Klinik Motivasi

Senin, September 14, 2009

Kuingin Bersihkan Diriku ....

Lagu religi terbaru dari Afgan benar-benar menyentuh. Terkhusus ketika kuteringat kejadian pagi tadi. Perasaan bersalah itu kembali menyelinap. Waktu kupasang lirik lagu itu distatusku, bermacam komen yang masuk. Lucunya ada yang menduga hal ini berkaitan dengan masalah cinta. Maaf untuk cinta yang tak terucap ketika kubilang ini masalah hati. Waduuuh !!


Iya .. Masalah hati, tepatnya seperti itu. Tidak ada hubungannya dengan cinta. Pagi tadi aku telat datang ke kantor. Kayaknya pencernaanku terganggu lagi. Mungkin karena kecapean. Beberapa hari ini aku pulang setelah menjelang isya. Jadwal buka puasa di kantor yang seharusnya cuman 4 kali dalam seminggu nambah. Bantuin temen-temen nyiapin menunya. Cuman Jum’at sore, aku bisa buka puasa di rumah. Parahnya aku lupa ngasih kabar ke temen yang lain untuk gantikan aku siaran. Sesampai di studio, sudah menunggu seseorang. Aku bisa menebak, beliau pasti nara sumber untuk acara dialog pagi ini.

Sempat terbesit sedikit kecewa dalam hati karena dalam kondisiku yang kurang fit, aku harus memandu program ini. Memang ini program rutin kerjasama radioku dengan sebuah dinas pemerintahan. Namun program ini terkesan dijalankan ’asal-asalan’. Kadang nara sumbernya ada, tapi kebanyakan tidak hadir. Datang mendadak dengan tema dadakan pula. Para penyiar dituntut secepat mungkin menguasai materi yang disampaikan. Malu-maluin pas dialog, ngga nyambung. Aku sudah kasih masukan ke pihak sananya. Namun belum ada perbaikan. Rupanya kekesalan yang selama ini kupendam, hari ini keluar juga meskipun belum semua (hufh ...)

Apalagi aku datangnya telat, akhirnya ngga bisa ngobrol dulu dengan beliau tentang hal-hal akan dibicarakan. Aku cuman sempat nanyain tema yang diangkat kali ini. Dan ternyata tema itu sudah berulang kali dibahas. Makin betelah aku .. sampai satu kalimat terkesan ketus namun sopan meluncur dari mulutku, “Pa .. Perasaan tema ini udah sering kita bahas, ada perkembangan terbaru ya ?”. Beliaupun menjawab tidak ada. Ini hanya berkaitan dengan masalah sosialisasi yang harus terus menerus dilakukan. Cape deh !!

Tanpa berpanjang lebar, segeralah kumulai acara dialog ini. Materinya pun standar. Seperti pembahasan yang lalu-lalu. Sempat beberapa kali pertanyaan ’nakal’ kulemparkan untuk mengkritisi program ini. Maksudnya biar perbincangan ini menarik. Ga terkesan ’itu-itu’ aja * boong ding .. sebenarnya karena ini luapan kekesalan hatiku karena bete. Namun beliau menjawabnya dengan sabar dan standar !! Dan ini justru menaikkan level kebeteanku. Ngga ada yang menarik bagiku. Pengen ngejar dengan pertanyaan lebih kritis .. akunya capek !! Dan keadaan ini sangat mempengaruhiku sampai telepon dari pendengarpun ngga kuangkat (ga pinter banget ya)

Untunglah sedikit demi sedikit aku berhasil mengontrol emosiku. Aku mulai bersikap seperti biasa. Sampai di akhir dialog, akupun menutupnya dengan ucapan terima kasih atas kehadiran beliau dan harapan semoga perbincangan ini bermanfaat bagi pendengar.

Selesai dialog sambil nunggu penyiar lain masuk ke ruang siaran, aku pun mengajak beliau ngobrol. Tanya-tanya mau kemana beliau setelah ini. Beliaupun menjawab dengan antusias. Mau ngecek persediaan logistik untuk program ini, kata beliau. Kemudian beliau bercerita (boleh dikatakan ‘curhat’) bahwa cakupan wilayah kerja yang sangat luas dan SDM yang terbatas membuat mereka harus siap 1 x 24 jam. Belum lagi menghadapi masyarakat yang meminta pelayanan maksimal. Diperlukan kesabaran yang sangat untuk menghadapi hal seperti itu, kata beliau. Bla .. bla .. bla

Masya Allah .. Aku terhenyak. Pantesan bapak yang satu ini begitu sabar menghadapi sikapku tadi. Trus setelah beliau pulang, rekanku cerita bahwa beliaupun ternyata diminta mendadak. Makanya temanya 'itu' aja. Ngga ada persiapan. Masya Allah !! Perasaanku semakin ngga karuan. Kalo dipikir-pikir harusnya beliau yang marah karena udah nunggu aku yang hanya seorang penyiar untuk acara dialog itu (mana ada ceritanya seperti itu, yang adakan penyiar yang nungguin narasumber). Harusnya beliau yang kesal kalo saja beliau tahu aku ngga terima telepon dari pendengar.

