Klinik Motivasi

Senin, September 14, 2009

Doa-Doa Lailatul Qadr

Keutamaan Berdoa pada Lailatul Qadr

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Ber­doa pada Lailatul Qadr lebih aku sukai daripada shalat." la berkata pula, "Apabila seseorang membaca Al-Quran, berdoa, serta meningkat­kan doanya kepada Allah, mudah­ mudahan dia memperoleh waktu mustajab."


Yang dimaksudkan oleh Sufyan dengan "berdoa lebih aku su­kai daripada shalat" adalah, shalat yang banyak mengandung doa di dalamnya lebih baik daripada shalat yang kurang doa di dalamnya. Dan jika seseorang melakukan shalat dan berdoa, itu dipandang lebih baik.

Rasulullah SAW bertahajjud di malam-malam bulan Ramadhan dan membaca Al-Quran dengan tertib. Beliau tidak melalui ayat rahmat, melainkan memohon kepada Allah. Tidak melalui ayat azab, melainkan mohon perlindungan kepada-Nya. Beliau mengumpulkan shalat, qira­'at, doa, dan tafakur. Inilah amalan­ amalan istimewa dalam puluhan yang akhir di bulan Ramadhan, di samping amalan-amalan yang lain.

Doa-doa yang Dibaca pada Lailatul Qadr

Telah jelas bahwa sangat disukai kita memperbanyak doa pada Lai­latul Qadr. Meskipun tidak ada ke­terangan tunggal dan pasti menge­nai kapan terjadinya Lailatul Qadr artinya pada tanggal berapa di an­tara malam-malam Ramadhan ia muncul - penjelasan-penjelasan da­lam hadits dan pendapat ulama mem­berikan banyak informasi tentang saat-saat yang diduga kuat terjadi­nya Lailatul Qadr. Maka pada ma­lam-malam yang kita duga merupa­kan Lailatul Qadr, kita dianjurkan untuk banyak memohon ampunan dan berdoa. Banyak doa yang dapat kita baca di malam itu, di antaranya doa-doa yang di bawah ini.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Aisyah, Rasulullah mengajar­kan kepadanya doa yang diucapkan pada Lailatul Qadr:

Allahumma innaka 'afuwwun tuhib­bul `afwa fa `fu `anni.

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan. Maka maafkanlah aku:'

Atau jika menginginkan yang lebih lengkap lagi, dapat membaca doa ini:

Allahumma innaka 'afuwwun kari-mun tuhibbul-'afwa fafu anni. Allahum­ma inni as'alukal-`afwa wal-`afiyata wal-­mu`afatad-da'imata fid-ini wad-dunya wal-akhirah.

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Mahamulia, Engkau suka memaafkan. Maka maafkanlah aku. Ya Allah, aku mohon kemaafan dan afiat, serta perlindungan yang te­tap dalam urusan agama, dunia, dan akhirat."

Ini adalah doa yang jami’(yang lengkap) yang amat indah, yang harus dipelihara baik-baik karena doa ini melengkapi kebaikan dunia dan akhirat. Dalam Hasyiyah al-Jalalain, Ash-Shawi berkata, "Doa yang paling baik pada malam itu ialah memohonkan kemaafan dan kearifan sebagaimana yang telah diterima dari Nabi SAW." Berkata pula Ibnu Rajab, "Afuww (Maha Pe­maaf - dalam doa di atas) adalah satu nama dari nama-nama Allah."

Dia menyukai kemaafan. Dia me­nyukai para hamba yang bermaaf-­maafan, supaya Allah memaafkan mereka. Allah lebih suka memaafkan dari pada menyiksa. Karena itu, baik di malam Lailatul Qadr maupun di waktu kapan saja, kita dianjurkan untuk membaca doa ini:

A`udzu biridhaka min sukhthika wa 'afwika min `uqubatik.

"Aku berlindung dengan keridhaan­Mu, dari kebencian-Mu (dari kemarah­an Engkau), dan dengan kemaafan­Mu dari siksaan-Mu."

Yahya bin Mu'adz berkata, "Andai kata bukan maaf yang paling disukai Allah, tentulah tidak ditimpakan co­baan atas orang-orang yang mulia di sisi-Nya. Allah banyak melimpakan cobaan kepada wali-wali-Nya untuk kelak dimaafkan-Nya."

Dalam sebuah hadits dari Ibnu Ab­bas disebutkan, Nabi bersabda, "Se­sungguhnya Allah melihat pada
Lai­latul Qadr kepada orang-orang muk­min dari umat Muhammad, lalu mere­ka dimaafkan dan dirahmati-Nya, ke­cuali empat orang, yaitu:
Peminum arak,pendurhaka kepada ibu-bapak, orang yang selalu bertengkar, dan orang yang memutuskan silaturahim."


