajib lapor, kakak beradik yang disuruh ayahnya mencuri rumah kosong di Lampung dan seorang anak yang dituding mencuri delapan batang bunga Andelin di Soe, NTT.


Tentu kita prihatin melihat kenyataan ini. Mau dibawa kemana bangsa ini ? Jika generasi muda yang akan menggantikan para pemimpin di masa depan memiliki nilai moral dan etika yang begitu rendah. Berkaitan dengan hal inilah, saya dan dr. Akhmad Fadly Noor, CHt, M.NLP membahas tema "Pembentukan Moral Etika dan Sopan Santun Pada Anak Sejak Dini" tadi siang dalam program Sekolah Ayah Ibu. Acara ini disiarkan setiap hari Kamis pukul 11.00 - 13.00 wita di Abdi Persada FM.

Setiap orang tua "merasa" sudah memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sudah "merasa" mendidik dengan benar putra-putrinya. Meskipun tidak menutup kemungkinan, ada juga orang tua yang melalaikan tugasnya mengajarkan kebaikan kepada buah hatinya. Itu pengecualianlah. Tapi mengapa masih terjadi perbuatan anak yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan orang tuanya ?

Menurut dr. Fadly, hal itu disebabkan karena :

1. Tidak ada informasi tentang moral etika dan sopan santun di dalam diri anak.

Sama seperti orang dewasa, ketika anak melakukan suatu perbuatan, hal itu merupakan hasil dari proses berpikirnya yang dia peroleh dari informasi yang didapat baik dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Kemudian informasi tadi diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan. Apakah dia melakukan atau tidak melakukan perbuatan tersebut. Misalnya orang tua tidak memberikan informasi tentang mencuri adalah perbuatan yang buruk kepada anak. Maka ketika anak dihadapkan pada perbuatan mencuri tersebut (mungkin diajak teman dll)

2. Tidak ada filter dalam diri anak untuk menyaring informasi yang didapat

Jika orang tua merasa sudah memberikan informasi tentang moral etika dan sopan santun kepada anaknya namun ternyata hasilnya berbeda. Si anak melakukan perbuatan yang tidak diharapkan oleh orang tua. Berarti orang tua belum cukup memberikan informasi kepada anak yang dia gunakan sebagai filter/saringan terhadap informasi dari lingkungannya.

dr. Fadly menekankan penting sekali bagi orang tua untuk selalu intropeksi diri. Apakah sudah mendidik anaknya dengan cara yang tepat sehingga hasilnya sesuai dengan harapan ?

#pembahasannya bersambung ke kamis depan, karena tadi lebih banyak menjawab kasus yang disampaikan pendengar melalui telpon :)