Aku baru ingat kemarin sore aku ngasih masukan ketika ‘adekku’ curhat gimana ngatasin masalahnya. Tadi pagi aku diuji Allah swt untuk membuktikan kata-kataku. Mataku mengabur, dadaku terasa sesak. Kalo tidak dihampiri rekanku, mungkin airmata sudah jatuh berderai *lebay ding ... aku benar-benar merasa bersalah. Ternyata aku harus banyak belajar .. belajar tentang kesabaran, belajar lebih profesional lagi, belajar memilih sikap yang tepat dan belajar untuk mengelola hati. Kuingin bersihkan diriku ... Ampuni aku, ya Allah !

Rabu, September 09, 2009

Hukum I'tikaf Bagi Wanita

Ngga terasa bulan Ramadhan yang penuh berkah ini akan berakhir. Biasanya di penghujung bulan itu, sebagian umat Islam mulai ’kendur’ dalam beribadah. Sehingga barisan sholat berjama’ah di mesjid-mesjid mulai maju. Sebagian dari mereka sibuk menyiapkan diri untuk mudik dan lebaran.


Namun, tidak sedikit juga kaum muslimin yang semakin mengencangkan ibadahnya di minggu-minggu terakhir di bulan ini. Misalnya dengan mengadakan i’tikaf bersama. Seperti yang dianjurkan agama agar kaum muslimin melakukan i’tikaf dalam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini.
Makna I’tikaf

I’tikaf menurut bahasa adalah terikatnya seseorang pada sesuatu dan menahan dirinya tetap pada sesuatu itu, baik sesuatu itu merupakan perbuatan baik atau jelek. Sedangkan I’tikaf menurut istilah syara’ adalah tinggal di rumah Allah dengan niat ibadah atau menetap di dalam mesjid dengan niat untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt. Sebagaimana firmanNya : “….. Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Hukum I’tikaf

Hukum I’tikaf adalah sunah, sebagaimana firman Allah swt : “Bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yang tawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan sujud.” (QS. Al-Baqarah : 125)

Dari ‘Aisyah r.a berkata, “Bahwasanya Nabi saw beri’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang terakhir pada akhir bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

Keutamaan I’tikaf

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang I’tikaf satu hari semata-mata mengharap keridhoan Allah, niscaya Allah jadikan (jarak) diantaranya api neraka sejauh tiga parit dan tiap-tiap parit jaraknya adalah lebih jauh daripada jarak antara dua mata angin.”

Subhanallah .. siapa yang tidak menginginkan keutamaan ini ? Tentunya kita semua termasuk para muslimah menginginkan pahala yang besar dan keridhoan Allah swt. Salah satunya dengan melaksanakan i’tikaf.

I’tikaf bagi Wanita

Seorang wanita diperbolehkan untuk mengunjungi suaminya yang sedang beri’tikaf di mesjid. Bahkan syariat memerintahkan bahwa hendaknya sang suami mengantarkan istrinya sampai keluar dari pintu mesjid. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Shafiyyah r.a, ”Ketika itu Nabi saw beri’tikaf di mesjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku datang menengoknya di malam hari dan di sisinya istri-istrinya yang sednag bergembira, lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali, maka beliau saw berkata, ’Jangan kau terburu-buru sehingga aku antarkan,’ maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarku ... (HR. Bukhari)

Sedangkan hukum bagi seorang wanita yang beri’tikaf adalah boleh baik bersama suaminya atau sendirian. Hal ini berdasarkan pada ucapan ’Aisyah r.a, ”Telah i’tikaf bersama Nabi saw seorang wanita yang isthihadhah, diantara istri-istrinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan, kekuningan bahkan kadang-kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap sholat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan ’Aisyah r.a juga mengatakan, ”Dahulu Rosul saw beri’tikaf pada bulan ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya.” (HR. Bukhari)

Namun seorang wanita yang ingin beri’tikaf juga harus memperhatikan terhadap hukum-hukum lain yang berkaitan dengan keluar rumahnya seorang wanita. Misalnya keluar rumah harus mendapatkan izin dari suaminya, menjaga agar keadaannya aman dari fitnah dan tidak berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis, tidak melalaikan kewajiban-kewajiban sebagai ibu dan istri. Jangan sampai mengejar amalan sunah tapi mengabaikan amalan yang wajib.

Waktu I’tikaf

I’tikaf sunah seperti i’tikaf pada sepertiga bagian akhir Ramadhan tidak ada batas waktunya. Seseorang yang telah melakukan i’tikaf di dalam mesjid sama saja apakah waktunya panjang atau pendek. Waktu minimal i’tikaf dalam mesjid adalah sekedar tuma’ninah di dalam ruku’ atau sujud.

Tempat I’tikaf

Tempat melakukan i’tikaf adalah di mesjid yang di dalamnya terdapat aktivitas sholat berjama’ah. Lebih utama jika mesjid itu menjadi tempat sholat Jum’at. Menurut jumhur ulama, tidak sah i’tikaf kamu wanita jika dilakukan di dalam ’mesjid rumah’ yaitu bilik tertentu di dalam rumah yang dijadikan tempat khas untuk sholat berjama’ah bersama keluarga. Hal ini karena ’mesjid rumah’ tidak memenuhi makna mesjid menurut agama. Hal ini diperkuat lagi dengan riwayat shohih yang menyatakan bahwa para istri Rasul saw beri’tikaf di dalam mesjid Nabawi.