Doa lain yang dapat kita baca di ma­lam mulia ini adalah sebagai berikut:

Bismillahir-rahmanir-rahim. Allahum­ma innaka 'afuwwun tuhibbul-`afwa fa `fu `anni Afwaka ya 'afuwwu fil-mahya wa fil­mamati `afwaka, wa fil-quburi afwaka, wa `indan-nusyuri 'afwaka, wa 'inda ta­thayurish-shuhufi `afwaka, wa fil-qiyamati `afwaka, wa fi munaqasyatil-hisabi `afwaka, wa `indal-mamarri `alash-shirathi `afwaka, wa `indal-mizani `afwaka, wa fi jami`il-ahwali afwaka, ya `afuwwu, `afwaka.

"Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampun­an, maka ampunilah aku. Aku memohon ampunan-Mu, wahai Yang Maha Peng­ampun, dalam kehidupan, dalam ke­matian, aku juga memohon ampunan­Mu, dalam kubur aku juga memohon ampunan-Mu, ketika dibangkitkan aku juga memohon ampunan-Mu, ketika di­ berikan lembaran amal aku juga me­mohon ampunan-Mu, di hari kiamat aku juga memohon ampunan-Mu, ketika si­dang perhitungan amal aku juga me­mohon ampunan-Mu, dalam semua ke­adaanh aku juga memohon ampunan­Mu, wahai Yang Maha Pengampun, aku memohon ampunan-Mu."

Sebagian dari ulama mutaqaddi­min (ulama-ulama masa lalu) dalam doanya mengucapkan:

Allahumma inna dzunubi qad `azhu­mat fajallat `anish-shifati wa innaha shagiratun fi janbi `afwika, fa `fu `anni

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya dosaku sungguh sangat besar, tidak dapat disifatkan lagi. Dan sesungguh­nya dosaku itu kecil di sisi kemaafan­Mu. Maka maafkanlah aku."
Yang lain lagi dalam doanya me­ngatakan:
Jurmi `azhimun wa 'afwuka katsirun fajma `bayna Jurmi wa `afwika ya karim.

"Dosaku sangat besar dan kemaaf­an-Mu sangat banyak. Maka kumpul­kanlah dosaku dengan kemaafan-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah!" Yang dimaksud "kumpulkanlah" ialah agar dosanya dihapuskan.
Rasulullah SAW menyuruh kita meminta kemaafan pada Lailatul Qadr selain meningkatkan amal ibadah kepada-Nya. Di malam-ma­lam puluhan yang akhir, para arif, walaupun meningkatkan amal iba­dahnya, tidak memandang bahwa ibadahnya telah banyak, dan selalu memohon kemaafan.

Yahya bin Mu'adz berkata, "Bukan orang yang arif orang yang tujuan amalannya bukan untuk memperoleh kemaafan dari Allah." Mutharrif me­ngatakan, "Wahai Tuhanku, ridhailah kami. Jika Engkau tidak meridhai kami, maafkanlah kami."

Sekurang-kurang Qiyam Lailatul Qadr

Telah diterangkan oleh An-Na­wawi pendapat As-Shan'ani tentang apa yang harus kita lakukan sekurang-kurangnya supaya kita dipan­dang telah mengerjakan qiyam Ra­madhan. Setidak-tidaknya pada Lai­latul Qadr kita mengerjakan shalat Subuh dan Isya dengan berjamaah. Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Barang siapa melakukan shalat Maghrib dan Isya dengan ber­jamaah, ia telah mengambil bagian­nya yang sempurna dari Lailatul Qadr."

Diriwayatkan pula, Nabi SAW bersabda, "Barang siapa shalat Isya dengan berjamaah, seolah-olah ia te­lah berdiri pada sebagian malam. Dan apabila ia shalat Subuh dengan berjamaah pula, seakan-akan ia te­lah berdiri separuh malam lagi."

Dan seyogianyalah diperbanyak membaca dzikir di bawah ini, meng­ingat hadits "Barang siapa yang membaca:
Subhanallahi rabbis-samawatis­-sab `i wa rabbil- `arsyil- `azhim.

'Tiada Tuhan melainkan Allah, yang sangat besar kemurahan-Nya lagi sangat pemurah. Mahasuci Allah, Yang memiliki tujuh lapis langit dan Yang memiliki 'Arsy, yang amat besar.'
sebanyak tiga kali, seolah-olah ia te­lah mendapatkan Lailatul Qadr."

Karenanya, hendaklah kita memba­ca dzikir itu setiap malam, yang diha­rapkan merupakan Lailatul Qadr, de­ngan hati yang seikhlas-ikhlasnya, dari lubuk jiwa yang suci, penuh dengan rasa ketauhidan, suci dari kecemaran syirik dan dari segala maksiat.

Lalu, apakah pahala ibadah di ma­lam hari itu hanya bagi mereka yang beribadah dan melihat tanda-tanda itu? Kebanyakan ulama menetapkan bah­wa pahala ibadah tetap diperolehnya walaupun tanda-tanda tidak dapat di­lihatnya. Jadi, barang siapa beribadah malam di seluruh Ramadhan atau di puluhan yang akhir karena iman dan ikhlasnya, dengan maksud memper­oleh Lailatul Qadr, ia memperoleh pa­hala Lailatul Qadr, walaupun tidak melihat tanda apa pun.