Rukun I’tikaf

1. Berniat i’tikaf pada permulaannya atau ketika memperbaharui i’tikaf dengan lafadz : ”Sengaja saya i’tikaf di dalam mesjid selama saya berada di dalamnya karena Allah” atau yang serupa dengan itu.
2. Berdiam diri di dalam mesjid, sekurang-kurangnya tuma’ninah dalam ruku’ dan sujud yaitu berhenti sebentar. Tidak diperbolehkan pula bagi orang-orang yang beri’tikaf keluar mesjid selama i’tikaf kecuali ada sebab-sebab yang diperbolehkan syari’at seperti membuang hajat.
3. Tempat i’tikaf harus di mesjid yang menjadi tempat sholat berjama’ah lima waktu dalam sehari. Jika di mesjid itu diadakan sholat Jum’at, maka lebih utama.

Syarat-Syarat I’tikaf

Orang yang beri’tikaf baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya muslim, berakal, mumayyiz, bersih dari haid, nifas atau junub.

Bagi kaum wanita, wajib mendapat izin dari suami atau walinya. Selain itu kehadiran kaum wanita di dalam mesjid untuk i’tikaf tidak menimbulkan fitnah.

Hal yang membatalkan I’tikaf

1. Keluar mesjid dengan sengaja tanpa sebab syar’i walaupun sebentar.
2. Murtad
3. Gila, mabuk, haid dan nifas
4. Jima’

Amalan sunnah ketika I’tikaf

1. Memperbanyak sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahlil, takbir, istigfar, sholawat kepada Nabi saw dan berdoa.
2. Mempelajari ilmu seperti membaca buku-buku Tafsir Al-Qur’an, Hadits Nabi, kisah-kisah Nabi, para sahabat dan orang-orang sholeh. Selain itu juga mempelajari hukum-hukum Islam, ilmu fiqih dan yang lainnya.

Sahabat .. Ramadhan adalah bulan mulia. Bulan dimana Allah melipatgandakan pahala kebaikan. Amalan sunah seperti i’tikaf dinilai sebagai amalan wajib. Sedangkan amalan wajib dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh puluh kali lipat. Pada bulan ini juga terdapat satu malam kemuliaan yaitu Lailatul Qadar.

Semoga kita bisa menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum peningkatan kualitas diri di hadapan Allah swt. Tidak hanya rutinitas melakukan amalan-amalan yang diwajibkan. Tapi betul-betul melakukannya dengan penuh kesadaran untuk meraih keridhoanNya.

*disarikan dari berbagai sumber

Menggapai Lailatul Qadar

Hari ini kita hampir memasuki sepuluh hari terakhir (‘asyrul awakhir) bulan Ramadhan 1430 H. Kalo boleh dikatakan, kita akan memasuki babak ‘bonus’ dari perlombaan amal shaleh di bulan mulia ini. Terlebih lagi jika bertepatan dengan Lailatul Qadar (malam kemuliaan) yang keutamaannya sangat luar biasa. Pada malam itu, Allah menjanjikan ‘mega bonus pahala’ yang lebih utama dari seribu bulan. Kalo dikonversi setara dengan 83 tahun 4 bulan. Subhanallah .. mungkin umur kita aja tidak sampai segitu.


Hanya aja seringnya kita terkecoh dengan hiruk pikuk persiapan lebaran. Akibatnya ibadah di sepuluh hari terakhir ini justru tidak dilakukan dengan sempurna. Bahkan tidak jarang jadi berantakan. Na’udzubillah mindzalik !

Agar kita tetap berkonsentrasi dalam ibadah dan semangat mencari keutamaan Lailatul Qadar, tulisan berikut ini berusaha menyingkap beberapa hal yang berkaitan dengan malam kemuliaan yang penuh berkah itu. Selamat menyimak …

Lailatul Qadar dan Kemuliaannya

Sesungguhnya Lailatul Qadar adalah malam yang agung, penuh rahmat, berkah dan magfirah. Merupakan salah satu malam yang disebutkan dalam dua surat Al-Qur’an.

Pertama, dalam QS. Ad-Dukhan ayat 3-6, Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) di malam yang penuh keberkahan. Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang memberi peringatan. Didalamnya diselesaikan segala urusan yang penuh hikmah. Sebagai suatu perintah bagi Kami. Sesungguhnya Kami mengirimkan utusan-utusan sebagai suatu rahmat dari TuhanMu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam surat di atas, Allah mensifatkan Lailatul Qadar dengan malam yang mendatangkan keberkahan (Lailatul Mubarakah) yang didalamnya diselesaikan segala urusan.

Kedua, dalam QS. Al-Qadar ayat 1-5, Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada Malam Kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu ? Malam Kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya utnuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Sedangkan di dalam QS. Al-Qadar tersebut, Allah mensifatkan Lailatul Qadar dengan suatu sifat yang mulia. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat turun didalamnya. Malam itu merupakan salam (kesejahteraan) bagi manusia.

Jadi Lailatul Qadar dapat dinamakan sebagai Lailatus Salam (malam keselamatan). Para malaikat turun mengucapkan salam kepada penduduk bumi. Juga dapat dinamakan Lailatus Syaraf (malam kemuliaan) bagi umat Islam. Dapat juga dinamakan dengan Lailatut Tajalli, malam dimana Allah swt melimpahkan cahaya dan hidayahNya kepada para ‘abid, shaim, dan orang-orang yang beribadah malam.

Sehingga kemuliaan malam itu tidak saja karena diturunkannya Al-Qur’an. Atau karena orang yang taat pada malam itu menjadi orang-orang yang mulia. Juga karena ibadah yang dikerjakan pada malam itu mendapat penghargaan yang luar biasa.

Abu Bakar Al-Warraq, sebagaimana telah dikutip Hasbi As-Shiddiqqie berkata : ”Dinamakan malam ini Lailatul Qadar, karena pada malam itu turun Al-Qur’an yang mempunyai kedudukan yang tinggi, dibawa oleh malaikat yang mempunyai derajat yang tinggi kepada Rasul yang mempunyai derajat yang tinggi, untuk disampaikan kepada umat yang tinggi pula.”

Dalam buku Pedoman Puasa halaman 243 karya Hasbi As-Shiddiqqie, ada riwayat yang mengatakan, bahwa bilangan malaikat yang berada di bumi pada malam itu lebih banyak dari pasir. Allah swt juga menerima taubat semua orang yang bertaubat pada malam itu. Kemudian dibukanya segala pintu langit sejak dari terbenam matahari sampai terbitnya. Jibril turun bersama serombongan malaikat. Lalu mereka menancapkan panji-panjinya di empat tempat yaitu di sisi Ka’bah, di sisi kubur Rasulullah saw, di sisi masjid Baitul Maqdis dan di sisi Masjid Tursina. Kemudian mereka bertebaran ke seluruh pelosok bumi, memasuki rumah orang-orang mukmin sambil bertasbih, bertaqdis, dan memohon ampunan bagi umat Nabi Muhammad saw.

Waktu Lailatul Qadar

Ibnu Hazm berkata, ”Lailatul Qadar sekali saja dalam setahun, tertentu di bulan Ramadhan di puluhan yang akhir dan tertentu di suatu malam yang ganjil. Jika bulan itu 29 hari, maka permulaan puluhan yang akhir yaitu malam ke 20. Dan malam qadar itu ialah malam 20, adakalanya di malam 22, 24, 26 atau di malam 28. Jika bulan itu penuh 30 hari, permulaan puluhan yang akhir ialah malam 21. Maka malam qadar itu adalah malam 21, 23, 25, 27 atau di malam 29.”

Iman Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, ”Adalah Rasulullah saw beri’tikaf pada puluhan yang kedua di bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari i’tikaf pada paginya, beliau berkata : ’Barang siapa turun beri’tikaf bersamaku, hendaklah beri’tikaf pada puluhan yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku malam Al-Qadar itu. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karen tiu carilah dia di puluhan yang akhir. Carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil.’ Berkata Abu Sa’id : ’Maka turunlah hujan malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah kembali ke mesjid. Sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Aisyah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda,”carilah dengan segala upaya malam Al-Qadar di malam-malam ganjil yang akhir dari bulan Ramadhan.”

Dalam suatu hadits riwayat Muslim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi saw bersabda,”Carilah Lailatul Qadar pada puluhan yang akhir, jika seseorang lemah mencarinya, maka janganlah kamu kalah dalam mencari pada tujuh yang terakhir.”

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tersembunyi pada sepuluh malam terakhir (’asyrul akhawir). Menurut para ulama salaf, hikmah penyembunyian waktu Lailatul Qadar ini adalah agar kita menghidupkan semua malam. Hal ini seperti hikmah Allah menyembunyikan saat ijabah di hari Jum’at supaya kita berdoa sepanjang hari. Atau seperti Allah menyembunyikan sholat wustha’ dalam sholat lima waktu agar kita memelihara kesemuanya. Atau Allah menyembunyikan isim A’dzam diantara nama-namaNya agar kita menyeru dengan nama-nama itu. Allah menyembunyikan mana taat yang mendapat penuh keridhaanNya agar kita mengerjakan semua ketaatan dengan sepenuh hati. Atau Allah menyembunyikan mana maksiat yang sangat dimurkaiNya agar kita menghentikan semua kemaksiatan itu. Atau menyembunyikan semua yang menjadi wali diantara para mukmin agar kita berbaik sangka terhadap sesama mukmin. Atau Allah menyembunyikan kedatangan hari kiamat agar kita selalu siap siaga. Dan Allah juga menyembunyikan ajal manusia supa kita selalu dalam persiapan.

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Para ulama berselisih pendapat tentang datangnya Lailatul Qadar. Beberapa tanda yang dapat dilihat oleh mereka yang mendapatkannya, antara lain :
1. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit bersujud ke hadirat Allah.
2. Alam terang benderang walapun di tempat-tempat yang gelap sekalipun.
3. Dapat mendengar salam para malaikat dann tutur katanya.
4. Diperkenankan segala doanya.

Adapun pahala ibadah tetap diperoleh meskipun tanda-tanda tersebut tidak dapat dilihatnya. Sedangkan bagi mereka yang melihat tanda-tanda Lailatul Qadar, hendaklah menyembunyikan dan terus berdoa dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan khusyu’ dengan doa apa saja yang digemarinya. Hendaklah dia berdoa untuk akhiratnya lebih banyak dan lebih kuat daripada untuk dunianya.

Bertanya Juwaibir kepada Adh-Dhahhak : ”Bagaimana pendapat anda tentang perempuan yang sedang nifas, haid, orang sedang dalam perjalanan, dan orang yang sedang tidur nyenyak, apakah mereka mendapat bagiannya di malam Al-Qadar itu ? Adh-Dhahhak menjawab : ”Mereka semua mendapatkannya, diberikan bagiannya dari malam Al-Qadar itu oleh Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim.”

Keutamaan Ibadah di Malam Al-Qadar

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda : ”Siapa saja yang mengerjakan ibadah di malam Al-Qadar karena imannya kepada Allah dan karena mengharapkan keridhaanNya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik berkata : Pada saat bulan Ramadhan masuk, maka Rasulullah saw bersabda : ”Sesungguhnya bulan ini hadir di hadapanmu. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa tiada diberikan kebaikan malam itu kepadanya, maka ia sungguh diharamkan atas seluruh kebaikan. Dan tidak diharamkan kebaikan, melainkan kepada orang yang tidak diberikan apa-apa.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Ubadah bin Shamit : ”Rasulullah mengabarkan kepada kami tentang Lailatul Qadar. Beliau berkata : ’Dia di dalam bulan Ramadhan, di puluhan yang akhir malam 21, atau malam 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam bulan Ramadhan. Barang siapa yang mengerjakan qiyam pada malam itu karena imannya kepada Allah dan karena mengharap keridhaanNya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu dan dosa yang akan datang.”

Menghidupkan Malam Al-Qadar

Menghidupkan malam Al-Qadar ialah dengan mengerjakan ketaatan, sholat malam, istigfar, berdzikir, membaca Al-Qur’an, I’tikaf dan menambahkan amalan ihsan dan memperbanyak shadaqah.

Amalan-amalan Rasul dan pesan-pesannya merupakan dorongan bagi kita untuk beribadah dan berlomba-lomba memenuhi keperluan orang-orang yang memerlukan bantuan. Hal itu dilakukan sebagai suatu usaha memenuhi seruan agama dan meneladani Rasul saw. Mereka menyembunyikan shadaqah mereka sehingga tidak diketahui tangan kiri apa yang telah diberikan tangan kanan.

Sebagian hartawan dahulu menanti-nanti Lailatul Qadar. Pada malam itu Allah melipatgandakan pahalaNya. Mereka menyembunyikan dirinya dan mencari keluarga yang miskin di malam buta. Mereka memberikan segala yang dibawanya kepada keluarga miskin tanpa dikenal oleh penerima pemberiannya. Mereka kembali tanpa diketahui siapa dirinya.

Keutamaan Berdoa di Malam Lailatul Qadar

’Aisyah r.a diperintahkan berdoa di malam Al-Qadar. Sufyan Ats-Tsauri berkata,”Berdoa pada malam Al-Qadar lebih aku sukai daripada sholat.” Sufyan berkata pula,”Apabila seseorang membaca Al-Qur’an, berdoa serta meningkatkan doanya kepada Allah, mudah-mudahan dia memperoleh waktu mustajab.”

Rasul saw bertahajud di malam-malam bulan Ramadhan dan membaca Al-Qur’an dengan tertib. Beliau tidak melalui ayat rahmat, kecuali beliau memohonnya kepada Allah. Beliau tidak melalui ayat azab, kecuali beliau berlindung kepadaNya. Beliau mengumpulkan antara shalat, qira’at, doa dan tafakkur.

Dari ‘Aisyah r.a bahwa Rasul mengajarkan kepadanya doa yang diucapkan pada malam Al-Qadar yaitu : “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku)” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam Hasyiyah Al-Jalalain, As-sawi berkata, “Doa yang paling baik didoakan pada malam itu (Al-Qadar) ialah memohonkan kemaafan dan ke’afiatan sebagaimana yang telah diterima dari Nabi saw.”

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya allah melihat pada malam Al-Qadar kepada orang-orang mukmin dari umat Muhammad, lalu dimaafi mereka dan dirahmatiNya, kecuali empat orang yaitu peminum arak, durhaka kepada orang tua, orang yang selalu bertengkar dan orang yang memutuskan tali silaturahim.”(HR. Ibnu Abbas)

Inilah amalan-amalan istimewa dalam puluhan akhir bulan Ramadhan, di samping amalan-amalan yang lain. Oleh karena itu, mari kita isi detik-detik terakhir bulan Ramadhan ini dengan melaksanakan ketaatan dan amal sholeh seperti berdoa, berdzikir, istigfar, sholat malam, membaca Al-Qur’an, memberi shadaqah kepada fakir miskin dan aktivitas ibadah lainnya. Semoga kita dapat meraih ‘mega bonus pahala’ Lailatul Qadar tahun ini. Amin ya Rabb 

*disarikan dari berbagai sumber

Sabtu, September 05, 2009

Rambu-Rambu Mudik Buat Remaja Putri

Tinggal di perantauan, jauh dari ortu, bagi sebagian remaja putri tentu ngga mudah. Apalagi kalo harus melewati indahnya Idul Fitri sendirian. Waduh .. ngga khu-khu deh. Bakalan garing banget. Seharian nyanyi lagu merana .. memang merana hehehe Makanya ngga heran kalo bela-belain mudik ke kampung halaman.


Nah, bagi remaja putri yang mau mudik, tentu banyak hal yang dipertimbangkan. Diantaranya :

1. Perhitungkan waktu mudiknya. Berhubung lalu lintas arus mudik padat banget, kamu harus pinter-pinter cari timing buat mudik.

Yang penting semua urusan beres. Urusan kuliah, kerja, sekolah dan lain-lain. Kalo ngga ada urusan lagi, buruan aja. Karena makin mepet lebaran, makin tinggi resikonya. Resiko macet, resiko lebaran di jalan, tinggal cuman sebentar di kampung halaman dan paling gawat ngga dapet tiket untuk pulang. Tapi jangan sampai karena ngejar tiket, urusan lain terbengkalai. Jadi prinsipnya jangan sampai ninggalin 'beban' pas mudik. Selesain dulu urusannya biar lebarannya bisa enjoy.

2. Pilih transportasi yang tepat.

Buat kamu yang mudik sendirian, tentunya lebih praktis pilih transportasi umum. Bisa aja pake travel, cuman kamu harus nyiapin doku rada tebel. Kan bisa dianterin sampai ke depan rumah kamu. Meskipun rada mahal tapi tentunya lebih nyaman. Bisa juga kamu naik bus antarkota. Tenang dan tarifnya lebih murah daripada travel. Meski begitu, tetap aja harus nyiapin dana lebih. Maklum kalo lebaran biasanya tarif angkutan naik. Yang penting cari 'kelas' bus sesuai ketersediaan dana. tarif bus kelas eksekutif tentu saja lebih mahal daripada kelas biasa. Malah terkadang harga tiket bus antarkota jatuhnya seringkali ngga terlalu jauh ama harga travel.

Oya .. bisa juga kamu naik kereta api, tut .. tut ..tut .. siapa hendak turut (lho kok jadi nyanyi ??). Selama ini, untuk jalur yang sama, harga tiket kereta biasanya lebih murah dan ngga kena tuslag tinggi. Keuntungannya, kereta udah memiliki jalur tersendiri yang ngga mungkin terganggu macet seperti kalo kamu naik bus.

Yang paling enak sih, naik pesawat terbang. Tentu, harus nyiapin doku lebih tebel lagi. Meski sekarang tarif pesawat udah relatif murah, tapi lebaran biasanya ada kenaikan tarif juga. Kelebihannya ?? Udah jangan ditanya, selain nyaman tentu saja hemat waktu.

3. Jika kamu dalam perjalanan yang tergolong safar (lebih dari 24 jam), kamu harus ditemenin mahrom.

Jadi kamu harus memperhitungkan berapa lama perjalanan yang akan kamu lalui. Apakah selama 24 jam atau ngga? Terlebih selama mudik, biasanya faktor macet bisa membuat perjalanan molor lebih dari biasanya. Kalo kamu ngga punya mahrom yang bisa nemenin, kamu bisa siati dengan mudik bareng temen-temen akhwat. selain jaga-jaga agar ngga kena safar, kan lumayan buat temen ngobrol di jalan, bagi-bagi bekal ato bersandar di pundaknya kalo lagi ngantuk hehehe

4. Perhatikan waktu sholat dan puasa

Meskipun di perjalanan, kamu ngga boleh mengabaikan ibadah sholat dan puasa. Jadi siapin piranti ibadah. Biasanya kalo naik bus jarak jauhkan dikasih waktu buat istirahat, manfaatin buat sholat jika emang waktunya udah masuk.

5. Bawa bekal buat buka puasa, siapa tau busnya ngga berhenti saat azan magrib bergema.

Begitu pula waktu sahur, minum dan makanlah secukupnya. Buat nyimpen energi selama dalam masa perjalanan. Tapi, bagi kamu yang niat berbuka selama perjalanan, sah-sah aja. Sebab Allah swt membolehkan bagi musafir untuk berbuka selama bulan Ramadhan. Tentu dengan syarat ntar diganti di hari lain di luar bulan Ramadhan.

6. Berdoa agar perjalanan mudik kamu lancar sampai tujuan.

Gimana ... udah siap ?? Mudik yuuuuk .. !!

Tips Untuk Para Pengemudi di Jalan Raya

Wah, ngga terasa ya .. udah menginjak hari ke-15 bulan Ramadhan 1430 H. Berarti bentar lagi Idul Fitri akan tiba. Bagi kamu-kamu yang tinggal di perantauan, inilah saatnya pulang kampung (pulkam). Yup, hari raya biasanya ngga afdhol kalo ngga ngumpul bareng sanak keluarga di kampung halaman. Ngga heran bila mudik jadi ritual wajib, paling ngga sekali dalam setahun.


Nah, buat yang mudik pake kendaraan pribadi .. aku kasih tips-tipsnya supaya perjalanannya bisa lancar. Simak di bawah ini ya :
1. Pastikan kondisi kamu dalam keadaan sehat
2. Jangan lupa membawa surat-surat kendaran bermotor
3. Periksa kendaraan sebelum berangkat (oli, rem, ban dan lain-lain)
4. Jangan belok memotong atau berhenti pada tikungan
5. Naikkan atau turunkan penumpang pada tempatnya atau pada leter "S"
6. Perhatikan batas kecepatan kendaraan kamu, jangan mengendarai melebihi batas maksimum
7. Beri isyarat jika hendak membelok atau berpindah jalur atau mendahului dengan aman
8. Taati tanda atau lampu isyarat (traffic light)dan rambu-rambu lalu lintas lainnya
9. Berdoa sebelum dan sesudah mengemudikan kendaraan baik pengemudi maupun penumpangnya
10. Wajib istirahat paling singkat 30 menit setelah 4 (empat)jam berturut-turut mengemudikan kendaraan

Selamat mudik .. moga aman di jalan dan selamat sampai tujuan :)

Jumat, Agustus 28, 2009

Kalo lagi dapet .. enaknya ngapain ya ??

Sedih. Itu yang kurasakan ketika mengetahui diriku lagi ‘dapet’. Gimana nggak ?? Rencananya malem tadi, aku akan memasuki juz ke 21. Tinggal 3 lembar lagi. Abis buka puasa bareng kru di kantor sore kemarin. Aku segera ke lantai 1 untuk mengambil air wudhu. Mau sholat magrib berjama’ah. Udah selesai, aku segera naik lagi ke kantor yang terletak di lantai 3. Namun apa daya, niatku tak terlaksana.


Mulai malam tadi, aku cuman bisa memandang temen2 kantor yang lagi sholat magrib berjama’ah. Kebiasaan yang kami lakukan abis buka puasa di kantor. Tiap hari memang, selalu ada yang buka di sana. Aku dapat jatah minimal 4 kali dalam seminggu. Karena kena jadwal siaran dialog jam 17.00-18.00 wita. Untuk pulang ke rumah, agak nanggung. Lagian emang udah disiapin anggaran buka puasa harian untuk kru dan nara sumber.

Mulai malam tadi, Rahmi sendirian sholat tarawihnya. Karena kondisiku yang masih dalam proses penyembuhan, beberapa hari ini memang kami sholat tarawih di kos aja. Ngga ke mesjid. Biasanya kami bagi tugas. Aku kebagian jadi imam. Rahmi tukang baca doanya. Meskipun cuman sholat berdua, karena emang penghuni kos ini hanya kami berdua. Tapi tetep aja seru ! Soalnya kita bisa nyesuain dengan keadaan. Ayatnya juga tergantung requesan. Terus kalo agak-agak cape, kita bisa istirahat sebentar.

Mulai malam tadi juga, aku cuman bisa dengerin tilawahnya si Rahmi. Atau suara tadarusan bapak-bapak melalui speaker mesjid di dekat kosku. Yach .. makin sedih deh ! Tinggal 3 lembar lagi, aku memasuki juz ke 21. Sebelum Ramadhan tiba, aku udah nyicil bacaan Al-Qur’anku. Rencananya kalo bisa, Ramadhan kali ini beda dari tahun sebelumnya. Aku bisa khatam dua kali. Untuk mencapai target ini, aku bela-belain ngurangin waktu ngenet dan tidur. Fesbukan cuman lewat hp. Itupun sekedar meng-update status dan menyapa teman2 ’ala kadarnya’. Biar sillah ukhuwahnya tetap terjaga. Ya .. semoga dimudahkan Allah swt.

Yang pasti, aku cuman berharap ketentuan ini berlaku normal. Paling banyak seminggulah. Kalo bisa kurang (moga Allah mendengar permintaanku hehehe). Ngga seperti beberapa tahun lalu. Dapetnya awal dan akhir Ramadhan. Akhirnya qadha puasanya lumayan banyak. Bisa sekitar 9 sampai 12 harian. Wuih .. kebayangkan gimana seneng bayarnya ! (Sengaja pake kalimat positif biar enak dibayanginnya wkwkwkwk)

Tapi aku ngga pernah nyesel sih jadi wanita. Serukan ? Kalo lagi ’dapet’ kita bisa ngerasain makanan 'semau' kita. Aku kan bisa mengambil alih tugas Fifi membuat seteko teh manis dan menuangkannya ke dalam gelas agar nanti bisa langsung dinikmati para kru. Biasanya takaran gulanya mengikuti suasana hati, abis pada puasa semua. Beberapa kali rasanya .. amburadul hehehe kayak kejadian sore kemarin. Aku, Rose dan Reza nyiapin ketupat kandangan untuk menu buka puasa. Beli di pasar wadai Ramadhan yang kebetulan dibuka di depan kantor gubernuran, tempat kantorku bertengger. Jadi gampang banget, tiap sore temen2 berburu kuliner yang ada di sana. Si Fifi kebagian bikin teh manis. Karena yang buka puasa cukup banyak (biasanya cuman sekitar tiga sampai empat orang), kali ini sekitar delapan orang termasuk ustadz yang ngisi program dialog Ramadhan, Fifi nyiapin teko yang agak besar. Karena waktunya agak mepet juga, akhirnya dia bikin semaunya. Dan sukses .. rasanya hambar dan warna tehnya masih coklat kemudaan ! Untungnya, iftarnya diawali dengan makan kurma dulu, jadi tertolong dengan rasa manisnya.

Trus aku juga bisa memanfaatin waktu sholat dan tadarusan dengan nulis lagi. Kebetulan temen2 bagian produksi minta dibikinin naskah untuk program kisah-kisah teladan yang diputar setiap malam abis program tadarusan. Alhamdulillah .. malem tadi, udah tiga cerita aku bikin. Hari ini temen2 tinggal recording aja lagi.

Belon lagi, kita bisa lebih ekspresif dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Penampakannya tentu agak berbeda. Masa ngga puasa, kelihatan lemes juga ? Biar ngga ketauan, ngga puasa ya ? Halah .. ngga boleh gitu. Maksudnya tetep aja kita wajib nahan diri ngga makan dan minum di hadapan temen yang puasa. Cuman harusnya kita juga bisa lebih gesit dan bersemangat lagi. Kalo bisa bantuin temen2 biar kerjaannya jadi ringan. Itung2 bisa nambah kesempatan dapet pahala.

Sebagai muslimah, kita ngga bisa mengelak dari fitrah yang telah ditentukan Allah swt. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menyesalinya atau menjalaninya dengan sabar ? Tentu pilihan kedua yang kita ambil. Aku jadi ingat dengan perbincangan antara Adh-Dhahhak dengan Juwaibir tentang keutamaan lailatul qodar. Waktu itu Juwaibir bertanya,”Bagaimana pendapat anda tentang perempuan yang sedang nifas, haid, orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang-orang yang sedang tidur nyenyak, apakah mereka mendapat bagiannya di malam al-Qodar itu ?”. Adh-Dhahhak pun menjawab,”Mereka semua mendapatkannya, diberikan bagiannya dari malam al-Qodar itu oleh Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim.”

Meskipun pas lagi ’dapet’, kita ngga boleh sholat, puasa, membaca al-Qur’an dan berdiam di mesjid. Tapi ternyata masih banyak kebaikan yang bisa kita lakukan untuk menggapai ’mega bonus pahala’ di bulan Ramadhan ini. Berdoa dan berzikir, berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, menuntut ilmu Islam, mempelajari sains dan teknologi, berinfak dan shadaqoh, tolong menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Jika diniatkan ibadah, insya Allah akan dapat balasan yang berlipat ganda. Amin ya Rabb 

So .. Biar bagaimanapun kondisinya, kita harus tetap semangat untuk fastabiqul khairat !
*Tapi kok perutku jadi mules gini ya .. Huaaaaaaaaa

Minggu, Agustus 23, 2009

Sekali Ramadhan, Dua (Pahala) Ramadhan Tercapai

Pengen dapat pahala dua puasa dalam satu kali puasa Ramadhan yang kamu jalani ? Kalo iya, gimana caranya ya ? Jawabannya ada di dalam hadits Zaid bin Khalid Al-Junahi r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda :


”Barangsiapa yang memberikan buka puasa kepada orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang didapat orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun pahala puasanya.”

(HR. Ahmad (IV/114-116); At-Tirmidzi (807). Ia menilai sebagai hadits hasan shohih; Ibnu Majah (1746), Ibnu Hibban (895), dan dishahihkan oleh Al-Albani (Shohih Al-Jami’ 6415)

Sahabat, banyak cara yang dapat kamu gunakan agar bisa menggapai bonus pahala agung – sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Diantaranya adalah memberi buka puasa kepada orang-orang di luar rumah yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Sahabat, percaya ngga ? Hanya dengan uang sebesar Rp. 10.000,- kamu sudah bisa membukakan orang yang berpuasa dalam satu hari. Trus berapa rupiahkah yang harus kamu perlukan untuk membuatnya berbuka dalam satu bulan, sehingga pahala dua Ramadhan pada satu musim Ramadhan yang kamu jalani bisa kamu dapatkan ?

Tinggal dikalikan saja, hasilnya kamu perlu menyediakan uang sebesar Rp. 300.000,-. Subhanallah .. hanya dengan uang segitu kamu akan mendapatkan pahala tafthir shaim (pemberian buka puasa kepada orang yang berpuasa) selama satu bulan penuh. Insya Allah !

Nah .. ini baru dapat dua (pahala) Ramadhan dalam satu kali puasa Ramadhan yang kamu jalani ? Mau lebih banyak lagi ? Kalo iya .. tinggal kamu tambahin aja jumlah orang yang akan kamu bukakan puasanya. Dijamin kamu akan merasakan kenikmatan yang tiada taranya dari kebaikan yang kamu lakukan dan yang pasti hubungan persaudaraan juga akan semakin erat.

So .. manfaatin kesempatan ini sebaik-baiknya !

Catatan : kamu tetap juga harus puasa, jangan mentang-mentang udah membukakan orang yang berpuasa dan insya Allah dapat pahala, kemudian kamu pikir ngga usah cape2 puasa. Itu pemikiran yang salah !