Pengarang kitab Al-Hawi menga­takan, "Disukai, bagi mereka yang meli­hat tanda-tanda Lailatul Qadr, supaya menyembunyikannya. Dan di kala me­lihat itu, hendaklah terus berdoa de­ngan sungguh-sungguh, ikhlas, dan khusyu', dengan doa apa saja yang di­gemarinya, baik urusan dunia maupun akhiratnya, dan hendaklah ia berdoa untuk akhiratnya lebih banyak dan lebih kuat daripada untuk dunianya."

Juwaibir mengatakan kepada Adh­-Dhahhak, "Bagaimana pendapatmu tentang perempuan yang sedang nifas, perempuan yang sedang haid, orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang yang sedang tidur nyenyak, apa­kah mereka mendapat bagiannya pada Lailatul Qadr itu?"

Adh-Dhahhak menjawab, "Semua mereka mendapatkannya, diberikan bagiannya dari Lailatul Qadr oleh Allah, Yang Rahman dan Rahim."

Istighfar-istigfhar Imam Ahmad Ar-Rifa’i

Karena pada lailatul Qadr kita di anjurkan banyak berdoa dan memohon ampun, berikut ini kami kutipkan pula dua istigfhar yang disusun oleh Imam Ahmad rR-Rifa’I, seorang sufi besar dari Mesir dan pendiri Tarekat Rifa’iyah,


Astaghfirullahal-`azhimal-ladzi la ilaha illa huwal-hayyal-qayyuma wa atubu ilaihi min kulli dzanbin adznabtuhu 'amdan aw khatha-an sirran aw `alaniyatan minadz­dzanbil-ladzi a `lamu aw la a `lamu innahu huwa ya `lamu wa ana la a `lamu wa huwa `allamul-ghuyubi wa ghaffarudz-dzunubi wa sattarul-`uyubi wa kasysyaful-kurubi wa la hawla wala quwwata illa billahil-`aliyyil­`azhim.


"Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, yang Ma­hahidup lagi senantiasa mengurus hamba­Nya; dan aku bertaubat kepada-Nya dari se­gala dosa yang aku perbuat, sengaja mau­pun tidak sengaja, rahasia (tidak diketahui orang) atau terang-terangan, yang aku ke­tahui atau yang aku tidak ketahui. Sesung­guhnya Dia mengetahui dan aku tidak me­ngetahui, dan dia Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib, Maha Menghapuskan dosa­ dosa, Maha Menutupi aib, dan Maha Meng­hilangkan kesusahan. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahaagung."

Ia juga menyusun istighfar-istighfar lain, di antaranya sebagai berikut:

Allahumma inni astaghfiruka min kulli dzanbin tubtu ilaika minhu tsumma ’udtu fihi wa astaghfiruka min kulli ma wa `adtuka bihi min-nafsi tsumma lam ufi laka bihi, wa as­taghfiruka min kulli `amalin 'amiltuhu aradtu bihi wajhaka wa khalathahu ghairuka, wa as­taghfiruka ya `alimal-ghaibi wasy syahadati min kulli dzanbin ataituhu fi dhiya'in-nahari wa sawadil-laili fi mala-in wa khala-in wa sirrin wa `alaniyatin, ya halimu ya karim. Allahum­ma ashlih ummata muhammadin. Allahum­marham ummata muhammadin. Allahum­ma sallim ummata muhammadin. Allahum­maghfir li ummati muhammadin. Allahum­maghfirli wa liman amana bika (rabbanaghfir lana wa li ikhwaninal-ladzina sabaquna bil­-imani wall taj`al fi qulubina ghillan lilladzina amanu rabbana innaka ra'ufur-rahim).


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosa yang aku telah taubat darinya tetapi aku mengu­langinya lagi, aku memohon ampun kepada­ Mu dari setiap yang aku janjikan kepada­Mu dari diriku tetapi aku tidak memenuhinya kepada-Mu, aku memohon ampun kepadaMu dari setiap perbuatan yang aku lakukan dengan mengharapkan keridhaan-Mu tetapi kemudian tercampur dengan selain keridha­an-Mu, aku memohon ampun kepada-Mu, wahai Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, dari setiap dosa yang aku lakukan dalam terangnya slang dan gelap­nya malam, di tengah orang banyak maupun tak ada orang, secara rahasia maupun te­rang-terangan, wahai Yang Maha Penyantun lagi Mahamulia.


Ya Allah, perbaikilah umat Nabi Muham­mad; ya Allah, kasihilah umat Nabi Muham­mad; ya Allah, selamatkanlah umat Nabi Mu­hammad; ya Allah, ampunilah umat Nabi Muhammad. Ya Allah, ampunilah aku dan orang yang beriman kepada-Mu.Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami terdapat rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Pe­nyayang."

Penulis : Randi Ramadani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar